logo alinea.id logo alinea.id

Ma'ruf dan Sandi dinilai tersandera citra diri

Kedua cawapres lebih cenderung sibuk menonjolkan citra diri masing-masing. 

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Senin, 18 Mar 2019 20:47 WIB
Ma'ruf dan Sandi dinilai tersandera citra diri

Penampilan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 Ma'ruf Amin dan cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno di debat ketiga Pilpres 2019 dinilai miskin gagasan substantif. Kedua cawapres lebih cenderung sibuk menonjolkan citra diri masing-masing. 

Demikian diungkapkan Dekan Fakultas Hukum Universitas Nasional Ismail Rumadan dalam diskusi bertajuk "Evaluasi Debat Ketiga, Sudahkah Memenuhi Ekspetasi Pemilih?" di Restoran Tjkini Lima, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (18/3).

Ismail mencontohkan miskinnya perdebatan kedua cawapres ihwal tema sosial budaya. Padahal, lanjut dia, banyak persoalan-persoalan terkait sosial budaya yang membutuhkan solusi konkret dari pemerintah sekarang dan ke depan. 

"Bayangin eksistensi adat dan budaya itu diakui lho oleh masyarakat. Seharusnnya adat dan budaya itu dapat diperkuat dengan memberikan kepastian hukum. Debat semalam saya melihat itu belum muncul," kata Ismail. 

Secara spesifik, Ismail menyinggung berlarut-larutnya pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Masyarakat Adat. Padahal, UU itu dijanjikan Jokowi-JK sejak masa kampanye Pilpres 2014. Ia khawatir, jika pemimpin yang akan datang tidak serius terhadap persoalan itu, maka akar budaya Indonesia bakal goyah. 

Lebih jauh, ia menilai kedua cawapres cenderung lebih sibuk mempertahankan citra diri yang telah terbangun saat ini. "Kalau dari sisi citra itu terpenuhi ya. Tetapi, saya melihat dari sisi substansi itu belum menjawab permasalahan, soal kesehatan, soal pendidikan itu banyak sekali (persoalannya)," ucapnya.

Pernyataan senada diungkapkan CEO Makna Informasi Rahmat Yananda. Ia menilai kedua cawapres seolah tersandera citra diri dalam adu gagasan di debat itu. "Ma'ruf Amin sosok agamis, dan Sandiaga Uno dengan sosok milenialnya," imbuhnya. 

Ia mengatakan citra yang dibangun itu merupakan cerminan dari target segmentasi suara pemilih yang diburu keduanya. Upaya merawat citra diri itu bahkan sudah dibangun sebelum ajang debat ketiga dimulai.

Sponsored

"Misalnya kan Ma'ruf sebelum debat dia adakan doa bersama dan segala macam. Kalau Sandi kan main basket karena basket itu kan olahraga milenial. Jadi, kegiatan yang mereka lakukan itu saling mengokohkan target sasarannya," kata Rahmat.

Rahmat pun menilai kedua pasangan cawapres itu belum bisa mengeksplorasi secara lebih detail gagasan-gagasan dan program-program kerja yang bakal mereka kerjakan dalam lima tahun ke depan. Padahal, penjelasan program secara detail lebih dibutuhkan publik. 

Sandi misalnya, menurut Rahmat, tak mampu menjelaskan secara konkret persoalan-persoalan usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) secara komprhensif dari hulu ke hilir. Di sisi lain, solusi Ma'ruf ihwal penanganan defisit BPJS Kesehatan pun masih mengawang-awang. 

"Jika terpilih nanti, mereka kan dikasih jatah lima tahun dengan anggaran yang sudah disiapkan. Kalau mendapat jatah politik untuk memutuskan dan mengeksekusi program, harus jelas pemakaiannya seperti apa. Lima tahun itu mau ngapain?" ucapnya.