sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pencapresan Prabowo akan rugikan Anies dan untungkan Ganjar, berikut kalkulasinya

Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto, telah menyatakan kesiapannya untuk menjadi capres pada Pilpres 2024.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Kamis, 25 Agst 2022 09:59 WIB
Pencapresan Prabowo akan rugikan Anies dan untungkan Ganjar, berikut kalkulasinya

Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto, memastikan siap kembali maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, yang akan menjadi pertaruhan keempatnya. Langkah tersebut diyakini bakal menjegal Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memenangi kontestasi. 

Meskipun Anies kerap masuk ke dalam jajaran 3 tokoh dengan elektabilitas tertinggi, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, berpendapat, hal itu belum cukup membuat mulus jalannya menjadi calon presiden (capres) ataupun calon wakil presiden (cawapres). Pencapresan Prabowo justru bakal memuluskan langkah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

"Majunya Prabowo tentu saja menghambat ruang gerak Anies Baswedan. Anies belum tentu bisa mulus menjadi calon presiden maupun wakil presiden," ujar Ipang, sapaannya, kepada Alinea.id, Rabu (24/8).

Menurutnya, deklarasi Prabowo sebagai capres membuat Anies terganggu. Pangkalnya, ceruk segmen pemilih keduanya memiliki kesamaan. Artinya, kembali majunya nanti akan memberi "karpet merah" kepada Ganjar agar lebih mulus memenangi Pilpres 2024.

"Karena apa? Basis ceruk segmen Ganjar tetap tidak terbelah (straight ticket voting), semakin solid, dan bulat. Sementara, basis suara Anies dan Prabowo terbelah (split ticket voting)," jelasnya.

Berdasarkan data crosstab by column Voxpol Center Research and Consulting pada Maret 2022, ungkap Ipang, sebesar 55,9% pemilih Partai Gerindra bakal memilih Prabowo dan 44,7% lainnya mendukung Anies. Data ini menunjukkan, pemilih Partai Gerindra mengalami split ticket voting kepada Anies dan Prabowo secara signifikan.

Selain itu, majunya Prabowo juga makin membatasi kesempatan Anies untuk diusung sebagai capres oleh partai politik (parpol). Pangkalnya, kuota 20% parpol koalisi, yang merupakan syarat mengajukan pasangan capres-cawapres, akan menyulitkan secara matematika politik.

"Tidak mudah bagi Anies yang bukan kader parpol dan tidak punya partai. Dengan demikian, majunya Prabowo sebagai capres tentu saja semakin menutup ruang Anies untuk mendapatkan boarding pass dari partai politik," ungkapnya.

Sponsored

"Jadi, saya bisa maklum apa yang mendasari, melatarbelakangi, dan mengapa Prabowo ngotot banget maju sebagai capres," imbuh akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Kendati demikian, Ipang menilai, keputusan Prabowo tersebut juga belum tentu mulus memenangkan Pilpres 2024. Menurutnya, hal yang terpenting bagi Menteri Pertahanan (Menhan) itu bagaimana  memastikan elektabilitas Partai Gerindra sebab "Prabowo effect" disebutnya kuat ketimbang "Gerindra effect".

Berdasarkan pengalaman, terangnya, Partai Gerindra pernah merasakan keberkahan efek ekor jas (coattail effect) majunya Prabowo sebagai kandidat capres pada 2019 silam. Kala itu, perolehan suara Gerindra meningkat signifikan.

"Ini soal eksistensi dan masa depan partai Gerindra, apalagi pemilu kita serentak (concurrent) antara memilih partai dan memilih presiden. Sebuah keniscayaan kalau partai tidak mengusung kadernya maju sebagai capres. Kalaupun nantinya Prabowo  kalah atau menang, tetap Partai Gerindra yang menang banyak," paparnya.

Berita Lainnya
×
tekid