logo alinea.id logo alinea.id

Slank gandeng 100 seniman luncurkan video klip #BarengJokowi

Grup band Slank membuat video klip #BarengJokowi bersama 100 seniman dan akan menggelar konser akbar di Gelora Bung Karno.

Sukirno
Sukirno Sabtu, 16 Mar 2019 03:20 WIB
Slank gandeng 100 seniman luncurkan video klip #BarengJokowi

Grup band Slank kembali menunjukkan dukungan pada Pilpres 2019 dengan menggandeng 100 seniman, influencer, hingga budayawan, meluncurkan video klip #BarengJokowi.

Seperti pada Pilpres 2014, Slank bersama sejumlah musisi kala itu menggelar "Konser Salam Dua Jari" sebagai dukungan untuk pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.

Kali ini, Slank meluncurkan video klip #barengjokowi bersama 100 seniman, influencer, olahragawan serta budayawan sebagai bentuk selebrasi dan dukungan kepada calon presiden Joko Widodo yang juga penggemar Slank alias Slankers.

"Lagu itu adalah ajakan moral, mendukung lewat cara kami yaitu musik dan lirik. Ajakan moral itu untuk melupakan keributan. Kami ingin menjaga beliau agar tetap amanah. Lagunya sendiri gue yang bikin," kata Bimbim dalam jumpa pers di Markas Slank di Gang Potlot, Duren Tiga, Jakarta, Jumat (15/3).

Grup musik yang terdiri dari Bimbim, Kaka, Ivan dan Ridho itu mengatakan lagu #barengjokowi sebenarnya dibuat untuk mengajak masyarakat membuat perbedaan, menghapus permusuhan, dan rasa saling curiga.

Para seniman, influencer, olahragawan dan budayawan yang terlibat dalam video itu antara lain Addie MS, Cathy Sharon, Christine Hakim, Ida Royani, Desta, Inul Daratista, Iis Dahlia, Oppie Andaresta, Nia Dinata, Once Mekel, Prita Laura, Tompi, Glenn Fredly, Butet Kertarajasa dan lainnya.

"Kami tidak mendaftar teman-teman penyanyi siapa yang mau ikut dari jauh-jauh hari, tapi baru empat hari yang lalu. Kami sebarkan info siapa yang mau ikut, datang, dan langsung rekaman selama empat hari. Kami menolak teman-teman yang nyaleg, karena kami khawatir nanti tidak murni," ujar vokalis Slank Kaka.

Kaka menambahkan pihak-pihak yang terlibat dalam gerakan peluncuran video klip #barengjokowi itu tidak mendapatkan upah atau bayaran.

Sponsored

Grup musik berusia 35 tahun itu juga akan membawakan lagu itu dalam konser akbar di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta pada 13 April 2019 dengan sejumlah musisi yang terlibat di dalamnya.

Golput itu cemen

Sementara itu, grup musik Slank mengimbau para penggemarnya ataupun masyarakat lain di Indonesia untuk terlibat sebagai pemilih dalam Pemilu 2019 dan tidak menjadi golongan putih (golput).

"Zaman orba (orde baru), golput itu memang seksi. Ada kesan, 'Ini anak berani banget, ngelawan banget'. Sekarang, golput itu gue rasa cemen (cetek mental) banget, kok enggak berani bersikap," kata Bimbim.

Salah satu pendiri Slank itu mengatakan grupnya memang memilih untuk menjadi golput pada masa Orde Baru. Tapi, rezim itu telah berganti dan perjuangan yang dilakukan pun harus dengan jalan yang berbeda.

"Ada yang bilang, 'Gue mau kayak Slank aja ah, golput'. Dulu kami berhadapannya sama siapa, makanya kami golput," ujar drumer grup musik berusia 35 tahun itu.

Menurut Bimbim, masyarakat khususnya anak muda harus memiliki sikap. Keputusan untuk memilih dan terlibat dalam Pemilu 2019 berarti membantu Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.

"Sekarang kalau enggak bersikap itu apatis, enggak peduli dengan keadaan. Beda lah zaman dulu sama hari ini. Kita harus mencoba hidup pada era sekarang," ujarnya.

Saat bersamaan, tanda pagar #SlankMakanDuitRakyat bergema di Twitter hingga menjadi trending topic Indonesia. Sebabnya, Slank bakal menjadi pengisi acara dalam Apel Kebangsaan "Kita Merah Putih" di Semarang Jawa Tengah, Minggu (17/3).

Warganet menyoroti acara yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu menelan biaya senilai Rp18 miliar. Dijadwalkan, acara itu akan dihadiri oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. 

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah Achmad Rofai memastikan acara Apel Kebangsaan bertema "Kita Merah Putih" pada 17 Maret 2019 bukan kegiatan politik yang berkaitan dengan pemilihan umum.

"Kebetulan waktu yang dipilih itu mendekati Pemilu 2019, tapi ini tidak ada kaitannya sama sekali. Ini kegiatan nonpolitis dan semata-mata untuk membangkitkan semangat generasi muda tentang kebangsaan," katanya di Semarang.

Ia menyebutkan acara Apel Kebangsaan yang melibatkan semua elemen masyarakat dari 35 kabupaten/kota tersebut bebas dari atribut dan simbol partai politik maupun kandidat Pilpres.

"Acara steril dari semua atribut partai, peserta yang hadir akan menggunakan merah putih, baik itu bendera maupun ikat kepala, tidak ada atribut selain itu," ujarnya saat konferensi pers di kantor Badan Kesbangpol Jateng.

Guna mengantisipasi terjadinya berbagai bentuk pelanggaran aturan pemilu, Badan Kesbangpol Jateng telah berkoordinasi dengan jajaran Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu, termasuk mengerahkan petugas yang mengatur hal itu.

Sejumlah tokoh direncanakan mengisi orasi kebangsaan, yakni Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kiai Haji Maimoen Zubair, Habib Luthfi, Gus Muwafiq, KH Munif Zuhri, Mahfud MD, KH Ahmad Daroji, Uskup Rubiatmoko (Keuskupan Agung Semarang), Pendeta Eka Laksa (PGI), Nyoman Suraharta (PHDI), Go Boen Tjien (Matakin) dan Pujianto (Walubi).

"Tokoh-tokoh tersebut kita pilih karena komitmen dan perhatiannya pada pembangunan semangat nasionalisme dan kebangsaan. Seni dan budaya yang ditampilkan pun yang memperlihatkan keberagaman Indonesia," katanya. (Ant).