logo alinea.id logo alinea.id

Pileg minim sorotan, revisi UU Pemilu digulirkan

Politikus Golkar Firman Soebagyo menilai pemilu serempak menyebabkan pileg minim sorotan.

Armidis
Armidis Selasa, 26 Mar 2019 18:01 WIB
Pileg minim sorotan, revisi UU Pemilu digulirkan

Politikus Partai Golkar Firman Soebagyo mengusulkan agar Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu (UU Pemilu) direvisi. Menurut dia, pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) yang berbarengan dengan pemilihan legislatif (pileg) sebagaimana diatur dalam UU Pemilu menyebabkan pileg minim sorotan. 

"Pemerintah maupun DPR agar ke depan bisa melakukan evaluasi dan revisi terhadap UU Pemilu dengan tidak menggabungkan lagi pileg dan pilpres secara serentak," ujar anggota Komisi II DPR RI Firman Soebagyo dalam siaran pers yang diterima Alinea.id di Jakarta, Selasa (26/3).

Menurut Firman, pelaksanaan pilpres dan pileg secara serempak menurunkan kualitas demokrasi. Perhatian publik terkuras oleh kontestasi pilpres sehingga kualitas calon legislatif terabaikan.

Padahal, lanjut Firman, posisi lembaga legislatif penting sebagai penyeimbang lembaga eksekutif dalam menentukan arah pembangunan nasional. Jika caleg yang terpilih kualitasnya rendah, ia khawatir, kepentingan rakyat bakal terabaikan. 

"Kita sudah melihat fenomena caleg-caleg sekarang yang susah terbawa arus dan tidak peduli akan pileg dan lebih  bersemangat untuk membela capres masing-masing. Ini semakin membuat sistem pemilu kali ini sudah sedemikian memprihatinkan," ujar dia.

Ia pun mengusulkan agar pileg dan pilpres dipisah. Pileg digelar lebih awal lalu diikuti dengan pemilu eksekutif. Dengan pemisahan itu, Firman optimistis, pemilu mampu melahirkan pemimpin-pemimpin dengan kualitas terbaik.

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Adi Prayitno sepakat pelaksanaan pemilu secara serempak berisiko. Salah satunya ialah caleg-caleg tidak maksimal dikenali publik. Parpol pun dalam situasi dilematis karena harus membagi fokus. 

"Itu dilemanya. Kalau fokus ke pileg pasti akan dikucilkan dari koalisi. Tapi kalau fokus koalisi maka suara partai bisa melorot," kata Adi.

Sponsored

Menurut Adi, partai-partai pengusung utama yang diuntungkan dengan pemilu serentak. Di pilpres kali ini misalnya, PDI-Perjuangan dan Gerindra mendapat efek ekor jas terbesar. "Yang menang banyak itu partai pengusung utama seperti Gerindra dan PDI-P," kata dia.

Jalan keluarnya, imbuh Adi, partai mesti memperkuat mesin partai untuk membagi fokus agar kedua hajatan itu bisa mendorong suntikan elektoral. "Calegnya juga harus jemput bola, datang dari rumah ke rumah untuk meyakinkan publik," ucap dia.

Namun demikian, Adi menilai, pemilu serentak juga punya sisi positif. Ambang batas parlemen sebesar 4% yang ditetapkan dalam UU Pemilu diprediksi bakal memangkas jumlah partai yang lolos ke Senayan.