logo alinea.id logo alinea.id

Mencermati gaya komunikasi capres dan cawapres

Jokowi selalu tampil apa adanya, dan blusukan ke tengah-tengah masyarakat. Sedangkan Prabowo, menampilkan retorika tegas saat berpidato.

Annisa Saumi Senin, 07 Jan 2019 20:55 WIB
Mencermati gaya komunikasi capres dan cawapres

Gestur dan ekspresi nonverbal

Selain gaya komunikasi verbal, pasangan capres dan cawapres juga memiliki gaya komunikasi nonverbal yang khas. Pakar gestur dan pendeteksi kebohongan Handoko Gani mencoba menganalisis beberapa video di Youtube, menyoal gaya komunikasi dan ekspresi para pasangan capres dan cawapres ini.

Dalam video “Detik-detik Presiden Jokowi ingin cari dan ‘tabok’ penyebar hoaks”, Handoko mengatakan, Jokowi terbukti sangat marah ketika dirinya dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), dan dikaitkan dengan pemimpin PKI DN Aidit.

Hal itu dilontarkan Jokowi ketika berpidato dalam acara pembagian sertifikat lahan kepada 1.300 warga di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, pada 23 November 2018.

Ekspresi wajah Joko Widodo saat berpidato menyampaikan kemarahannya, karena dituduh PKI. (Youtube).

“Namun, saat membicarakan soal keinginan ‘mau saya tabok’, tidak ditemukan kemarahan,” kata Handoko saat dihubungi, Senin (7/1).

Soal Jokowi kerap dituduh PKI tersebut, cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno pun berkomentar pada 8 Desember 2018. Pernyataan Sandi ada di video Youtube bertajuk “Soal isu PKI, Sandiaga Uno bersimpati kepada Jokowi”.

Dalam analisis Handoko, ekspresi wajah Sandi menunjukkan rasa prihatin kepada Jokowi atas tuduhan PKI.

“Namun, saya luruskan, alis berkerut seperti itu bukan tanda sedih,” kata Handoko, merujuk video yang dianalisisnya. “Tidak ada patokan universal bahwa sedih itu seperti demikian. Dan satu lagi, prihatin itu tidak memiliki tanda universal. Artinya, variatif setiap orang,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Handoko mengakui, dirinya tak bisa menyatakan Sandi benar-benar prihatin. “Perlu indikator atau alat ukur lainnya dalam menghitung prihatin. Itupun jika ada,” kata Handoko.

Handoko pun menganalisis ekspresi wajah dan gestur capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Dalam video bertajuk “Prabowo: Kalau kita kalah, negara bisa punah” yang dilontarkan Prabowo saat pidato di acara Konfernas Partai Gerindra di Sentul International Convention Center, Bogor, pada 17 Desember 2018 itu, Handoko mengakui, tak bisa melakukan analisis ekspresi wajah dan gestur secara optimal.

“Apapun emosi yang dirasakan Prabowo saat berpidato berapi-api tersebut, kurang relevan untuk dianalisis,” ujar Handoko.

Alasannya, saat Prabowo mengatakan “rakyat ingin pemerintah yang bersih dan tidak korupsi,” Handoko mengatakan, hal tersebut perlu diverifikasi. Demikian juga perkataan Prabowo yang menyebutkan “elit yang berkuasa puluhan tahun, sudah terlalu lama mereka memberi arah yang keliru.”

“Kalaupun Prabowo marah dalam pidato tersebut, kita tidak bisa membuat hipotesa kenapa Prabowo marah? Apakah kemarahannya benar? Dan sebagainya,” kata Handoko.

Terakhir, dalam pidato bertajuk “Pidato Ma’ruf Amin ucapkan ‘buta dan budek’, Sandiaga berkomentar”, Handoko melihat, ekspresi Ma’ruf memang terlihat menunjukkan kesungguhan dalam kata-katanya itu.

Sebagai catatan, cawapres nomor urut 01 tersebut mengatakan hal itu saat memberikan sambutan dalam acara deklarasi Barisan Nusantara pada 10 November 2018. Ketika itu, dia berujar, hanya orang “buta” dan “budek” yang tak bisa melihat prestasi pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla.

Lantas, siapakah yang lebih meyakinkan dari gaya berkomunikasi para pasangan capres dan cawapres ini?