logo alinea.id logo alinea.id

Suara pemilih untuk PDI P berpeluang turun

PDI P dibayangi oleh aspek ekonomi yang menjadi indikator pemilih untuk setia pada partai.

Armidis
Armidis Rabu, 13 Mar 2019 10:31 WIB
Suara pemilih untuk PDI P berpeluang turun

Survei terbaru Voxpol Center Research and Consulting terkait partai politik yang sukses mencapai ambang batas 4% atau parliamentry threshold (PT) menempatkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) sebagai partai politik dengan raihan suara tertinggi. Meski begitu, posisi PDI P tidaklah aman dan berpeluang turun posisi. 

Pengamat sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai sebagai partai lama, tidak ada jaminan partai berlambang banteng tersebut menempati posisi teratas dalam pemilu 2019 mendatang. Sebab kata Ubedilah, PDI P sedang mengalami penurunan suara. 

"Secara sosiologis politik kecenderungannya PDI P turun suaranya pada pileg 2019 ini," ujar Ubed kepada Alinea.id.

Sebagai partai penguasa PDI Perjuangan dibayangi oleh aspek ekonomi yang menjadi indikator pemilih untuk setia pada partai. Janji politik yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak tidak tertunaikan.

Di sisi lain, Ketua DPP PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno menjelaskan akan ada langkah taktis partai agar keluar menjadi pemenang pemilu. Menurut Hendrawan, PDI P punya ideologi yang jelas sebagai pedoman bagi kader.

Penghayatan pada partai itu menjadi kunci elemen partai bergerak. Hasilnya, mesin politik berjalan efektif mengerek elektabilitas partai.

Anggota DPR  dari fraksi PDI Perjuangan itu menegaskan, seluruh kader diinstruksikan untuk memperbaiki citra partai. Dengan menampilkan wajah partai yang melayani, berdasar ideologi Pancasila dan semangat gotong royong. 

Hasil survei nasional Voxpol Center juga menunjukkan ada tujuh partai politik kemungkinan gagal melewati ambang batas PT, ada tiga partai lama dan empat partai baru kemungkinan tidak lolos ambang batas parlemen.

Sponsored

Rinciannya, Perindo hanya memperoleh angka sebesar 3,5%. Lalu, Hanura dengan persentase 1,1%, selanjutnya PBB sebesar 0,8%, disusul partai Berkarya sebesar 0,7%. PSI 0,5%, PKPI 0,4% dan Partai Garuda 0,3%.  

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal PBB Afriansyah Noor tetap optimistis bakal memperoleh suara. Keyakinan tersebut didasarkan kerja elemen PBB yang terukur.

"Insya Allah PBB akan lolos di atas 4% dan kami akan punya fraksi di DPR RI," kata Fery, sapaan akrab Afriansyah Noor.

Kunci perolehan suara, sambung Feri, terdapat pada kerja politik calon anggota legislatif. Peluang itu yang diupayakan caleg PBB untuk bekerja keras meyakinkan publik menjadi bagian dari pemilih PBB.

Untuk meyakinkan itu, caleg PBB diinstruksikan agar menjemput bola. Caleg yang menjadi tulang punggung partai, didorong mendatangi secara personal pemilih-pemilih di akar rumput 

Konsolidasi internal dan memerintahkan semua caleg turun ke dapil dan mensosialisasikan diri, memasang alat peraga kampanye (APK) dan door to door ke rumah penduduk memasang stiker pembelaan terhadap umat.

Feri menambahkan, kerja politik PBB berbeda dari kampanye-kampanye sebelumnya. Pada pemilu bulan mendatang, PBB juga menggarap potensi tambahan suara dari pemilih milenial.

"Kami lakukan kepada semua kelompok muslim yang memang mau membantu PBB serta massa pemilih milenial," kata Feri.

Direktur eksekutif Voxpol Pangi Syarwi Chaniago menyebut, keberadaan PBB kurang menguntungkan. Pangi menilai peluang PBB lolos dari ambang batas parlemen sangat rendah. Namun, terdapat peluang bagi partai untuk mengerek elektabilitasnya dari waktu yang tersisa.

"Kalau melihat survei Voxpol sulit, tipis kansnya, namun tetap dinamis. Bisa juga dibandingkan dengan beberapa lembaga survei elektabilitas partai lainnya," kata Pangi.