logo alinea.id logo alinea.id

AHY: Tinggal 3 hari, Partai Demokrat tak mungkin keluar dari koalisi

AHY meminta calon presiden yang tengah bertarung dalam Pilpres 2019 menghargai kinerja pemimpin sebelumnya.

Kudus Purnomo Wahidin
| Kudus Purnomo Wahidin Minggu, 14 Apr 2019 00:33 WIB
AHY: Tinggal 3 hari, Partai Demokrat tak mungkin keluar dari koalisi

Komandan Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono atau biasa disapa AHY, menegaskan Partai Demokrat akan tetap berada dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur untuk mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pasalnya, kata AHY, tak ada pilihan lain bagi Partai Demokrat. Mengingat, tak ada waktu lagi untuk mengalihkan dukungan lantaran hari pencoblosan Pilpres 2019 hanya tinggal menghitung hari. 

“Tidak mungkin kami keluar dari koalisi, besok tiga hari lagi tinggal pemungutan suara,” kata AHY menanggapi pernyataan Prabowo yang membuat kader Partai Demokrat marah dan memilih walk out saat debat pilpres terakhir berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta pada Sabtu, (13/4).

Seperti diketahui, pada saat debat berlangsung calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, menyatakan jika pemimpin Indonesia sebelumnya dianggap salah dalam mengelola perekonomian nasional. Saat ditanya apakah dirinya tersinggung dengan pernyataan Prabowo itu, AHY enggan mengomentarinya lebih jauh.

Menurutnya, bagi para kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang tengah bertarung dalam Pilpres 2019 seharusnya menghargai kinerja pemimpin sebelumnya. 

Menurut AHY, pemimpin sebelumnya wajib diapresiasi oleh semua pihak. Apalagi jika dalam kebijakan yang dikeluarkannya ternyata dirasakan baik oleh masyarakat. Namun demikian, dia mengakui, memang masih ada pekerjaan yang belum tuntas di masa pemimpin sebelumnya. Itu karena terbentur masa kepemimpinan seorang presiden yang dibatasi atau diatur oleh undang-undang. 

“Tentu ada hal-hal yang belum tuntas, ada hal yang belum sempurna. Itulah tugas pemimpin selanjutnya untuk memperbaikinya. Artinya, yang sebaiknya kita inginkan para pemimpin terus menghargai para pendahulu dengan semangat menjadi lebih baik dari sebelumnya,” kata AHY. 

AHY mengatakan, kedua calon presiden baik nomor urut 01 atau 02, semestinya bersikap objektif dalam memandang kepemimpinan sebelumnya, bukan malah menyalahkan pekerjaan yang kurang atau belum tuntas dari pemimpin sebelumnya.

Sponsored

"Saya rasa kita harus melihat secara objektif. Setiap generasi kepemimpinan pasti telah melakukan berbagai capaian baik di bidang ekonomi, politik, keamanan, kesejahteraan rakyat dan sebagainya. Tentu ada perubahan dilakukan dari satu presiden ke presiden berikutnya, yang sudah baik lanjutkan, yang belum baik diperbaiki. Begitu seharusnya," kata AHY.