logo alinea.id logo alinea.id

Sayonara koalisi Prabowo-Sandi

Koalisi Indonesia Adil Makmur pengusung Prabowo-Sandi resmi bubar. Lantas, bagaimana masa depan partai-partai koalisi?

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Jumat, 28 Jun 2019 23:20 WIB
Sayonara koalisi Prabowo-Sandi

Koalisi Indonesia Adil Makmur pengusung Prabowo-Sandi resmi bubar. Lantas, bagaimana masa depan partai-partai koalisi?

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengembalikan mandat politik kepada masing-masing partai politik (parpol) pengusungnya dalam Pilpres 2019. Pengembalian mandat tersebut dilakukan usai Prabowo resmi membubarkan koalisi Indonesia Adil dan Makmur.

Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Ahmad Muzani, mengatakan alasan pengembalian mandat politik tersebut merupakan bukti Prabowo telah menghormati putusan Mahkam Konstitusi (MK). Bagi Prabowo, bagaimana pun keputusan MK harus dihormati karena bersifat final.

Ihwal arah politik parpol pendukungnya ke depan, dikatakan Muzani, Prabowo juga telah menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan masing-masing partai. Pasalnya, menurut dia, semua partai pasti memiliki pertimbangan dan cara berpikir yang beda, tidak berhak diintervensi satu sama lain.

"Oleh karena itu beliau menghormati semua dan mempersilakan kepada partai politik untuk mengambil keputusan dan langkah politik masing-masing," terang Muzani di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Jumat (27/6).

Kendati demikian, Prabowo yang menjabat sebagai Ketua Umum sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu berharap hubungan yang sudah terjalin antara koalisi Indonesia Adil dan Makmur ini dapat terus terjaga. 

Walaupun nantinya parpol koalisi berpisah, ia berharap akan ada langkah-langkah lain untuk membangkitkan kembali perjuangan yang telah dipupuk dalam koalisi.

Di luar hal-hal yang berbau formal atau pilihan politik, Prabowo ingin parpol koalisinya masih tetap mau berbicara dan berdiskusi pada momen atau forum-forum tertentu yang sifatnya informal. Misalnya, dalam sebuah forum yang disebutnya dengan coffee morning atau kaukus.

Sponsored

Menurut Muzani, sejatinya semua parpol koalisi telah menyepakati hal tersebut. Semuanya dilakukan demi bangsa dan agenda politik yang dapat menyejahterakan rakyat.

"Coffee morning atau kaukus yang akan terus menjadi forum bagi komunikasi bagi partai-partai yang pernah mengusung pasangan Prabowo-Sandi, termasuk para relawan yang pernah mendukung Prabowo-Sandi," ungkapnya.

Dikatakan Muzani, perjuangan untuk memajukan Indonesia masih harus dilakukan walau koalisi telah tidak ada. Prabowo, lanjut Muzani, menegaskan bahwa setiap partai harus bersatu baik dalam bekerja sama di dalam parlemen atau di luar itu demi kemajuan bangsa dan negara.

Untuk arah politik Gerindra sendiri, Muzani belum bisa membicarakan apakah tetap menjadi oposiai atau tidak. Pasalnya, hal itu belum menjadi bahasan dan akan dilakukan secara internal.

Sementara itu, Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso merasa kaget dengan keputusan pengembalian mandat yang dilakukan Prabowo. Akan tetapi, ia mengatakan, sejatinya hal tersebut memang dilakukan.

Menurut Priyo Budi, pertemuan parpol koalisi hari ini juga sebenarnya telah membicarakan arah koalisi secara tidak langsung. Dikatakannya, sempat ada perbincangan mengenai pembentukan oposisi yang konstruktif.

Bagi Priyo, menjadi oposisi yang konstruktif tidak kalah mulia dan terhormat dengan pilihan-pilihan lain. Semuanya diperlukan guna menjadi penyeimbang pemerintahan nantinya.

"Tapi obrolan ini masih dalam taraf cair, semua keputusan diserahkan kepada partai masing-masing. Kita tidak bisa memaksa," tegasnya.

Untuk diketahui, pada Jumat (28/9) parpol yang tergabung dalam koalisi Indonesia Adil dan Makmur melangsungkan pertemuan. Perbincangan mengenai koalisi dilakukan sejak pukul 14.30 WIB hingga 18.00 WIB.

Turut hadir dalam pertemuan ini petinggi-petinggi partai seperti Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan, Sekjen PAN Eddy Soeparno, Sekjen PKS Mustafa Kamal, Sekjen Berkarya Priyo Budi Santoso, dan Ketua Dewan Pertimbangan Berkarya Titiek Soeharto.