logo alinea.id logo alinea.id

Orang bola di lapangan pemilu

Nama pesepakbola tenar dimanfaatkan untuk meraih suara dalam pemilu.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Senin, 11 Feb 2019 17:32 WIB
Orang bola di lapangan pemilu

Nama diklaim?

Kurang lebih sebulan sebelum pencoblosan untuk memilih anggota Konstituante, awal November 1955, klub asal Uni Soviet, Lokomotif, datang ke Indonesia. Entah kedatangan mereka karena rayuan PKI atau bukan, yang jelas Harian Rakjat, koran yang terafiliasi dengan PKI, memberitakan dari awal mereka datang hingga mereka kembali ke Soviet.

PSSI A berhasil kalah dengan skor tak telak, hanya 1-3, melawan Lokomotif dari Uni Soviet. (Harian Rakjat, 25 November 1955).

Di Indonesia, Lokomotif bertanding dengan sejumlah klub dan tim nasional. Lawan pertama mereka, Persija, terjungkal dengan skor telak 0-5, kemasukan 3 gol dalam waktu 5 menit (Harian Rakjat, 7 November 1955).

Klub-klub berikutnya, dibantai Lokomotif. PSP Padang, dilumat 0-7 (Harian Rakjat, 11 November 1955), PSMS Medan digasak 0-9 (Harian Rakjat, 14 November 1955), PSSI B dibantai 0-9 (Harian Rakjat, 18 November 1955), dan Persebaya Surabaya kalah 0-4 (Harian Rakjat, 21 November 1955).

Perlawanan baru datang dari PSSI A alias timnas sepak bola senior Indonesia. Mereka mampu mencetak sebiji gol, meski kalah 1-3 (Harian Rakjat, 25 November 1955). Pada pertandingan ini, Ramlan tak main. Namun ada nama Witarsa, yang disebut-sebut sebagai bintang lapangan—bersama Saelan dan Lion Houw—pada laga itu.

Di sisi lain, dalam helatan Pemilu 1955, 4 partai politik besar menang, yakni Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Partai Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama, dan PKI. Partai-partai politik kecil di bawah mereka pun dapat kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Daftar nama-nama anggota DPR pada 1955. (Parlaung, Hasil Rakjat Memilih Tokoh-tokoh Parlemen Republik Indonesia (Hasil Pemilihan Umum Pertama 1955) (1956))

Menurut buku Pemilu Indonesia dalam Angka dan Fakta tahun 1955-1999, PNI mendapatkan 57 kursi, Masyumi 57 kursi, NU 45 kursi, PKI 39 kursi, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) 8 kursi, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 8 kursi, Partai Katolik 6 kursi, Partai Sosialis Indonesia (PSI) 5 kursi, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) 4 kursi, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) 4 kursi, Partai Murba 2 kursi, dan lain-lain 23 kursi.

Menariknya, merujuk buku Parlaung, Hasil Rakjat Memilih Tokoh-tokoh Parlemen Republik Indonesia (Hasil Pemilihan Umum Pertama 1955) (1956), dalam daftar nama yang melenggang ke DPR sebanyak 262 orang, tak ada nama dua punggawa timnas Indonesia, Ramlan dan Witarsa. Begitu pula Jacub Jahja, tak ada di tabel nama-nama anggota DPR yang sudah dilantik itu.

Ada tiga nama orang bola pada Pemilu 1955 yang diklaim sebagai calon legislatif mereka.

Bisa jadi, nama-nama orang bola tersebut diklaim PKI untuk meraih dukungan publik dan meraup suara di Pemilu 1955. Terlebih, setelah anggota DPR dan Konstituante dilantik, toh Witarsa masih bermain sebagai pesepakbola aktif. Dan, jika mereka sudah masuk DPR, buat apalagi mereka bermain sepak bola?