sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Perebutan pemilih gamang belum usai

Hasil sigi Polmark menyimpulkan terdapat 48% suara pemilih gamang yang bisa diperebutkan.

Rakhmad Hidayatulloh Permana Adi Suprayitno
Rakhmad Hidayatulloh Permana | Adi Suprayitno Rabu, 06 Mar 2019 18:30 WIB
Perebutan pemilih gamang belum usai
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 25773
Dirawat 17185
Meninggal 1573
Sembuh 7015

Elektabilitas pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf diprediksi bakal kian sulit dikejar oleh pasangan Prabowo-Sandi. Di papan survei sejumlah lembaga, Jokowi-Ma'ruf kokoh dengan elektabilitas rata-rata di atas 50%. 

Bahkan, dalam hasil survei yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Selasa (5/3), elektabilitas Jokowi-Ma'ruf melonjak cukup signifikan pascadebat kedua Pilpres 2019. Dari hasil sigi terakhir yang direkam dari 1.200 responden pada Februari, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf mencapai 58,7%. 

Survei serupa yang digelar LSI pada Januari mencatat elektabilitas pasangan petahana sebesar 54,8%. Artinya ada kenaikan hingga 3,9%. Di lain sisi, pasangan penantang turun tipis elektabilitasnya dari 31% pada Januari ke angka 30,9% pada Februari. 

 

Diakui pengamat politik Usep S Ahyar angka elektabilitas petahana tergolong aman. Namun demikian, bukan berarti pertarungan politik sudah selesai. Pasalnya, suara swing voters dan undecided voters masih terus diperebutkan.

"Saya kira belum selesai, jangan terlena. Di situ ada swing voters dan ada undecided voters yang tetap harus direbut. Jangan terlena juga menganggap ini sudah selesai. Harus dijaga jangan sampai berpindah," ujar Usep kepada Alinea.id di Jakarta, Rabu (6/3). 

Di survei terbaru LSI Denny JA, angka pemilih gamang saat ini tercatat hanya tinggal 9,9%. Pada Agustus 2018, gabungan pemilih mengambang dan yang belum menentukan pilihan versi LSI Denny JA mencapai 18,3%. 

Dijelaskan Usep, karakteristik pemilih gamang di kubu petahana ialah kaum rasional. Karena itu, mereka masih mungkin mengubah pilihan jika kubu penantang menawarkan kebijakan atau program-program baru yang jauh lebih menarik ketimbang yang ditawarkan Jokowi-Ma'ruf. "Kalau ada alternatif kebijakan, bisa berubah," imbuhnya. 

Sponsored

Di sisi lain, Usep mengatakan, para pemilih gamang di kubu 02 umumnya mengalirkan dukungan karena anjuran pemuka agama dan orang berpengaruh. Karakteristik pemilih gamang seperti ini umumnya hanya bisa dipengaruhi secara personal. "Pihak 01 ini canvasing, door to door, memberi klarifikasi untuk membangun citra," ujarnya. 

Jumlah pemilih gamang versi PolMark.

Berbarengan dengan rilis survei LSI, PolMark Indonesia juga merilis hasil survei terbaru mereka di Surabaya, Jawa Timur. Di papan survei PolMark, Jokowi unggul dengan elektabilitas 40,4% sedangkan Prabowo-Sandi hanya mengantongi 25,8% suara responden. 

Berbeda dengan survei LSI yang digelar setiap bulan, survei PolMark digelar pada periode Oktober 2018-Februari 2019 di 73 daerah pemilihan (dapil). Tak kurang dari 32.560 responden dilibatkan dalam survei tersebut. 

Meskipun unggul, Chief Executive Officer (CEO) PolMark Eep Saefulloh Fatah menyebut Jokowi-Ma'ruf belum aman. Pasalnya, jumlah pemilih yang mantap mendukung Jokowi-Ma'ruf dan menyatakan tak akan mengubah pilihannya hanya 31,5%. Sisanya menyatakan masih bisa mengubah pilihannya. 

Jika digabung dengan jumlah pemilih mengambang di kubu Prabowo dan angka pemilih yang belum menentukan pilihan, Eep mengklaim, masih ada 48% suara pemilih gamang yang bisa diperebutkan kedua paslon. 
  
"Kalau elektabilitasnya masih di bawah 50% itu belum angka aman. Kita bisa melihat petahana yang kalah pada Pilkada DKI Jakarta di 2012 dan 2017 silam. Masih sangat ketat. Masing-masing pasangan punya peluang untuk menang," ujar Eep. 

Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, Soekarwo mengakui angka pemilih yang belum menentukan pilihan masih lumayan tinggi. Namun, menurut dia, angkanya tak sebesar yang disimpulkan PolMark. "Enggak mungkin. Dari mana datanya itu? Paling hanya tinggal 12% saja," kata Pakde Karwo. 

Menurut mantan Gubernur Jatim itu, rendahnya angka undecided voters terlihat dari ramainya perang di media sosial antara kedua paslon. "Artinya orang wairnes (beda pilihan) tentang pilpres. Orang gegeran (saling bully) itu sudah memilih," katanya.

Pengaruh debat

Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Syadzily mengakui hasil debat kedua antara Jokowi dan Prabowo turut berpengaruh terhadap naiknya elektabilitas petahana di survei LSI. Menurut Ace, survei LSI dan debat menunjukkan publik mengapresiasi capaian pemerintah, khususnya di bidang ekonomi. 

"Pak Jokowi sangat menguasai masalah dengan menyampaikan capaian keberhasilan sementara Prabowo hanya bicara normatif dan banyak mengakui keberhasilannya Pak Jokowi dalam banyak hal," kata Ace. 

Meskipun unggul di pelbagai papan survei, Ace mengatakan, kubunya bakal memaksimalkan sisa 43 hari masa kampanye demi memastikan target kemenangan hingga 70%. Ace optimistis target itu bakal tercapai dengan kehadiran tiga kartu sakti Jokowi, yakni Kartu Sembako, KIP-Kuliah dan Kartu Prakerja.  

Terpisah, juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Suhud Alynudin mengaku tak terlalu khawatir meskipun elektabilitas pasangan jagoannya belum mampu menyalip Jokowi-Ma'ruf. 

"Angka swing voters masih tinggi dan melampaui selisih elektabilitas. Artinya, hasil akhir nanti sangat ditentukan oleh swing voters atau pemilih yang belum tentukan sikap," ujarnya. (Ant)

Cara berjuang masyarakat adat melawan Covid-19

Cara berjuang masyarakat adat melawan Covid-19

Jumat, 29 Mei 2020 16:49 WIB
Pandemi dan paras otoriter rezim Jokowi 

Pandemi dan paras otoriter rezim Jokowi 

Kamis, 28 Mei 2020 17:45 WIB
Berita Lainnya