sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pilpres 2024, Megawati dinilai hadapi dilema soal capres

Dilema ini muncul lantaran ada dua figur yang mungkin di calonkan PDIP.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Kamis, 17 Jun 2021 18:38 WIB
Pilpres 2024, Megawati dinilai hadapi dilema soal capres

Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, dinilai berada dalam posisi dilematis dalam menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpes) 2024. Ini terkait calon yang akan diusung, apakah Ketua DPP, Puan Maharani, atau Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo.

"Puan Maharani atau Ganjar Pranowo untuk Pilpres 2024? Memilih satu antara keduanya tetap membawa komplikasi," kata Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Adjie Alfaraby, dalam rilis hasil survei LSI pada Kamis (17/6).

LSI pun melakukan tiga simulasi untuk melihat peluang yang paling memungkinkan untuk dicalonkan Megawati sebagai queen maker pada pilpres mendatang. Terminologi queen maker mengacu pada jumlah kursi PDIP di DPR mengingat hanya partai banteng moncong putih yang mampu mengajukan calon presiden (capres) lantaran memiliki 185 anggota di parlemen.

Simulasi pertama, jika Puan Maharani sebagai capres, maka PDIP berisiko dapat dikalahkan. Alasannya, elektabilitas putri Megawati itu masih rendah (2%), padahal tingkat pengenalannya sudah 61%.

"Risiko capres PDIP dikalahkan, dan tak lagi mengontrol pemerintahan 2024-2029, jika Puan sebagai capres," ujarnya. Ini bisa berubah jika elektabilitas Puan sebagai capres di atas 25% pada setahun sebelum pilpres atau awal 2023.

Kedua, jika Puan jadi cawapres dan Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto, sebagai capres, maka PDIP justru memberi "panggung" bagi Gerindra menjadi partai terbesar dalam pemilu serentak.

"Capres yang terpilih besar kemungkinannya membawa partainya juga menjadi partai terbesar (coattail effect)," bebernya.

Ketiga, jika Puan Maharani sebagai cawapres dan tokoh lain yang populer menjadi capres asal bergabung dengan PDIP. Peluang ini memungkinkan, tetapi belum tentu capres tersebut bersedia apalagi jika memiliki komitmen dengan partai lain.

Sponsored

"Belum tentu elite PDIP menerima jika capres tersebut berlainan ideologi," ungkapnya.

SLI selanjutnya melakukan simulasi PDIP mencalonkan Ganjar Pranowo. Pertama, jika Ganjar menjadi capres. Ini lebih potensial lantaran elektabilitasnya jauh di atas Puan dengan 15,5% sekalipun tingkat pengenalannya hanya 59%.

"Per hari ini (Juni 2021, red), (elektabilitas) Ganjar hanya kalah dibanding Prabowo, bersaing dengan Anies Baswedan," kata Adjie.

Kedua, jika Ganjar maju, Megawati berisiko tersingkir dari kursi kepemimpinan PDIP. Pasalnya, dia berpotensi menjadi ketua umum berikutnya.

"Usia Megawati di tahun 2021 (adalah) 74 tahun. Sepuluh tahun lagi, Megawati sudah 84 tahun. Usia tidak bisa lagi dilawan Megawati," beber Adjie.

Ketiga, jika Ganjar presiden apalagi dua periode, maka potensial mematahkan trah Soekarno sebagai ketua umum PDIP. "Relakah Megawati atau Puan Maharani?" tandasnya.

Berita Lainnya