logo alinea.id logo alinea.id

Penangkapan kreator hoaks surat suara diapresiasi 

Hanya kurang dari sepekan, polisi berhasil menangkap kreator hoaks surat suara tercoblos.

Robi Ardianto
Robi Ardianto Rabu, 09 Jan 2019 14:49 WIB
Penangkapan kreator hoaks surat suara diapresiasi 

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI mengapresiasi reaksi cepat kepolisian dalam mengusut dan menangkap kreator konten hoaks 7 kontainer berisi 7 juta surat suara tercoblos di kolom Jokowi-Ma'ruf. 

"Saya belum dengar. Tetapi kalau memang sudah tertangkap, kami apresiasi apa yang sudah dilakukan kepolisian," kata Komisioner KPU, Evi Novida Ginting di Gedung KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (9/1). 

Sebelumnya, Karopenmas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyebut, kepolisian telah menangkap seorang pria berinisial BBP yang diduga sebagai pembuat rekaman suara hoaks surat suara tercoblos. BPP juga diketahui sebagai buzzer dalam kasus tersebut. 

Pengungkapan kasus hoaks surat suara, menurut Evi, penting bagi KPU untuk mencegah opini publik berkembang secara liar karena hoaks tersebut. "Kemudian, juga untuk memberikan efek jera kepada mereka yang suka membuat hoaks. Terlebih, hoaks yang berkaitan dengan pemilu," imbuhnya. 

Rekaman hoaks surat suara beredar di sejumlah media sosial dan grup WhatsApp pada Rabu (3/1). Dalam rekaman tersebut, disebutkan bahwa ada tujuh kontainer tiba di Tanjung Priuk dari Tiongkok yang berisi 7 juta surat suara tercoblos di kolom pasangan Jokowi-Ma'ruf. 

KPU mengecek langsung ke Tanjung Priuk untuk mengetahui kebenaran kabar tersebut. Ternyata, kabar tersebut hanya hoaks. KPU pun langsung melaporkan kasus penyebaran hoaks tersebut ke Bareskrim Polri, Kamis (4/1).

Evi menegaskan, KPU bakal menunggu hasil penyelidikan dari pihak kepolisian sebelum memutuskan langkah selanjutnya. "Kalau memang ada pidananya, tentu ini jadi bagian yang ditangani oleh Bawaslu dan Sentra Gakkumdu (yang menangani) soal pidana pemilu," katanya.

Apresiasi kepada kepolisian juga diutarakan Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Tb Ace Hasan Syadzily. "Hoaks merupakan tindakan kriminal yang berbahaya karena dapat menghasut, memfitnah, hingga memecah belah bangsa," sebutnya. 

Sponsored

Lebih jauh, Ace berharap, kepolisian juga bisa mengungkap aktor intelektual di balik pembuatan dan penyebaran narasi hoaks tersebut. "Hal tersebut tidak hanya membuat gaduh melainkan berpotensi mendegradasi kepercayaan masyarakat baik kepada KPU maupun pemerintah dalam penyelenggaraan Pemilu 2019," tegasnya. 

Intimidasi terhadap PPP dalam Pemilu 1977

Intimidasi terhadap PPP dalam Pemilu 1977

Senin, 25 Mar 2019 21:10 WIB
Kabar hoax yang meresahkan jelang Pemilu 1955

Kabar hoax yang meresahkan jelang Pemilu 1955

Senin, 25 Mar 2019 14:26 WIB
Friend Zone: Humor dan cinta sepasang sahabat

Friend Zone: Humor dan cinta sepasang sahabat

Sabtu, 23 Mar 2019 12:00 WIB