sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Debat Kennedy-Nixon pada 1960 dan pengaruh televisi

Debat antara Kennedy dan Nixon merupakan debat kandidat presiden pertama di dunia yang disiarkan televisi.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Kamis, 24 Jan 2019 09:29 WIB
Debat Kennedy-Nixon pada 1960 dan pengaruh televisi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Great debate

Pada 1947, Kennedy dan Nixon pertama kali bertemu dalam debat terbuka di sebuah hotel di McKeesport. Alan Schroeder dalam buku Presidential Debates: Risky Business on the Campaign Trail (2016) menulis, saat itu mereka berdebat mengenai pokok-pokok hubungan pekerja dan manajemen. Nixon menang dalam debat tersebut.

Hingga akhirnya mereka bersua di depan kamera televisi pada 26 September 1960, dalam Great Debate, untuk menyampaikan gagasan brilian mereka mengatasi masalah domestik dan internasional Amerika Serikat.

Debat Kennedy-Nixon pada 1960 berlangsung empat putaran. Debat pertama diadakan pada 26 September 1960 di Chicago, debat kedua berlangsung pada 7 Oktober 1960 di Washington. Kemudian, debat ketiga dihelat pada 13 Oktober 1960, berlangsung jarak jauh, Kennedy di New York dan Nixon di Los Angeles. Debat penutup diadakan pada 21 Oktober 1960 di New York.

Seluruh rangkaian debat ini selalu dimoderatori jurnalis senior Amerika Serikat. Dalam debat pertama, moderatornya adalah Howard Kingsbury Smith. Debat kedua, dimoderatori jurnalis televisi NBC News Frank McGee.

Debat ketiga, giliran Bill Shadel dari ABC News yang menjadi moderator. Dan, debat terakhir dimoderatori Quincy Howe dari ABC News. Rangkaian debat kedua hingga keempat disiarkan C-SPAN.

Debat Kennedy-Nixon yang keempat di New York. (commons.wikimedia.org/Associated Press)

Pada 1960, Amerika Serikat menghadapi masalah serius di dunia internasional. Saat itu, dikutip dari artikel “The Kennedy-Nixon Debates” dalam History.com, 21 September 2010, negara adidaya tersebut tengah terlibat Perang Dingin dengan Uni Soviet. Negara komunis tersebut baru saja memimpin perlombaan menggapai antariksa, dengan meluncurkan satelit Sputnik.

Sponsored

Selain itu, muncul rezim revolusioner Fidel Castro di Kuba, yang bisa saja meningkatkan penyebaran komunisme di belahan dunia Barat. Ada pula masalah dalam negeri, seperti perjuangan hak-hak sipil dan desegregasi (penghapusan pemisahan yang bersifat rasial). Maka, dibutuhkan presiden yang punya posisi kuat.

Dua calon presiden memberikan pemaparan yang baik tentang keamanan nasional, ancaman komunisme, kebutuhan untuk memperkuat militer, dan pentingnya membangun masa depan bagi Amerika.

Dalam debat pertama, setiap kandidat diberikan waktu untuk memberikan pernyataan akhir.

"Kurasa sudah saatnya Amerika mulai bangkit lagi," kata Kennedy.

Kennedy membuat semacam sketsa sebuah negara yang kehilangan ruhnya, di bawah pemerintahan Republik. Amerika jatuh dalam retorika Perang Dingin dengan Uni Soviet. Dia berujar, Amerika harus memanfaatkan potensi ekonominya.

Nixon kemudian menyindir Kennedy.

“Partai Republik membangun lebih banyak sekolah, rumah sakit, dan jalanan daripada pemerintah Demokrat sebelumnya,” kata Nixon.

Kennedy membalasnya dengan cerdas.

“Pertanyaan di hadapan kita semua adalah bisakah kebebasan di generasi selanjutnya terwujud, atau apakah komunis akan berkuasa? Dan, jika kita memenuhi tanggung jawab, saya pikir kebebasan akan terwujud,” ujar Kennedy.

Berita Lainnya