logo alinea.id logo alinea.id

Cek fakta: Klaim Jokowi soal konflik di negara lain

Apakah benar Indonesia dipercaya untuk membantu menyelesaikan konflik di negara lain?

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Sabtu, 30 Mar 2019 23:51 WIB
 Cek fakta: Klaim Jokowi soal konflik di negara lain

Dalam debat capres ke-4, Joko Widodo menyatakan bahwa Indonesia diberi kepercayaan untuk membantu menyelesaikan konflik di negara lain.

"Diplomasi kita sekarang ini diberi kepercayaan untuk menyelesaikan yang berkaitan dengan konflik dan perang di negara lain," kata Jokowi dalam debat capres ke-4 yang diselenggarakan pada Sabtu (30/3) di Shangri-La Hotel, Jakarta.

BENAR

Dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Afghanistan Salahuddin Rabbani pada Jumat (15/3), Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memaparkan tiga hal yang dapat Indonesia lakukan sebagai upaya kontribusi dalam proses perdamaian Afghanistan.

Pertama, Indonesia dapat berkontribusi dalam bidang pembangunan kepercayaan atau trust building.

"Trust building merupakan elemen yang sangat penting dalam proses perdamaian. Oleh karena itu, pada 2018, Indonesia menjadi tuan rumah dari Trilateral Ulama Meeting. Indonesia siap memberikan fasilitasi terhadap hal-hal atau kegiatan yang terkait dengan trust building," tutur Retno dalam konferensi pers bersama dengan Menlu Rabbani di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta.

Sementara itu, Menlu Rabbani menyatakan pertemuan trilateral yang bertempat di Bogor itu ditindaklanjuti dengan konferensi ulama di Jeddah, Arab Saudi, yang diselenggarakan oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

"Pertemuan para ulama pada Juli 2018 itu sangat penting sebagai proses pendukung perdamaian di Afghanistan. Mereka mengeluarkan deklarasi akhir yang mendukung proses perdamaian Afghanistan, menyerukan Taliban untuk mengakhiri kekerasan terhadap rakyat, serta meminta agar mereka menerima tawaran perdamaian yang diberikan oleh pemerintah Afghanistan," kata dia.

Sponsored

Kedua, merupakan peace & state building. Indonesia menyampaikan kesiapan untuk menawarkan sejumlah program pengembangan kapasitas dan beasiswa kepada warga Afghanistan.

Dalam pertemuan kali ini, kedua menlu membahas mengenai 100 beasiswa yang Indonesia tawarkan untuk mahasiswa yang hendak belajar di bidang minyak, gas, dan pertambangan.

Selain itu, ada pula pelatihan untuk para diplomat Afghanistan, serta Indonesia siap menggelar diskusi untuk berbagi pengalaman mengenai penyelenggaraan pemilu. Afghanistan akan menggelar pemilu pada Juli 2019.

"Persoalan pemberdayaan perempuan juga kita anggap penting, oleh karena itu, salah satu program pengembangan kapasitas yang Indonesia tawarkan mencakup isu women empowerment," lanjut Menlu Retno.

Ketiga, Indonesia dapat berkontribusi melalui forum internasional, termasuk PBB.

"Tadi pagi, saya berkomunikasi dengan perwakilan Kemlu RI di New York, Amerika Serikat, dan saat ini Indonesia bersama Jerman tengah merumuskan resolusi DK PBB mengenai perpanjangan mandat UN Assistance Mission in Afghanistan (UNAMA)," jelasnya.

Ketiga hal itu, menurut Retno, menegaskan komitmen dan dukungan penuh Indonesia bagi perdamaian di Afghanistan.

Pada 29 Januari, Jokowi berkunjung ke Afghanistan. Lawatannya tercatat sebagai kunjungan kedua oleh Presiden RI ke Afghanistan setelah kedatangan Presiden Sukarno pada 1961. 

Indonesia juga terus berupaya berkontribusi agar isu Rakhine State mengalami kemajuan.

Dalam KTT ASEAN di Singapura bulan November 2018, Indonesia mengusulkan agar Asean Coordinating Centre For Humanitarian Assistance (AHA Centre) dan Sekretariat ASEAN mendapatkan akses dan dapat berkontribusi lebih banyak, terutama dalam mempersiapkan repatriasi yang sukarela, aman dan bermartabat. Usulan Indonesia tersebut ditanggapi secara positif oleh negara anggota ASEAN.

Pada Kamis (28/3), Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menerima kunjungan Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Myanmar Christine Burgener untuk membahas mengenai perkembangan krisis Rohingya.

"Kunjungan itu menunjukkan pengakuan PBB terhadap peran dan kontribusi Indonesia dalam membantu penyelesaian masalah di Rakhine State," jelas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir atau yang akrab disapa Tata dalam konferensi pers pada Kamis (28/3).

Tim AHA Centre beberapa pekan lalu telah melaksanakan preliminary need assessment. Laporan AHA Centre, menurut Tata, akan segera dipublikasikan untuk umum.

AHA Centre merupakan organisasi di ASEAN yang dibentuk sebagai upaya untuk membantu memantau dan melancarkan proses repatriasi para pengungsi. 

Cek fakta, RI dipercaya selesaikan konflik di negara lain? Alinea.id.