logo alinea.id logo alinea.id

Hasil analisis survei 23 lembaga, Jokowi-Ma'ruf diprediksi bakal berjaya

Dari hasil analisis, pasangan Jokowi-Ma'ruf masih unggul dengan rata-rata elektabilitas sebesar 52,86%.

Rakhmad Hidayatulloh Permana
Rakhmad Hidayatulloh Permana Kamis, 11 Apr 2019 16:16 WIB
Hasil analisis survei 23 lembaga, Jokowi-Ma'ruf diprediksi bakal berjaya

Lembaga kajian kebijakan Para Syndicate merangkum dan menganalisis hasil-hasil survei yang dirilis 23 lembaga merekam elektabilitas pasangan capres-cawapres pada periode Maret-April 2019. Dari analisis Para Syndicate, diketahui grafik elektabilitas kedua pasangan calon terus naik.

"Kami mengumpulkan hasil survei dari 23 lembaga survei. Lalu menganalisisnya dengan regresi linear. Hasilnya, gradiennya sama 0,0002x. Cenderung sama. Artinya, dinamika elektabilitas kedua paslon sama-sama naik," ujar Ari di Kantor Para Syndicate, Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (11/4). 

Mayoritas lembaga survei yang hasilnya dianalisis Para Syndicate tergabung dalam Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) dan Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (Aropi) semisal Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Populi Center, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Hasil lembaga survei asal Australia Roy Morgan juga turut dianalisis. 

Hasil analisis menunjukkan pasangan Jokowi-Ma'ruf masih unggul dengan elektabilitas rata-rata di atas 50%. "Rata-rata survei, paslon 01 masih unggul (dengan elektabilitas) sebesar 52,86% dan paslon 02 sebesar 34,51%. Lalu, (angka) undecided (voters) sebanyak 12,56%," paparnya. 

Sponsored

Menurut Ari, unggulnya pasangan Jokowi-Ma'ruf itu tak bakal berubah hingga pemungutan suara pada 17 April mendatang. "Apabila tidak ada kejadian luar biasa yang bisa menggerus elektabilitas," kata dia. 
 
Meskipun elektabilitas kedua paslon dinamis, analis politik Exposit-Strategic, Arif Susanto menilai, kampanye keduanya cenderung minim gagasan. "Masa kampanye ditandai oleh tingginya greget politik, tetapi hal ini tidak dibarengi kontestasi gagasan politik," kata dia. 

Arif juga mengkritik strategi kampanye Prabowo-Sandi. Menurut Arif, sebagai pasangan penantang, pasangan nomor urut 02 itu terlalu fokus mengkritik pelemahan lembaga negara. 

"Oposisi tidak banyak melakukan kritik terhadap kelemahan pemerintah dan mengajukan alternatif kebijakan, yang terjadi justru pelemahan kepercayaan terhadap lembaga-lembaga negara," ujarnya.

 Prabowo dan halusinasi kuasa

Prabowo dan halusinasi kuasa

Kamis, 18 Apr 2019 20:53 WIB
Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Kamis, 18 Apr 2019 14:48 WIB