sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Faktor ulama jadi acuan warga NU Jawa Timur pilih PKB dan Demokrat

Jika pemilu sebelumnya mayoritas suara NU ada di PKB, saat ini mulai cair ke partai lain seperti Demokrat, PPP, Nasdem, Gerindra dan Golkar.

Adi Suprayitno
Adi Suprayitno Senin, 15 Apr 2019 20:56 WIB
Faktor ulama jadi acuan warga NU Jawa Timur pilih PKB dan Demokrat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Peta dukungan masyarakat Jawa Timur yang berasal dari jemaah Nadlatul Ulama akan dominan lebih banyak memilih dua partai politik, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrat. Faktor ulama menjadi salah satu acuan kaum nahdliyin untuk menentukan pilihannya itu. Demikian hasil survei yang dilakukan oleh The Republic Institute.

Peneliti dari The Republic Institute,  Sufyanto, mengatakan pihaknya melakukan survei tersebut selama lebih kurang tiga bulan terakhir. Adapun hasil survei ini menunjukkan ada perubahan signifikan terkait suara NU terhadap partai politik peserta pemilu legislatif tahun ini. 

“Ada pergeseran suara warga Nahdliyin tidak dominan pada satu parpol saja, tapi tersebar di beberapa partai politik,” kata Sufyanto saat dikonfirmasi di Jawa Timur pada Senin, (15/4).

Sufyanto menjelask, jika pada pemilu sebelumnya mayoritas suara NU ada di PKB, saat ini mulai cair ke partai lain. Itu seperti Partai Demokrat, PPP, Nasdem, Gerindra dan Golkar. Namun jika dikalkulasi secara keseluruhan, mayoritas suara NU lebih banyak condong ke PKB dan Demokrat. “

“Survei kami terakhir justru pemilih yang mengidentifikasi warga NU secara kultural pergeseran terbesar ke Demokrat dibanding ke parpol lain,” ujar Sufyanto.

Sufyanto menjelaskan, salah satu faktor yang menjadi alasan warga NU memilih PKB dan Demokrat karena banyaknya ulama dari pesantren menjadi caleg dari Partai Demokrat. Misalnya, Thoriq bin Ziyad atau Gus Thoriq yang mendaftarkan diri sebagai caleg Demokrat dari dapil Malang Raya untuk DPRD Provinsi Jatim. 

Kemudian ada nama Mujtahidur Ridho atau yang lebih dikenal Gus Edo. Edo merupakan keluarga dari Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Lalu ada Syarif Hidayatullah atau biasa disebut Gus Sentot. Berikutnya Gus Heri yang berasal dari Ponpes Darul Ulum Jombang. 

Kemudian di daerah tapal kuda ada nama KH Muzayyan dari Ponpes Badridduja, Kraksaan, Probolinggo yang maju untuk kursi DPR RI. Kemudian di Madura ada nama Ra Hasani Zubair yang juga ketua PC GP Ansor Bangkalan yang maju untuk kursi DPR RI dari Partai Demokrat. 

Sponsored

Selain itu, juga disebabkan adanya peranan Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, Soekarwo, yang mampu memikat suara NU dan kalangan pondok pesantren. Apalagi Soekarwo selama ini punya kedekatan khusus dengan kalangan Nahdliyin selama 10 tahun ketika menjadi gubernur Jawa Timur.

"Ini bisa membawa dampak pada suara Partai Demokrat,” ucap Sufyanto.

Tak hanya itu, posisi Partai Demokrat sebagai pengusung utama pemenangan Khofifah-Emil sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih cukup signifikan menambah suara kalangan warga NU ke partai berlambang Mercy tersebut.

 “Karena itu, data survei kami menunjukkan posisi Demokrat banyak didukung dari pemilih berlatar NU,” katanya.

Berita Lainnya