logo alinea.id logo alinea.id

Survei SMRC: Tren suara Jokowi naik, Prabowo susut

Bila pemilihan presiden dilakukan pertengahan Maret, Jokowi-Ma'aruf Amin terpilih sebagai pasangan presiden dan wakil presiden.

Soraya Novika
Soraya Novika Minggu, 17 Mar 2019 18:13 WIB
Survei SMRC: Tren suara Jokowi naik, Prabowo susut

Rilis survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebut jarak perolehan suara antara pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo - Ma'aruf Amin dengan nomor 02 Prabowo Subianto dalam pertarungan pemilihan Presiden 2019-2024 semakin melebar. Secara persentase bahkan melampaui 25%.

"Bila pemilihan presiden dilakukan pada pertengahan Maret ini, hampir pasti Jokowi-Ma'aruf Amin terpilih sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024," ujar Direktur SMRC Djayadi Hanan di Kantor SMRC, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (17/3).

Berdasarkan survei nasional periode Februari-Maret 2019 yang dilakukan SMRC, dukungan kepada Jokowi-Ma'aruf Amin tercatat meningkat dari 54,9% pada Januari 2019 menjadi 57,6% pada Februari-Maret 2019.

Sebaliknya, dukungan kepada Prabowo-Sandiaga Uno susut dari 32,1% pada Januari 2019 menjadi 31,8% pada Februari-Maret 2019.

"Kenaikan dukungan ini berhubungan dengan optimisme masyarakat dengan kondisi ekonomi. Berikut juga kemampuan atau kinerja petahana memimpin Indonesia, penilaian masyarakat dari debat Pilpres. Serta ketidakpercayaan masyarakat terhadap berbagai berita bohong dan fitnah yang menyudutkan Jokowi," katanya.

Menurut hasil survei tersebut, terlihat sebanyak 71% responden mengaku sangat atau cukup puas terhadap kinerja petahana. Begitu juga dengan keyakinan warga akan kemampuan Jokowi memimpin bangsa mencapai sekitar 66%. Sementara itu, temuan kepuasan terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan menunjukkan skala positif. Hanya 18%-19% warga yang menyatakan ekonomi nasional dan ekonomi lebih buruk dari tahun lalu. 

Kecenderungan hasil survei juga menunjukkan rakyat Indonesia telah puas dengan kebijakan pemerintahan dalam sektor sosial-ekonomi dan keamanan, mulai dari sektor kesehatan, penanggulangan narkoba, ancaman teroris, hingga pembangunan infrastruktur, dan pengendalian nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS. 

Sedangkan yang masih menjadi bahan evaluasi adalah terkait kebutuhan pokok atau sembako. Demikian pula dengan persoalan lapangan kerja, pengangguran, pemerataan, dan kemiskinan yang sebagian besar menganggap sudah semakin tertanggulangi.

Sponsored

Faktor penting lainnya adalah hasil debat. Sebanyak 61% responden menganggap Jokowi lebih baik dari Prabowo Subianto pada debat Pilpres kedua kemarin. Sementara hanya 29% responden saja yang menilai Prabowo lebih baik. 

Selain itu, survei SMRC juga menujukkan sikap skeptis masyarakat terhadap berita dan informasi negatif tentang Jokowi terkait isu agama, etnis, apalagi isu komunisme.

"Masyarakat ternyata cukup selektif dan tidak menerima begitu saja berita negatif yang disiarkan tentang Jokowi. Hanya 6% warga yang percaya Jokowi terkait dengan PKI, sementara 73% tidak percaya, begitu pula terkait isu Jokowi anti-Islam pun hanya sekitar 6% warga yang memercayainya. Lalu, 76% menyatakan tidak percaya dan hanya 10% warga percaya Jokowi kaki tangan China, sementara 69% lainnya tidak percaya," ujarnya.

Survei ini dilakukan SMCR pada Februari- Maret 2019 terhadap 2820 responden di 34 provinsi yang terdiri dari Warga Negara Indonesia yang sudah memiliki hak pilih di Pilpres 2019 dengan metode multistage random sampling. 

Response rate atau responden yang dapat diwawancarai secara valid sebesar 2479 atau 88%, dengan margin of error rata-rata dari survei ini sebesar 2% dengan tingkat kepercayaan 95%.

‎Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin Abdul Kadir Karding mengaku optimistis dengan bekal hasil survei tersebut. Hasil tersebut katanya mengonfirmasi kerja Jokowi dan jajarannya sudah baik dan tepat sasaran. 

Akan tetapi, menurutnya, kenaikan persentase dukungan survei tersebut belumlah cukup bila dibandingkan dengan target internal koalisi TKN.

"Belum sesuai target, target kami itu di atas 60% atau 65%, jadi kita butuh kenaikan sekitar 6%-8% suara lagi, mengingat masih ada waktu sekitar 30 hari lagi, kami optimistis target itu mungkin kita raup," katanya.

Ia juga mengakui bahwa tantangan terbesar yang perlu dihadapi pihaknya adalah terkait isu-isu negatif yang menyerang personal Jokowi-Ma'aruf Amin.

"Tentu dari data yang ada ini kami secara jujur mengalami kewalahan dalam berita bohong terutama dalam hal isu identitas," ucapnya.

Mengurangi dampak tersebut, Karding menyatakan bahwa dalam kepemimpinan ke depan, selain fokus pada pembangunan ekonomi, pihaknya juga akan lebih fokus bekerja meredam isu-isu negatif tersebut.

"Dalam kepemimpinan ke depan, ini juga akan kita pertimbangkan untuk menjaga kestabilan sosial antar kita semua," tuturnya.