logo alinea.id logo alinea.id

YLKI: Visi misi bidang kesehatan cawapres masih sektoral 

Lebih kepada visi misi seorang menteri, bukan seorang cawapres.

Hermansah
Hermansah Senin, 18 Mar 2019 10:50 WIB
YLKI: Visi misi bidang kesehatan cawapres masih sektoral 

Dua cawapres telah selesai melakukan debat. Secara umum debat berjalan dengan baik, masing-masing cawapres juga telah memaparkan visi misinya. Kendati begitu, YLKI mencatat beberapa hal terkait debat tadi malam. 

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, mengatakan, visi misi yang disampaikan para paslon cawapres terlihat terlalu teknis, dan sektoral. "Lebih kepada visi misi seorang menteri, bukan seorang cawapres. Padahal persoalan yang ada harus disikapi dengan kebijakan yang komprehensif dan holistik," terang dia dalam keterangan tertulisnya.

YLKI juga menyayangkan wacana yang disampaikan keduanya terkait dengan persoalan BPJS Kesehatan dan stunting. Kedua paslon belum menonjolkan upaya preventif promotif secara serius, dan sistematis. Terbukti, para paslon tidak sedikitpun berbicara upaya pengendalian konsumsi tembakau.

Padahal baik stunting dan defisit BPJS Kesehatan sekalipun, sangat erat kaitannya dengan upaya preventif promotif, salah satunya adalah pengendalian konsumsi tembakau. 

"Benar stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis pada rumah tangga miskin. Tetapi asupan gizi yang kurang itu karena alokasi pendapatan rumah tangga miskin lebih banyak untuk membeli rokok, bukan untuk membeli lauk pauk," terang dia.

Terkait BPJS Kesehatan, defisit finansialnya juga banyak dipicu oleh penyakit tidak menular, seperti jantung koroner, stroke, hipertensi, dan gagal ginjal. Penyakit ini muncul karena faktor gaya hidup. Konsumsi rokok berkontribusi paling signifikan atas munculnya penyakit tersebut.

Itulah sebabnya YLKI mempertanyakan dengan keras para paslon tidak menjadikan upaya preventif promotif berupa wabah konsumsi rokok sebagai agenda kebijakannya. "Ada kepentingan apa sehingga para cawapres tidak menyinggung upaya pengendalian konsumsi rokok? Aneh bin ajaib," tutur dia. 

Apalagi hasil Riskesdas 2018, prevalensi penyakit tidak menular justru melonjak drastis, dibandingkan prevalensi pada Riskesdas 2013.  Faktanya, prevalensi kanker dari semula sebesar 1,4% (2013) menjadi 1,8% (2018), prevalensi stroke dari 7% menjadi 10,9%, penyakit ginjal kronik dari 2% menjadi 3,8% dan penyakit diabetes melitus dari 6,9% menjadi 8,5%.

Sponsored

Dengan melihat visi misi kedua paslon tersebut, YLKI sangat meragukan masalah kesehatan secara holistis akan bisa diwujudkan dan diatasi. BPJS Kesehatan pun akan mengalami defisit finansial yang berkepanjangan.