logo alinea.id logo alinea.id

Tomy Ristanto dan Balques Manisang, bersatu demi bangsa di debat pamungkas

Balques Manisang berasal dari tvOne. Sedangkan Tomy Ristanto merupakan jurnalis Net TV.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Sabtu, 13 Apr 2019 08:00 WIB
Tomy Ristanto dan Balques Manisang, bersatu demi bangsa di debat pamungkas

Debat kelima Pilpres 2019 akan berlangsung pada 13 April 2019 di Hotel Sultan, Jakarta. Debat pamungkas ini kembali menghadirkan dua pasangan kandidat, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Debat terakhir ini akan mengangkat tema ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, dan industri. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan dua jurnalis televisi, yakni Tomy Ristanto dan Balques Manisang sebagai moderator debat kali ini.

Bersatu dalam debat

Tomy Ristanto mengawali karier jurnalistiknya dari Metro TV. /instagram.com/tomrist_

Sama seperti moderator debat lainnya, Tomy dan Balques kaget dan sempat tak percaya saat mengetahui mereka ditunjuk sebagai pemandu debat kelima. Mereka merasa diberi kehormatan bisa memimpin debat calon pemimpin negeri lima tahun ke depan.

“Enggak menyangka, nama saya tiba-tiba muncul,” kata Tomy saat dihubungi reporter Alinea.id, Jumat (12/4).

Menurut pria kelahiran Lampung, 6 Maret 1982 ini, pencalonan namanya mengalami tarik-ulur. Tomy juga sempat dapat kabar kalau yang dipilih bukan namanya. Jurnalis Net TV ini mengatakan, setiap stasiun televisi hanya memperbolehkan mengusulkan dua nama jurnalisnya kepada KPU.

Balques pun merasakan hal yang sama seperti Tomy. Jurnalis tvOne ini mengatakan, sangat terhormat sekali dengan ditunjuk dirinya sebagai moderator. “Aku merasa menjadi bagian sangat kecil dari perhelatan ini,” ujarnya merendah, saat dihubungi, Jumat (12/4).

Sponsored

Menurutnya, ini akan menjadi salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang pengalamannya sebagai jurnalis televisi.

Mereka berdua mengaku, persiapan untuk menjadi moderator adalah saling berdiskusi, mulai dari diskusi terkait materi debat hingga kesenangan pribadi, seperti hobi.

“Jujur saja, kami baru benar-benar intens ngobrol itu tiga hari ini,” kata Balques.

Meski sudah mengenal Tomy selama bertahun-tahun saat bekerja di lapangan, perempuan lulusan London School of Public Relations Jakarta Jurusan Komunikasi Massa (2003-2007) ini mengaku baru benar-benar berkenalan secara dekat lima hari menjelang debat. Balques mengatakan, untuk menjalin kekompakan dengan Tomy, strategi lainnya adalah dengan berdoa.

“Jadi, saling menguatkan dengan doa saja. Meski kita sudah kenal 15 tahun sekali pun, kita enggak akan bisa memuaskan semua pihak. Karena mereka punya opini dan perspektif yang berbeda-beda,” ujarnya.

Sedangkan menurut Tomy, ia baru dekat dengan Balques pada hari Selasa lalu. “Iya baru aja kenalannya secara langsung sebenarnya, karena kan kita dari stasiun televisi yang berbeda. Sebelumnya hanya sapa-sapa saja,” tutur Tomy.

Untuk debat terakhir, Tomy menuturkan, posisinya dengan Balques berbeda dengan moderator debat sebelumnya. Sebab, sebelumnya duet moderator kerap datang dari perusahaan televisi yang sama, sehingga komunikasi sudah terjalin lama.

Punya hobi serupa

Balques Manisang sedang melakukan aktivitasnya sebagai jurnalis di tvOne. /instagram.com/balques_manisang

Meski datang dari stasiun televisi berbeda, keduanya sama-sama memiliki aktivitas lain di luar studio, yakni mengajar public speaking. Balques. Balques mengajar di sekolah public speaking Sepikul. Ia mengajar bersama beberapa presenter berita dari sejumlah stasiun televisi.

“Jadi, bareng-bareng sama teman-teman seprofesi. Membagi ilmu yang bermanfaat saja,” tutur perempuan yang beberapa kali terjun ke lapangan meliput bencana alam di Indonesia ini.

Sementara Tomy mengajar public speaking lepas. Selain itu, Tomy juga sempat menjadi dosen di Sekolah Tinggi Desain InterStudi dan Universitas Bakrie. Namun, karena aktivitasnya terlalu sibuk, ia meninggalkan profesinya sebagai pengajar di dua universitas tersebut.

“Beberapa semester ini off, karena kesibukan. Kasihan juga masiswanya. Sekarang kalau ada panggilan ngajar saja,” katanya.

Dalam mengajar, Tomy senang berbagi ilmu tentang public speaking dan menjadi reporter yang baik. Mereka juga punya hobi masing-masing. Tomy hobi lari dan main bulu tangkis. Akan tetapi belakangan, aktivitas berolahraganya itu pun tak bisa dilakukan rutin, karena kesibukannya sebagai jurnalis.

“Jurnalis kayak kita kan suka gitu, kadang fasilitasnya ada dari kantor, eh waktunya yang enggak ada,” katanya.

Sedangkan Balques punya hobi bermain basket. Hobinya ini sudah ia lakukan sejak duduk di bangku SMP. Jurnalis program invertigasi Fakta ini pun memiliki hobi menonton film. Ia menggemari film yang diadaptasi dari kisah nyata, dokumenter, dan sejarah.

Sama seperti Balques, Tomy pun suka menonton film. Baginya, selain mendapat hiburan, menonton film juga memberinya inspirasi. Genre film kesukaannya adalah drama. Menurutnya, film Children of Heaven (1997) merupakan film terbaik yang pernah ia tonton.

Film ini berkisah tentang seorang anak yang harus bergantian memakai sepatu dengan adiknya, karena ia menghilangkan sepatu adiknya.

Selain film, pria lulusan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta ini gemar membaca buku. Ia memiliki kewajiban membaca buku, minimal satu judul buku dalam sebulan. Buku-buku biografi, novel, dan motivasi jadi pilihan utamanya menambah wawasan.

“Tapi terkadang random juga sih sebenarnya. Terkadang kan lihat, buku ini kayaknya bagus, ya saya baca, atau novel ini bagus, saya baca juga,” kata Tomy.

Namun, pria yang mengawali karier jurnalistiknya di Metro TV dan Trans TV ini mengaku, memiliki banyak koleksi buku yang tak terbaca. Saking tertariknya dengan buku dan merasa buku itu bagus, ia membeli dan akhirnya menumpuk.

Baik Balques maupun Tomy berkomitmen memberikan sesuatu yang terbaik untuk jalannya debat bagi bangsa.

“Yang penting sih tahu porsinya. Ayo kita saling membantu saling mendukung. Karena intinya yang paling penting adalah sama-sama melakukan yang terbaik, tidak perlu saling menonjol,” ucapnya.

Di sisi lain, Balques mengatakan, saat ini hal yang harus dilakukan adalah menjaga netralitas dalam debat puncak. Kata Balques, mereka akan menanggalkan semua entitas perusahaan, dan membawa entitas yang berkontribusi bagi negara.