sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Survei LSI: Dukungan 212 dan FPI justru gerus Prabowo-Sandi

LSI Denny JA menemukan hasil riset dukungan dari alumni 212 dan ormas FPI justru menggerus elektabilitas Prabowo-Sandi.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Selasa, 05 Mar 2019 20:02 WIB
Survei LSI: Dukungan 212 dan FPI justru gerus Prabowo-Sandi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23165
Dirawat 15870
Meninggal 1418
Sembuh 5877

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menemukan hasil riset dukungan dari alumni 212 dan ormas FPI justru menggerus elektabilitas Prabowo-Sandi.

Peneliti LSI Ardian Sopa mengatakan survei digelar pada periode 18-25 Februari 2019 melibatkan 1.200 responden. Metode yang digunakan multistage random sampling dengan teknik wawancara tatap muka. Batas galat di kisaran 2,9%. 

Dari temuan survei tersebut, terungkap dukungan dari kelompok alumni 212 dan Front Pembela Islam (FPI) justru menggerus elektabilitas paslon nomor 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kelompok minoritas dan muslim moderat menjadi semakin mendukung paslon nomor 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Menguatnya dukungan 212 dan FPI ke Prabowo-Sandi sejauh ini ternyata menurunkan dukungan di segmen pemilih minoritas dan muslim moderat," katanya dalam pemaparan hasil survei di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (5/3).

Ardian mengatakan, mengkristalnya dukungan minoritas terhadap Jokowi-Ma'ruf, juga lantaran menguatnya kelompok Islam yang mendukung Prabowo-Sandi. Kelompok muslim pendukung Prabowo-Sandi rata-rata berpandangan Indonesia harus seperti Timur Tengah. Kelompok ini mayoritas berasal dari FPI dan elemen 212.

Menurut dia, pemilih muslim telah terpecah berdasarkan orientasi politiknya. Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin unggul di pemilih muslim yang menginginkan Indonesia harus khas Pancasila, dengan raihan 57,2% berbanding 33,4% milik Prabowo-Sandi. "Populasinya sekitar 87,4%," katanya. 

Akan tetapi, Prabowo-Sandi itu unggul pada kategori pemilih muslim yang berpandangan Indonesia harus seperti Timur Tengah (Arab) dengan raihan sebesar 54,1% berbanding 45,9% milik Jokowi-Ma'ruf. "Tapi, populasinya hanya 3,5%," katanya.

Lebih jauh, Ardian menyimpulkan bahwa Jokowi-Maruf lebih didukung oleh pemilih muslim yang moderat. Sedangkan, Prabowo-Sandi lebih didukung oleh pemilih muslim yang konservatif alias yang berorientasi negara-negara Timur Tengah. "Yang umumnya dari kelompok FPI," urainya.

Sponsored

Dukungan ormas islam kepada Prabowo-Sandi. / LSI Denny JA

Dukungan ormas kepada Jokowi-Amin / LSI Denny JA

Secara keseluruhan, survei LSI juga mengungkap selama enam bulan masa kampanye berlangsung, Jokowi-Ma’ruf Amin masih unggul dari Prabowo-Sandi dengan raihan suara 55,7% berbanding 33,6% di segmen pemilih muslim.

“Jokowi-Ma’ruf masih menang dengan selisih dua digit di pemilih muslim yang memiliki populasi cukup besar yaitu 87,8%," ujarnya.

Kendati demikian, hasil itu tak bisa dilepaskan dari pendangan publik atas kondisi ekonomi era Jokowi. Sebab, jika diuraikan lebih dalam, pandangan ekonomi ternyata turut mempengaruhi keterpilihan pasangan calon di segmen pemilih muslim.

"Dari 71,0% yang mengatakan kondisi ekonomi baik itu 67,1% memilih Jokowi Maruf dan hanya 23,8% yang ke Prabawo-Sandi. Dari 24,9% yang mengatakan kondisi ekonomi buruk itu 63,7% mendukung Prabowo-Sandi dan 26,3% lainnya mendukung Jokowi-Ma'ruf. Artinya Jokowi-Ma'ruf unggul di segmen pemilih muslim yang menilai ekonomi baik. Sedangkan Prabowo-Sandi unggul di segmen pemilih muslim yang menilai ekonomi buruk," katanya.

Hal ini berbeda di segmen pemilih minoritas, Jokowi-Ma'ruf unggul telak dari Prabowo-Sandi dengan raihan suara 80,3% berbanding 11,6%. Sebab, baik kelompok minoritas yang memandang kondisi ekonomi baik ataupun buruk, sama-sama mendungkung Jokowi-Ma'ruf.

"Dari 85,0% yang mengatakan kondisi ekonomi baik 87,2%-nya mendukung Jokowi-Ma'ruf dan 7,2% ke Prabawo-Sandi. Sementara dari 9,5% yang menyatakan ekonomi buruk itu 50,0% ke Jokowi-Amin dan 42,9% ke Prabowo-Sandi," ungkapnya.

Dukungan pemilih muslim kepada paslon. / LSI Denny JA

Dukungan minoritas kepada pasangan calon. / LSI Denny JA

Pertarungan di kalangan ormas

Sementara itu, LSI Denny JA juga mengungkap adanya pergeseran dukungan yang mencolok kepada calon presiden pada kalangan organisasi kemasyarakatan (ormas), khususnya Nadhlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan FPI.

Ardian Sopa menyebutkan, ada dukungan yang cukup signifikan dari NU terhadap pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dengan raihan 64,1% berbanding 28,2% milik Prabowo-Sandi.

"Kalau kita lihat dari Agustus itu kalangan NU yang mendukung Jokowi Maruf itu 63,1% kemudian menurun di September jadi 55,3% lalu stagnan sampai Januari lalu pelan-pelan naik menjadi 64,1%. Perlu diketahui NU itu populasinya cukup besar ada sekitar 49,5%," urainya.

Sebaliknya, Prabowo-Sandi unggul dari petahana di kalangan pemilih Muhammadiyah dengan raihan sebesar 62,2% berbanding 33,3% untuk Jokowi-Ma'ruf.

"Dari base 4,3% ini, 62,2% itu ke Prabawo-Sandi dan 33,3% ke Jokowi Ma'ruf," ucapnya.

Tak hanya itu, keunggulan Prabowo-Sandi juga terlihat di pemilih unsur 212 dan FPI, dengan raihan sebesar 85,7% bagi Prabowo-Sandi dan 14,3% untuk Jokowi-Ma'ruf.

"Sementara di pemilih FPI Prabowo-Sandi menang 100% dari Jokowi. Tapi segmen pemilih ini populasinya kecil hanya sekitar 0,7% dan 0,4%," katanya.

Ardian menjelaskan, penyebab kecenderungan Muhammadiyah mendukung Prabowo-Sandi, tak bisa dilepaskan dari mengkristalnya dukungan NU ke Jokowi-Ma'ruf Amin. Sebab, tak dimungkiri kedua ormas ini memiliki kepentingan dan pilihan politik yang berbeda.

"Sebagaimana kita tahu bahwa dukungan pak Jokowi di NU lumayan mengkristal kemudian juga lumayan tinggi atau bahkan sangat tinggi, dengan keadaan ini pilihan buat Muhammadiyah ya pilih yang lainnya. Karena meskipun mereka juga sama-sama ormas Islam tapi ada pilihan politik yang berbeda sehingga trade off itu terjadi di situ. Jadi, kalau di sana ada NU ya sudah lah Muhammadiyah cari pilihan lain, ini sebetulnya soal kepentingan organisasi," katanya.

Tak hanya itu, Ardian pun melihat faktor ini juga dipengaruhi oleh elite kedua ormas tersebut, yang secara terang-terangan mendukung kedua pasangan calon.

"Intinya dalam kurun waktu 6 bulan, di pemilih muslim, dukungan atas Jokowi-Ma'ruf menurun di berbagai ormas Islam kecuali NU. Sedangkan Prabowo-Sandi meningkat di berbagai ormas Islam kecuali NU," katanya seraya menyimpulkan.

Berita Lainnya