sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Selangkah lagi Ahsan-Hendra "the Daddies" juara dunia

Pasangan ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan-Hendra Setiawan "The Daddies" selangkah lagi menjadi juara dunia BWF 2019.

Sukirno
Sukirno Minggu, 25 Agst 2019 03:46 WIB
Selangkah lagi Ahsan-Hendra

Pasangan ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan-Hendra Setiawan "The Daddies" selangkah lagi menjadi juara dunia BWF 2019.

Ahsan/Hendra memenangi pertarungan antar ganda putra Indonesia melawan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto pada semifinal Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis BWF, Sabtu (24/8).

Pada laga empat besar di St. Jakobshalle Basel, Swiss tersebut pasangan unggulan kedua Ahsan/Hendra menang 21-16, 15-21, 21-10.

Fajar/Rian memimpin hingga interval gim pembuka, ketika Hendra maupun Ahsan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri.

Namun setelah interval, pasangan peringkat dua dunia Ahsan/Hendra melaju dengan enam poin beruntun untuk memimpin 15-11.

Fajar/Rian tidak menyerah dengan mudah ketika Ahsan/Hendra sudah memimpin 20-13, mereka menambah tiga poin beruntun untuk mengejar, tapi selisihnya sudah terlalu jauh.

Akhirnya ganda putra dua kali juara dunia, Ahsan/Hendra merebut gim pembuka 21-16 dalam 14 menit.

Pola serupa terjadi pada awal gim kedua ketika Fajar/Arian kembali memimpin hingga interval 11-6. Namun kali ini mereka mempertahankan keunggulan mereka hingga akhir.

Sponsored

Ahsan/Hendra yang banyak melakukan kesalahan sendiri, antara lain beberapa kali pengembalian mereka menyangkut di net memberi kemenangan bagi Fajar/Rian.

Dalam pertandingan tanpa didampingi pelatih itu, unggulan keempat Ahsan/Hendra meningkatkan permainan dengan langsung menyerang dari awal. Sejak langsung 4-0, Ahsan/Hendra tidak terkejar lagi. Mereka menutup pertandingan dengan delapan poin beruntun.

"Secara keseluruhan kami tertekan, set pertama sudah unggul 11-9 tapi mereka bisa membalikkan keadaan. Kita banyak melakukan kesalahan juga," ujar Fajar seusai pertandingan.

Menurutnya, Ahsan dan Hendra bermain taktik dengan pukulan yang matang, sehingga tidak perlu banyak bergerak namun pukulannya menyulitkan lawan.

Sementara Ahsan menilai pertarungan perebutan tempat di final Kejuaraan Dunia itu tidak mudah. "Selaian adu teknis, juga adu mental. Sama-sama tidak mau kalah," ujarnya.

Adapun Hendra mengatakan saat kehilangan gim kedua itu, ia dan pasangannya sudah tertekan lebih dulu sehingga diserang terus menerus. "Pada gim ketiga kami berinisiatif untuk menyerang duluan sehingga lebih enak," kata tiga kali juara dunia itu, yakni pada 2007 bersama Markis Kido, serta 2013 dan 2015 bersama Ahsan.

Pada final mereka akan melawan pemenang pertandingan antara pasangan China unggulan kedua Li Jun Hui/Liu Yu Chen dengan pasangan Jepang unggulan 12 Takuro Hoki/Yugo Kobayashi yang berhadapan pada pertandingan terakhir Sabtu.

Pebulu tangkis ganda putri Indonesia Apriyani Rahayu (kiri) dan Greysia Polii. / Antara Foto

Medali perunggu

Sementara itu, ganda putra Indonesia Fajar/Rian mengaku tidak puas dengan permainan mereka dalam pertandingan semifinal Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis BWF 2019 meskipun mereka memastikan mendapat medali perunggu.

"Secara keseluruhan mungkin dapat perunggu, tapi tidak puas dengan hari ini, bukan karena kalahnya tapi dari permainan, kelasnya kayak jauh banget," ujar Fajar seusai pertandingan.

Fajar/Rian kalah oleh pasangan unggulan kedua Ahsan/Hendra dalam tiga gim 16-21, 21-15, 10-21

Fajar mengaku ia dan Rian tertekan sejak awal dan banyak melakukan kesalahan sendiri sehingga meskipun sempat memimpin 11-9 saat interval gim pertama, Ahsan/Hendra yang dijuluki "The Daddies" itu mampu membali keadaan dan memenangi pertandingan.

Saat bersamaan, ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu harus puas membawa pulang medali perunggu lagi setelah langkah mereka terhenti di babak semifinal Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis BWF 2019.

Pada pertandingan yang berlangsung Sabtu sore waktu setempat, ganda putri unggulan kelima itu kalah oleh pasangan Jepang unggulan pertama Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara 12-21, 19-21.

Ganda Jepang menekan sejak awal pertandingan membuat Greysia/Apriyani tertinggal sejak angka pertama.

Namun pasangan Indonesia bukan tidak memberi perlawanan. Smes-smes tajam baik dari Greysia maupun Apriyani beberapa kali tidak mampu dikembalikan lawannya, namun ganda Indonesia itu pun banyak melakukan kesalahan sendiri.

Gim pertama berakhir ketika pasangan Jepang memperoleh lima poin beruntun sejak memimpin 16-12.

Gim kedua berlangsung lebih ketat, Greysia/Apriyani beberapa kami menyamakan kedudukan hingga 10-10. Mereka juga bangkit ketika tertinggal 13-17 untuk memperkecil jarak angka menjadi 16-17 dan 19-20 namun gagal merebut gim tersebut.

"Mereka lebih main agresif daripada kita, dan hari ini kita tahu mereka punya tenaga yang kuat, smes yang kencang, kita tahu itu, kita mencoba leading tapi ya enggak bisa dengan tenaga kita, power, dan permainan kita, ya enggak bisa," kata Greysia seusia pertandingan.

Ia menyebutkan, sebenarnya penampilan agresif pasangan Jepang itu bisa diakali dengan permainan yang benar-benar bersih, tidak melakukan kesalahan dan tidak tegang.

"Bagaimanapun kita harus terima, ini yang kita capai selama ini, sebenarnya mau banget lebih," kata Greysia yang tahun lalu bersama Apriyani juga terhenti pada semifinal.

Kekalahan Greysia/Apriyani membuat Jepang memastikan final antar pemain mereka, setelah pasangan unggulan kedua Yuki Fukushima/Sayaka Hirota meraih tempat di final dengan menyisihkan ganda putri China unggulan tujuh Du Yue/Li Yin Hui 21-11, 21-17. (Ant)