sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Momen debat pilpres: Taktik klasik Sandi dan ketusnya Jokowi

Seperti debat-debat sebelumnya, Sandiaga kembali mencatut nama warga kecil di panggung debat.

Eka Setiyaningsih Christian D Simbolon
Eka Setiyaningsih | Christian D Simbolon Minggu, 14 Apr 2019 06:17 WIB
Momen debat pilpres: Taktik klasik Sandi dan ketusnya Jokowi

Seperti pada debat-debat sebelumnya, calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno kembali membawa keluhan masyarakat kecil ke panggung debat terakhir Pilpres 2019. Dalam adu cerdas dengan pasangan Jokowi-Ma'ruf itu, setidaknya tercatat ada tiga nama warga yang dicatut Sandi. 

Yang pertama ialah ibu Nurjanah dari Langkat, Sumatera Utara. Saat membuka debat, Ibu Nurjanah dipakai Sandi untuk memperkuat pemaparan visi misi Prabowo-Sandi. Sandi menyebut Nurjanah mengeluhkan dagangannya yang sepi di pasar tradisional tempat ia membuka lapak.

Kedua, Surahman dari Sidrap, Sulawesi Selatan. Nama itu digunakan Sandi untuk 'bicara' soal entrepeneurship. Yang terakhir, Sandi mencatut nama Ibu Mia yang tinggal di Tegal, Jawa Tengah. Kepada Sandi, sang ibu mengeluhkan kebijakan pemerintah yang terus meningkatkan tarif dasar listrik. 

"Ibu Mia di Tegal mengeluhkan tagihan listriknya tadinya Rp300-400 ribu sekarang sudah di atas Rp1 juta. Ini yang harus kita selesaikan. Bersama Prabowo-Sandi kita akan turunkan harga listrik," ujar Sandi di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Sabtu (13/4).

Nama Ibu Mia dicatut Sandi saat tengah membahas defisit perdagangan dengan Jokowi pada segmen ketiga debat. Menurut Sandi, defisit perdagangan dan 'keberpihakan' pemerintah terhadap impor ternyata tidak membuat harga-harga kebutuhan bahan-bahan pokok turun.

"Mestinya harga-harga bahan pokok kita terjangkau, murah. Mestinya harga energi yang dikeluhkan oleh ibu-ibu di seluruh Indonesia (turun). Saya selalu tanya, 'Harga listrik turun apa naik?' Naik," ujar pendamping Prabowo  Subianto itu. 

Diberi kesempatan menanggapi oleh moderator, Jokowi menyindir taktik Sandi yang kerap membawa-bawa keluhan warga ke ruang debat. Menurut Jokowi, tidak tepat jika Sandi membahas persoalan-persoalan ekonomi makro dengan berbasis pengalaman perseorangan. 

"Tidak bisa seperti Bapak (Sandiaga) bilang ibu ini, ibu ini. Ini ekonomi makro, tidak bisa orang per orang dijadikan patokan. Tidak bisa itu," ujar Jokowi. 

Sponsored

Dijelaskan Jokowi, mengeluarkan kebijakan yang berpengaruh pada neraca perdagangan harus berbasis data dan survei. Angka-angka permintaan dan penawaran pun harus diperhitungkan secara tepat. 

"Tidak mungkin kita melakukan kebijakan berdasarkan satu atau dua tiga orang yang menyampaikan keluhan kepada Bapak. Sering Bapak sampaikan sebagai contoh terus. Saya kira dalam mengelola ekonomi makro tidak bisa seperti itu," tutur Jokowi. 

Seolah sedang 'diajari' Jokowi soal ekonomi makro, Sandi tampak terperangah. Para pendukung Prabowo-Sandi pun terdengar sempat protes karena 'semprotan' Jokowi terkesan menyerang personal. Dengan lambaian tangan, Sandi sigap menenangkan para pendukungnya. 

Di segmen kelima, Sandi merespons cibiran Jokowi tersebut. Sandi menjelaskan, nama-nama yang ia singgung di debat itu ialah tokoh-tokoh nyata yang ia temui dari kunjungan ke sekitar 1.550 titik di Indonesia saat berkampanye. 

"Secara agregat itu yang disampaikan mereka, bahwa ibu-ibu kita itu mengeluh bahwa harga-harga bahan pokok mahal. Ini merupakan fakta. Mungkin di atas kertas atau di atas meja, semua yang diterima angkanya baik-baik saja. Tapi, itu yang tidak saya temukan begitu saya mendengar dari masyarakat," tuturnya.

Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Ma'ruf Amin mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4). /Antara Foto

Cibiran Jokowi bikin malu Sandi

Cibiran Jokowi dan respons Sandi disoroti pakar gesture Monica Kumalasari. Menurut Monica, muka Sandi terlihat memerah saat Jokowi menyinggung kebiasaannya mencatut nama warga dan keluhan mereka untuk jadi bahan debat. 

"Sandi malu karena memang akhirnya (kena) tegor. Cara yang ditunjukkan (Jokowi) enggak bisa sebagai negarawan lihat dari komplain satu orang saja," ujar Monica saat dihubungi Alinea.id di Jakarta, Sabtu (13/4) malam.

Ini bukan kali pertama Sandi menyeret nama rakyat jelata ke panggung debat. Dalam debat antarcawapres pada medio Mei lalu, Sandi sempat menyinggung nama Ibu Liswati yang tinggal di Sragen. Ibu Liswati, disebut Sandi, ialah pasien kanker payudara yang tidak lagi dilindungi BPJS pengobatannya. 

Selain ibu Lis, Sandi juga sempat mempopulerkan nama Salsabila pada debat berhadapan dengan Ma'ruf itu. Salsabila ialah remaja SMA asal Pamekasan yang diklaim Sandi kerap mengalami stres karena beratnya kurikulum di sekolahnya. 

Saat 'mencibir' kebiasaan Sandi mencatut nama warga, intonasi suara Jokowi terdengar naik. Menurut Monica, gesture Jokowi saat mengkritik taktik klasik Sandiaga itu menunjukkan puncak kegusaran sang petahana. 

"Ini memang yang ditunggu. Dari dulu-dulu Pak Sandi selalu mengambil contoh mikro semisal Mia dari Tegal, Surahman dari Sulawesi, Salsabila, dan lain-lain. Nah, Jokowi enggak sabar. Kenapa ambil contohnya selalu yang mikro sih," ujar dia. 

Persepsi publik

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia (IPI) Burhanuddin Muhtadi menilai, Sandi menggunakan Ibu Nurjanah dan Ibu Mia sebagai contoh kasus untuk melawan penguasaan data Jokowi. 

"Pak Jokowi selalu bicara soal data, lalu ekonomi makro, tapi strategi Sandi adalah menurunkan itu ke soal hidup susah," ujar dia dalam sebuah bincang-bincang terkait debat yang disiarkan TV One. 

Meskipun data yang dipaparkan Jokowi bisa membangun kredibilitas, Burhanuddin mengatakan, belum tentu Jokowi bakal dipersepsikan positif oleh publik. Menurut dia, justru Sandi yang potensial meraup sentimen positif dari audiens.

"Sandi bisa membangun kedekatan dengan persoalan-persoalan yang dialami masyarakat. Itu persepsi yang terbangun. Ini yang harus diperhatikan oleh politisi. Persepsi itu penting," ujarnya.