logo alinea.id logo alinea.id

Orang bola di lapangan pemilu

Nama pesepakbola tenar dimanfaatkan untuk meraih suara dalam pemilu.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Senin, 11 Feb 2019 17:32 WIB
Orang bola di lapangan pemilu

Lama tak terdengar namanya di dunia sepak bola nasional, Budi “Ular Piton” Sudarsono muncul sebagai calon legislatif. Mantan striker yang jadi topskor di Piala AFF 2008 tersebut, maju sebagai caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk daerah pemilihan I Kabupaten Kediri.

Kediri memang bukan kota asing untuknya. Selain memang dilahirkan di sana, dia sempat membela Persik Kediri di Liga Indonesia pada 2005-2007 dan 2008-2009.

Dua senior Budi di timnas sepak bola Indonesia pun tercatat maju sebagai caleg. Mantan kiper Kurnia Sandy, yang pernah menjajal Liga Italia bersama Sampdoria terdaftar sebagai caleg Partai Amanat Nasional (PAN) dapil I Sidoarjo.

Satu nama lagi, Nil Maizar, yang pernah memperkuat timnas Indonesia pada 1990-1994 sebagai bek dan menjadi pelatih timnas pada 2012-2013, terdaftar menjadi caleg Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dapil II Sumatra Barat.

Di masa Orde Baru, sejumlah atlet pun masuk politik praktis. Pemain sepak bola terkenal yang pernah masuk lingkaran politik pada Pemilu 1987 adalah Soetjipto Soentoro. Saat itu, “Si Gareng”, julukan Soetjipto yang pernah menjadi penyerang lubang timnas Indonesia 1965-1970 menjadi juru kampanye Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Menurut buku Pemilihan Umum 1987 volume 19, Soetjipto dimanfaatkan sebagai perebut suara untuk partai berlambang kepala banteng. Dia pun duduk dalam kepemimpinan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI di bidang penelitian dan pengembangan (litbang).

Caleg PKI

Sama seperti artis, caleg mantan atlet terkenal diharapkan partai politik bisa mendulang suara agar melenggang ke parlemen. Terlebih pesepakbola, olahraga yang digandrungi publik. Memanfaatkan nama tenar seorang pesepakbola, sudah dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada Pemilu 1955.

Pemilu perdana di Indonesia tersebut diadakan dua tahap. Pertama, memilih anggota DPR pada 29 September 1955. Kedua, memilih anggota Konstituante pada 15 Desember 1955. Jumlah kursi DPR yang diperebutkan sebanyak 262. Sedangkan jumlah kursi Konstituante sebanyak 520.

Beberapa minggu sebelum hari pencoblosan, PKI sudah mengumumkan nama-nama caleg mereka yang akan bertarung masuk ke DPR di Harian Rakjat. Misalnya saja, Harian Rakjat edisi 27 September 1955, yang memajang foto, jabatan di dalam partai, aktivitas politik, dan pekerjaan calegnya dalam satu halaman penuh berudul “Tjalon-tjalon PKI dan orang-orang tak berpartai”.

Untuk menggaet pemilih, PKI juga mencantumkan dua nama pemain sepak bola nasional, yakni Ramlan dan Witarsa, yang diklaim sebagai caleg mereka. Pengumuman dua nama atlet “si kulit bundar” itu terdapat di halaman pertama Harian Rakjat edisi 29 September 1955, persis di hari pencoblosan.

Di dalam artikel pendek berjudul “PKI & sepakbola”, ada iming-iming menjadikan sepak bola Indonesia lebih baik, bila dua nama itu masuk parlemen. Disebutkan dalam artikel itu, jika tak lama lagi kesebelasan dari India, Uni Soviet, dan Hungaria akan datang ke Indonesia.

Kesebelasan tim nasional Indonesia saat melakukan uji coba di Belgrade, Uni Soviet, sekarang Serbia (Aneka,1 Februari 1957).

“Saudara tentu ingin kesebelasan nasional kita menang bukan? Dan di tempat saudara sepak bola maju pesat, tetapi lapangan bola kurang? Saudara jangan kecil hati, ada jalan pemecahannya. Jika saudara pilih calon-calon dari kalangan sepak bola, tentulah keadaan kesepakbolaan kita akan menjadi lebih baik,” tulis artikel di dalam Harian Rakjat, 29 September 1955.

Ramlan disebut sebagai kapten kesebelasan timnas saat melawan Salzburg (kesebelasan asal Austria), berposisi sebagai palang pintu (bek), dan bintang lapangan terbaik di Medan.

Witarsa disebut sebagai kanan luar (sayap kanan) yang paling cepat, cekatan, dan taktis. Selain itu, Witarsa disebut sebagai pemain muda yang masih banyak harapan, dan berkali-kali membela nama Indonesia.

Menurut majalah Aneka No.34, Tahun VII, 1 Februari 1957, Witarsa lahir di Soreang, Bandung pada 8 Oktober 1930. Pada 1949, dia menjadi pemain Persib Bandung. Witarsa memiliki kelebihan dalam bermain.

“Kelebihan Witarsa terutama pada lari-beloknya yang sangat gesit dan memberikan vorset yang sangat tepat ke muka gawang lawan, memberikan umpan kepada pemain dalam (gelandang) untuk mempergunakan kepalanya,” tulis Aneka, 1 Februari 1957.

Witarsa pernah membuat publik sepak bola tercengang. Sewaktu Persib mengalahkan Persis Solo 8-1, dia memborong 7 dari 8 gol Persib. Witarsa dan Ramlan sudah menjadi punggawa timnas sepak bola Indonesia sejak awal 1950-an.

Selain dua nama pemain sepak bola itu, ada satu nama lagi, yakni Jahja Jacub, yang disebut sebagai anggota Komisi Kesebelasan Nasional Indonesia. Dia juga merupakan redaktur khusus sepak bola di berbagai harian, yang menulis analisa pertandingan sepak bola.

“Saudara-saudara bisa memilih mereka sebagai anggota parlemen. Dalam daftar apa mereka tercantum? Dalam daftar PKI. Jangan lupa, tanda gambar PKI adalah palu-arit,” tulis artikel kecil dalam Harian Rakjat, 29 September 1955.

Nama diklaim?

Kurang lebih sebulan sebelum pencoblosan untuk memilih anggota Konstituante, awal November 1955, klub asal Uni Soviet, Lokomotif, datang ke Indonesia. Entah kedatangan mereka karena rayuan PKI atau bukan, yang jelas Harian Rakjat, koran yang terafiliasi dengan PKI, memberitakan dari awal mereka datang hingga mereka kembali ke Soviet.

PSSI A berhasil kalah dengan skor tak telak, hanya 1-3, melawan Lokomotif dari Uni Soviet. (Harian Rakjat, 25 November 1955).

Di Indonesia, Lokomotif bertanding dengan sejumlah klub dan tim nasional. Lawan pertama mereka, Persija, terjungkal dengan skor telak 0-5, kemasukan 3 gol dalam waktu 5 menit (Harian Rakjat, 7 November 1955).

Klub-klub berikutnya, dibantai Lokomotif. PSP Padang, dilumat 0-7 (Harian Rakjat, 11 November 1955), PSMS Medan digasak 0-9 (Harian Rakjat, 14 November 1955), PSSI B dibantai 0-9 (Harian Rakjat, 18 November 1955), dan Persebaya Surabaya kalah 0-4 (Harian Rakjat, 21 November 1955).

Perlawanan baru datang dari PSSI A alias timnas sepak bola senior Indonesia. Mereka mampu mencetak sebiji gol, meski kalah 1-3 (Harian Rakjat, 25 November 1955). Pada pertandingan ini, Ramlan tak main. Namun ada nama Witarsa, yang disebut-sebut sebagai bintang lapangan—bersama Saelan dan Lion Houw—pada laga itu.

Di sisi lain, dalam helatan Pemilu 1955, 4 partai politik besar menang, yakni Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Partai Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama, dan PKI. Partai-partai politik kecil di bawah mereka pun dapat kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Daftar nama-nama anggota DPR pada 1955. (Parlaung, Hasil Rakjat Memilih Tokoh-tokoh Parlemen Republik Indonesia (Hasil Pemilihan Umum Pertama 1955) (1956))

Menurut buku Pemilu Indonesia dalam Angka dan Fakta tahun 1955-1999, PNI mendapatkan 57 kursi, Masyumi 57 kursi, NU 45 kursi, PKI 39 kursi, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) 8 kursi, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 8 kursi, Partai Katolik 6 kursi, Partai Sosialis Indonesia (PSI) 5 kursi, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) 4 kursi, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) 4 kursi, Partai Murba 2 kursi, dan lain-lain 23 kursi.

Menariknya, merujuk buku Parlaung, Hasil Rakjat Memilih Tokoh-tokoh Parlemen Republik Indonesia (Hasil Pemilihan Umum Pertama 1955) (1956), dalam daftar nama yang melenggang ke DPR sebanyak 262 orang, tak ada nama dua punggawa timnas Indonesia, Ramlan dan Witarsa. Begitu pula Jacub Jahja, tak ada di tabel nama-nama anggota DPR yang sudah dilantik itu.

Ada tiga nama orang bola pada Pemilu 1955 yang diklaim sebagai calon legislatif mereka.

Bisa jadi, nama-nama orang bola tersebut diklaim PKI untuk meraih dukungan publik dan meraup suara di Pemilu 1955. Terlebih, setelah anggota DPR dan Konstituante dilantik, toh Witarsa masih bermain sebagai pesepakbola aktif. Dan, jika mereka sudah masuk DPR, buat apalagi mereka bermain sepak bola?