sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Survei Indikator: Elektabilitas Prabowo meroket, tetapi belum aman

Elektabilitas Ganjar Pranowo justru meningkat dan membayang-bayangi Prabowo.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Rabu, 25 Agst 2021 16:59 WIB
Survei Indikator: Elektabilitas Prabowo meroket, tetapi belum aman

Survei Indikator Politik Indonesia menyatakan, tingkat elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, berada di urutan tertinggi dengan 26,2%. Posisi Menteri Pertahanan itu dinilai belum aman untuk menduduki kursi presiden lantaran dibayang-bayangi dua nama di bawahnya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (20,8%) dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (15,5%).

"Kalau kita lihat di sini, elektabilitas Pak Prabowo Subianto menempati peringkat tertinggi 26,2% disusul Mas Ganjar 20,8%. Selisihnya tidak terlalu jauh. Kemudian disusul Mas Anies 15,5%," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, saat rilis survei secara daring, Rabu (25/8).

Di bawah ketiganya, ada nama Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dengan elektabilitas 5,7%; Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno (5,4%); dan Ketua Umum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (5,4%).

"Ridwan, Mas Sandi, AHY masih dalam margin of error sangat tipis," jelasnya.

Nama lain yang muncul adalah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa (2,6%); Menkopolhukam, Mahfud MD (1,9%); mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo (1,7%); Menteri BUMN, Erick Thohir (1,6%); Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian (1,3%). Selanjutnya, Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto (1,1%); Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (0,4%) dan Ketua DPR sekaligus politikus PDIP, Puan Maharani (0,4%).

Hal menarik dalam survei, kata Burhanuddin, tren naik-turunnya elektabilitas jika dibandingkan riset sebelumnya, April 2021. Prabowo, misalnya, elektabilitasnya naik dari 19,3% menjadi 26,2%.

Meski berada di dalam barisan pendukung pemerintah, sambung dia, biasanya mendapatkan keuntungan elektoral ketika kinerja presiden membaik. 

"Yang mendapat insentif elektoral dalam konteks pilpres, Pak Prabowo karena meski sudah bagian dari pemerintah, tapi masih dianggap sebagai tokoh yang berada di luar (pemerintah)," ungkapnya.

Sponsored

Selanjutnya, jika dibandingkan dengan dua kepala daerah lainnya, Anies dan Ridwan Kamil, elektabilitas Ganjar cenderung naik dari survei sebelumnya. Tingkat keterpilihannya naik dari 13,7% menjadi 20,8%.

Sementara itu, elektabilitas Anies turun dari 18,6% menjadi 15,5%. Demikian pula dengan elektabilitas Emil, sapaan Ridwan Kamil, dari 6,7% menjadi 5,7%.

"Ganjar juga naik. Apa yang menjelaskan bisa naik? Saya menduga drama antara Pak Bambang Pacul dengan Ganjar karena pada waktu April, tingkat keterkenalan hanya 13,37%. Drama itu justru jadi berkah bagi Mas Ganjar," urainya.

Efek baliho
Di sisi lain, pemasangan baliho dan spanduk membawa keberuntungan bagi Puan dan Airlangga mengingat popularitas keduanya kini tergerek. Hal berbeda dengan Muhaimin Iskandar lantaran elektabilitasnya stagnan.

Dalam catatan Burhanuddin, tingkat popularitas Puan tidak bergerak dari survei sebelumnya meskipun pemasangan baliho berefek positif.

"Efek baliho, spanduk itu tidak uniform, tidak seragam. Tapi ini masukan bagi Mbak Puan. Jadi bagaimana tingkat keterkenalan itu bersifat positif, afeksi bukan semata-mata pasang logo, tapi hal lain yang bisa meningkatkan sentimen positif terhadap Mba Puan," pungkasnya.

Berita Lainnya