logo alinea.id logo alinea.id

Banjir hoaks jelang pemilu, Jokowi dan Prabowo jadi sasaran

Tercatat, ada 353 informasi hoaks yang beredar di tengah-tengah masyarakat selama 7 bulan terakhir

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Kamis, 28 Mar 2019 16:02 WIB
Banjir hoaks jelang pemilu, Jokowi dan Prabowo jadi sasaran

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan selama 7 bulan terakhir atau dari rentang Agustus 2018 hingga Februari 2019, jumlah penyebaran hoaks atau berita bohong meningkat pesat. Tercatat, ada 353 hoaks yang beredar di tengah-tengah masyarakat selama kurun waktu tersebut.

“Pada Agustus ada 25 informasi hoaks. Desember meningkat tiga kali menjadi 75. Januari meningkat tujuh kali menjadi 175. Februari sudah 353,” kata Menkominfo Rudiantara usai menghadiri acara seminar di Balai Kartini, Jakarta pada Kamis, (28/3).

Rudi menjelaskan, penyebaran hoaks meningkat dari sebelumnya hanya 7% menjadi 13%. Adapun hoaks yang beredar di dunia maya paling banyak terkait isu politik. Itu terjadi karena saat ini merupakan tahun politik dan menjelang pemilihan umum atau Pemilu 2019. 

“Hoaks yang menyebar itu bervariasi, mulai dari hoaks tentang Pak Joko Widodo, dan juga ada hoaks tentang Pak Prabowo,” tuturnya.

Adapun penyebaran hoaks tersebut paling banyak beredar di jejaring media sosial Facebook, Instagram dan pesan instan. Sedangkan di Twitter, penyebaran hoaks sudah semakin menurun.

"Paling banyak politik 23%, baru setelah itu agama dan hal lainnya," kata Rudi.

Menurut Rudi, modus para pelaku penyebar hoaks selalu sama. Mereka membuat akun media sosial baru. Kemudian memproduksi berita bohong dan mengunggahnya. Hoaks itu lalu didokumentasikan dengan cara screenshoot untuk kemudian disebarkan melalui pesan singkat. Setelah menyebarkan berita bohong tersebut, para pelaku langsung menghapus akun palsu media sosial yang mereka buat. 

"Ciri-ciri hoaks itu yang pertama tidak jelas siapa yang mengirim, karena suka diambil dari postingan yang akunnya tidak jelas juga," ujar dia.

Sponsored

Informasi hoaks itu pun, kata Rudi, kerap mengatasnamakan dari sebuah kelompok atau golongan tertentu. Dalam pesaanya, tak jarang dibubuhi suatu ajakan “ayo viralkan, atau ayo sebarkan”. Jika mendapat informasi yang seperti itu, Rudi mengimbau kepada masyarakat agar tidak meneruskannya.

"Jika menerima hal-hal seperti itu jangan diteruskan. Di samping itu menerima informasi hoaks saja kita rugi, karena saat membuka video otomatis pulsa kita tersedot karena harus membayarnya," ujarnya.

Untuk menanggulangi penyebaran berita bohong atau hoaks, Kemenkominfo selalu melakukan tindakan preventif dengan melakukan sosialisasi, menyelidiki informasi hoaks setiap harinya dan bekerja sama dengan kepolisian untuk menindak pelaku penyebaran hoaks.

Karena itu ia mengajak semua mahasiswa di kota itu untuk bersama-sama memberantas hoaks dengan tidak ikut menyebarkannya kepada sesama teman atau sekitarnya.