sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Paralympic Tokyo 2021 sebagai sumber inspirasi dan harapan

Seperti halnya Olimpiade, tiap atlet dari negara di seluruh penjuru dunia berjuang memperebutkan podium tertinggi di ajang Paralimpiade.

Clarissa Ethania
Clarissa Ethania Rabu, 25 Agst 2021 17:43 WIB
Paralympic Tokyo 2021 sebagai sumber inspirasi dan harapan

Setelah melakukan upacara pembukaan (opening ceremony) pada Selasa (24/8), kompetisi/pertandingan Paralimpiade Tokyo 2020 resmi dimulai hari ini. Sebanyak 4.521 atlet akan bertanding dalam 520 nomor dari 22 cabang olahraga. Seperti halnya Olimpiade, tiap atlet dari negara di seluruh penjuru dunia akan berjuang memperebutkan podium tertinggi di ajang Paralimpiade.

Paralimpiade sendiri merupakan ajang ataupun pesta olahraga internasional besar untuk para atlet penyandang disabilitas, yang diatur oleh Komite Paralimpiade Internasional (IPC). Tentunya ajang ini menjadi ajang yang tepat untuk menyaksikan hal-hal yang dianggap batasan oleh banyak orang, menjadi sebuah inspirasi bagi banyak orang. Dapatkan dikatakan Paralimpiade bukan hanya sekadar kompetisi. Lebih dari berlomba dan olahraga, Paralimpiade menunjukkan siapa yang lebih cepat (citius), lebih tinggi (altius), dan lebih kuat (fortius).

Melalui Paralimpiade dan atlet paralimpik, dapat memberikan kisah inspiratif, serta menunjukkan dan sebagai pengingat tentang apa yang mampu disumbangkan kaum penyandang disabilitas kepada masyarakat, yang kemudian menciptakan/menghadirkan kesetaraan dan rasa hormat. 

Begitu pula yang dilakukan oleh National Paralympic Committee (NPC) bersama para atlet paralimpik Indonesia. Dalam Paralimpiade Tokyo 2020 ini, Indonesia mengirimkan total 23 atlet. Tidak hanya berfokus pada prestasi para atlet, NPC juga mencoba untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap paralimpik. Dengan membagikan kabar terkini, dokumentasi kegiatan pelatihan, hingga prestasi-prestasi tingkat nasional maupun internasional, NPC berupaya mengikis stigma dan merubah pandang orang terhadap seorang penyandang disabilitas.

Eva Loeffler yang merupakan putri dari Ludwig Guttman yang dianggap sebagai "bapak" Paralimpiade berharap, acara olahraga terbesar di dunia untuk penyandang disabilitas yang diadakan di Tokyo di tengah pandemi coronavirus akan tetap menjadi sumber "inspirasi dan harapan."

Dalam wawancara online dengan Kyodo News, Eva Loeffler, yang merupakan wali kota desa atlet selama Paralimpiade 2012 di London, meyakini liputan luas yang mereka terima memiliki efek transformatif pada sikap publik terhadap penyandang disabilitas.

"Itu membuat banyak orang merasa berbeda tentang penyandang disabilitas, karena semuanya terlihat sangat normal. Dan Anda tidak melihat disabilitas. Anda melihat atlet," kata Loeffler.

Sedangkan menurut Presiden Komite Paralimpiade international (IPC) Andrew Parsons, Paralimpiade Tokyo 2020 dapat berpotensi sebagai game-changer. Bukan hanya tentang kesetaraan, namun juga bagaimana publik meneladani dan menarik inspirasi dari kaum difabel, khususnya dari kegigihan dalam melawan keterbatasan yang pantas memunculkan rasa hormat dari yang lain. Seperti halnya Ukun Rukendi (atlet para badminton asal Indonesia) yang harus berusaha dengan kuat untuk bisa menepak shuttlecock.

Sponsored

Meski begitu sudah mulai banyak orang yang masih banyak memiliki tugas untuk bisa menghadirkan kesadaran publik dalam melihat orang-orang penyandang disabilitas. Oleh karena itu, dengan kehadiran Paralimpiade ini, para atlet tak hanya bisa mendapatkan rasa hormat dan kesetaraan, tetapi juga mendapatkan jalinan persahabatan dan mendukung satu sama lain. 

Melalui Paralimpiade ini pula, menjadi satu ajang yang sumber inspirasi dan harapan, tak hanya kepada masyarakat luas, tetapi juga kepada para penyandang disabilitas agar tetap percaya diri, dan mengembangkan setiap kemampuan yang mereka miliki.

Sumber : Kyodo News

Berita Lainnya