sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Benarkah Indonesia krisis BBM dan air bersih pada 2025?

Prabowo mengungkapkan segala permasalahan bangsa. Salah satu yang disinggung adalah masalah ketahanan energi dan air bersih.

Robi Ardianto Laila Ramdhini
Robi Ardianto | Laila Ramdhini Rabu, 02 Jan 2019 22:06 WIB
Benarkah Indonesia krisis BBM dan air bersih pada 2025?
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyampaikan ceramah kebangsaan akhir tahun di Hambalang, Bogor. Dalam ceramah yang diunggah di laman resmi Facebooknya itu, Prabowo mengungkapkan segala permasalahan bangsa. Salah satu yang disinggung adalah masalah ketahanan energi dan air bersih.

“Saya baru dari Jawa Tengah minggu lalu. Anggota-anggota kami mengatakan, mereka butuh air (bersih). Sebentar lagi di Indonesia, kalau tidak hati-hati, kita akan krisis air (bersih),” kata Prabowo, Minggu (30/12).

Prabowo pun menyinggung soal air bersih yang sulit didapat warga di Tanjung Priok dan air laut yang akan naik pada 2025. Menurutnya, rakyat di wilayah Tanjung Priok tidak dapat air bersih. Bahkan, orang yang secara keuangan berada juga harus membeli air bersih.

“PBB juga mengatakan, tahun 2025 pantai utara Tanjung Priok itu airnya akan sampai Bundaran HI. Berapa puluh ribu orang yang akan kehilangan rumah,” kata Prabowo.

Selain masalah krisis air bersih, mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) ini juga menyinggung ketahanan energi. Dalam hal ini ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).

“Tahun 2025 Indonesia akan impor 100% bahan bakar minyak. Kita habis. Dua juta barel per hari kita impor,” ujar Prabowo. “Kalau tidak dipersiapkan dari sekarang, tahun 2025 kita krisis air (bersih), air laut naik, juga krisis bahan bakar.”

Namun, benarkah pernyataan Prabowo itu?

Masalah BBM

Sponsored

Karyawan melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax di salah satu SPBU di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (08/12/2018). Antara Foto.

Menanggapi apa yang dilontarkan Prabowo dalam ceramah akhir tahunnya, juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Tubagus Ace Hasan Syadzily mengatakan, pernyataan tersebut hanya berupa asumsi yang tak berdasar. Sebab, kata dia, tak memuat bukti-bukti yang relevan.

“Prabowo kembali menunjukkan sikap pesimisnya dalam melihat kemampuan bangsa ini. Bahkan, lagi-lagi Prabowo berbicara pesimisme tanpa fakta, tanpa solusi pula,” kata Ace, ketika dihubungi reporter Alinea.id, Rabu (2/1).

Faktanya, merujuk data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), sejak 2015 konsumsi BBM nasional terus naik hingga 2017. Pada 2015, jumlah konsumsi BBM mencapai 73,7 juta kiloliter per tahun, atau setara dengan 436,3 juta barel per tahun.

Dengan kata lain, dalam sehari konsumsi nasional mencapai 1,2 barel. Konsumsi ini disumbang dari jenis BBM umum (JBU) 46,7 juta, jenis BBM khusus penugasan (JBKP) 12,2 juta, dan jenis BBM tertentu (JBT) 14,8 juta.

Sementara itu, pada 2016 mencapai 71,4 juta kiloliter (450 juta barel) per tahun, atau setara 1,2 juta barel per hari. Konsumsi ini disumbang dari JBU 48,6 juta, JBKP 12,2 juta, dan JBT 10,6 juta.

Terakhir, pada 2017 konsumi BBM mencapai 77,4 juta kiloliter barel (486,8 juta barel) per tahun, atau setara 1,3 juta barel per hari. Konsumsi ini terdiri atas JBU 55,4 juta, JBKP 7 juta, serta JBT 15 juta.

Menurut Direktur Eksekutif Research Institute for Mining and Energy Economics (ReforMiner Institute) Komaidi Notonegoro, saat ini kapasitas produksi BBM nasional hanya mencapai 800.000 barel per hari.

Dari jumlah tersebut, yang bisa dipakai untuk konsumsi nasional hanya 60%, atau maksimal 500.000 barel per hari. Dengan demikian, masih ada kekurangan BBM nasional sekitar 800.000 hingga 1 juta barel per hari.

“Saat ini saja sudah bisa dibilang kita mengalami krisis BBM,” kata Komaidi, saat dihubungi, Rabu (2/1).

Selanjutnya, Komaidi mengatakan, ada dua masalah besar yang dihadapi saat ini. Pertama, tidak adanya cadangan energi baru yang ditemukan dalam 15 tahun terakhir. Menurut Komaidi, hal ini disebabkan biaya yang besar, teknologi tinggi, dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk melakukan eksplorasi cadangan minyak bumi.

“Kemampuan APBN terbatas. Kalaupun diserahkan ke BUMN akan sulit, karena terbentur dengan regulasi. Sehingga, tidak bisa terlalu ekspansif,” ujar dia.

Masalah kedua, lanjut Komaidi, energi bumi yang tersedia sudah semakin berkurang. Saat ini tambang minyak bergeser ke arah timur Indonesia. Padahal, bagian timur sangat sulit dieksplorasi, karena terkait infrastruktur yang tidak memadai dan kontur alam yang sulit.

“Pada 2025, diprediksi ketersediaan BBM hanya mencapai 400.000 hingga 500.000 barel per hari,” kata dia.

Dengan demikian, kata Komaidi, pemerintah harus segera melakukan langkah strategis untuk mengatasi krisisi BBM di dalam negeri.

Berkaca kepada Jepang dan Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam memadai, pemerintah di sana harus bekerja keras untuk menggenjot pendapatan di sektor lain. Sehingga mampu menyediakan BBM untuk masyarakatnya.

“Mereka tidak punya sumber daya alam, tapi mampu membeli. Kalau kita sekarang harus memaksimalkan sumber daya alam yang masih ada. Tapi, jika cadangan sudah menipis, harus segera dicarikan solusi baru,” ujar Komaidi.

Berita Lainnya