sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Saat Jokowi membawa Dilan ke ruang debat

Dilan yang dibawa Jokowi berbeda dengan Dilan-nya Pidi Baiq.

Eka Setiyaningsih Kudus Purnomo Wahidin
Eka Setiyaningsih | Kudus Purnomo Wahidin Minggu, 31 Mar 2019 06:22 WIB
Saat Jokowi membawa Dilan ke ruang debat

Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) membawa 'Dilan' ke ruang debat Pilpres 2019 di Hotel Shangri-La, Sabtu (30/3) malam. Namun, Dilan yang diutarakan capres petahana itu bukan merujuk pada tokoh rekaan dalam novel karya Pidi Baiq yang digandrungi generasi muda saat ini. 

Dilan Jokowi ialah akronim dari 'digital melayani'. 

"Ke depan diperlukan pemerintahan Dilan, digital melayani. Oleh sebab itu, diperlukan reformasi dalam pelayanan publik lewat elektronik," kata Jokowi saat memaparkan visi misi dalam debat bertema ideologi, pemerintahan, hubungan internasional serta pertahanan dan keamanan itu. 

Dilan kembali diulas Jokowi di segmen kedua. Jokowi menuturkan, jika memenangi pilpres, bakal melanjutkan reformasi pelayanan publik yang telah ia lakukan selama 4 tahun berkuasa, termasuk di antaranya memperkuat e-government dan memangkas jumlah lembaga. 

"Ke depan diperlukan pemerintahan Dilan, digital melayani. Karena yang dinamakan pelayanan bukan hanya melayani tapi kecepatan itu sangat penting," ujar mantan Wali Kota Solo itu saat beradu gagasan dengan Prabowo Subianto. 

Pakar komunikasi politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad mengatakan, Dilan yang diperkenalkan Jokowi di ruang debat tak sekadar program pemerintahan ke depan. Dilan Jokowi juga diluncurkan sebagai peluru elektoral menyasar audiens dari kalangan milenial. 

"Terminologi Dilan cukup populer dan lebih akrab di kalangan milenial matang. Kelompok tersebut saat ini (bersama dengan milenial muda) jumlahnya cukup besar dan menjadi pasar politik pemilih yang strategis," ujar Nyarwi saat dihubungi Alinea.id. 

Tahun ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI memperkirakan jumlah pemilih akan mencapai 196,5 juta. Persentase jumlah pemilih muda berkisar antara 30% hingga 35% dari total jumlah pemilih atau sekitar 60-70 juta orang. 

Sponsored

Meskipun berbau gimmick, menurut Nyarwi, dengan pemerintahan Dilan, Jokowi juga ingin menunjukkan kepada masyarakat rencana dia memodernisasi dan menyederhanakan sistem pelayanan publik dengan model digitalisasi. 

"Tak hanya sekedar memperkuat beragam jenis platform e-government yang ada. Namun juga mengedepankan aspek pelayanan publik. Poin terakhir ini yang tampaknya mau ditekankan," kata dia.  

Jokowi memang diketahui memiliki kedekatan dengan Dilan. Kali ini, Dilan yang dimaksud ialah tokoh rekaan Pidi Baiq yang populer itu. Citra sebagai Dilan sempat ditampilkan Jokowi saat blusukan dengan motor gede berbalut jaket jins. Foto dan video 'Dilan versi Jokowi' itu viral di media sosial beberapa waktu lalu. 

 

Dilan yang dalam novel Pidi Baiq digambarkan sebagai remaja sekolah menengah atas yang berandalan tapi romantis. Pada 2018, novel itu diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul sama Dilan 1990. Tokoh Dilan diperankan Iqbal Ramadhan. Filmnya laris manis. 

Sebelumnya, Jokowi mengakui sempat 'baper' karena Dilan 1990. Usai menonton film itu untuk perdana pada akhir Februari 2018, Jokowi mengatakan langsung kangen pada sang istri, Iriana Jokowi. "Sudah dua hari enggak ketemu. Ya, sudah (rindu)," kata Jokowi. 

Pakar gesture Monica Kumalasari mengatakan Jokowi sedang memainkan simbolisasi makna atau emblem. Emblem merupakan sebuah lambang atau gaya bahasa yang diintensikan menciptakan kesan mendalam kepada lawan atau audiens.

"Diksi Dilan yang disebut Pak Jokowi sangat menarik. Kita tahu Dilan sedang trending. Mungkin ini salah satu campaign dan strategi pihaknya untuk meninggalkan kesan yang lebih lama dan mudah diingat," kata Monica.