sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pengamat: Prabowo marah di Yogyakarta, hanya gimik

Sentimen negatif mendominasi sejumlah media massa soal kemarahan Prabowo di kampanye.

Pengamat: Prabowo marah di Yogyakarta, hanya gimik

Calon presiden Prabowo Subianto yang menunjukkan emosinya, kembali tertangkap kamera. Prabowo menggebrak podium saat berkampanye terbuka di Yogyakarta. 

Ini bukan pertama kali pertama Prabowo mengumbar kemarahannya di depan publik. Sebelumnya pada debat calon presiden (capres), Sabtu (30/3), Prabowo dengan suara tinggi menghardik para penonton yang menertawakannya, saat sedang memaparkan soal lemahnya ketahanan tentara. 

Kali ini, emosi Prabowo naik saat menyinggung elite di Stadion Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta. Kata capres nomor urut 02 ini, ia muak dengan elite-elite yang berada di Jakarta yang dianggap selalu berbohong kepada rakyat. 

Mantan Danjen Kopasus juga menyinggung soal BUMN yang merupakan kebanggaan bangsa, tapi saat ini sedang dirampok. Bahkan Prabowo sempat mengumpat ketika menyinggung soal temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal BUMN. 

Adegan menggebrak podium dimulai ketika Prabowo menyinggung Polri dan TNI yang dinilai membela antek asing. Prabowo terlihat emosional dan menggebrak podium hingga Amien Rais maju dan menenangkan Prabowo.  

Riset Alinea.id menunjukkan sentimen negatif mendominasi sejumlah berita soal kampanye Prabowo yang marah-marah saat kampanye. Sentimen negatif dari sejumlah media daerah dan media nasional secara persentase sebesar 50,82%. Sedangkan sentimen netral 25,41% dan sentimen negatif persentasenya 23,77%.

Media paling banyak menulis berita soal kemarahan Prabowo di kampanye Yogyakarta adalah Grup Tribun. Kemudian, Koran Bernas, Rakyat Merdeka Grup dan Harian Jogja.   

Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin menilai, seharusnya Prabowo menghindari adegan marah-marah. Sekesal apapun Prabowo terhadap kondisi bangsa, seharusnya, kata Ujang, dapat bersikap elegan. 

Sponsored

Ujang menambahkan ada dua kemungkinan penyebab kemarahan Prabowo. Pertama, faktor internal, yakni menganggap koalisi kurang solid.

Kedua, faktor eksternal yang menganggap pemerintah gagal seperti apa yang dipaparkan pada pidatonya. 

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Dian Fatwa yakin kemarahan Prabowo tidak akan mengurangi elektoralnya. Ia bahkan menilai kalau masyarakat saat ini pandai dan tidak terpengaruh dengan framing Prabowo, seolah-olah sebagai personal yang kerap marah-marah. 

"Tapi jika ada persoalan bangsa yang tidak terselesaikan, menurut saya, wajar. Lagipula Prabowo tidak menyerang pribadi seseorang," ucap Dian. 

Pakar semiotika ITB, Acep Iwan Saidi menambahkan, pidato Prabowo di Yogyakarta hampir sama dengan pidato di GBK. Kesamaannya antara lain:  struktur, diksi, dan intonasinya yang sama. 

"Prabowo sempat meminta izin maju geser tempat. Nah, dari situ terlihat sebetulnya kemarahan yang didesain," ungkap Acep.

Acep menduga, kemarahan Prabowo ada hubungannya dengan Jokowi. Sebab lawannya itu juga sempat marah di tempat yang sama dengan konteksnya soal serangan hoaks, sedangkan Prabowo marah soal kenegaraan.

Hanya saja, Acep menilai, emosi paslon 02 hanya gimik karena Prabowo ingin memelihara suasana tegang seperti saat kampanye di GBK.

Riset : Fultri Sri Ratu Handayani

Berita Lainnya