close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Tim KKP meninjau dapur garam di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. dok. Satgas PRR/Antara Aceh/HO-Pemkab Pidie
icon caption
Tim KKP meninjau dapur garam di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. dok. Satgas PRR/Antara Aceh/HO-Pemkab Pidie
Peristiwa
Minggu, 04 Oktober 2026 19:17

Aceh pulihkan sentra garam terdampak bencana, 254 pelaku usaha terima manfaat

Dukungan diarahkan untuk membangun kembali sarana produksi sekaligus meningkatkan ketahanan usaha masyarakat terhadap cuaca ekstrem.
swipe

Pemerintah Aceh mengalokasikan anggaran lebih dari Rp5,1 miliar untuk memulihkan dan mengembangkan usaha garam rakyat yang terdampak bencana hidrometeorologi. Program tersebut menyasar 254 penerima manfaat di Kabupaten Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Timur.

Anggaran bersumber dari tambahan Transfer ke Daerah Tahun Anggaran 2026 melalui program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam rakyat. Dukungan diarahkan untuk membangun kembali sarana produksi sekaligus meningkatkan ketahanan usaha masyarakat terhadap cuaca ekstrem.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh Safrizal mengatakan program tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat perekonomian petambak garam dan mengurangi kerentanan usaha akibat bencana hidrometeorologi.

“Total pagu anggaran yang dialokasikan untuk program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam rakyat di Aceh mencapai lebih dari Rp5,1 miliar,” kata Safrizal di Banda Aceh.

Program mencakup pembangunan dapur dan tungku perebusan, tunnel garam berupa rumah kaca, serta penyediaan peralatan pendukung produksi. Infrastruktur tersebut diharapkan membantu masyarakat menjaga proses produksi ketika kondisi cuaca tidak mendukung pengolahan garam secara konvensional.

Kabupaten Bireuen memperoleh alokasi terbesar, yakni lebih dari Rp2,96 miliar. Anggaran digunakan untuk membangun rumah perebusan, tungku dapur, dan sarana produksi bagi 176 penerima manfaat yang tersebar di tiga desa di Kecamatan Jeunib serta tiga desa di Kecamatan Jangka.

Di Kabupaten Aceh Utara, anggaran sebesar Rp839,64 juta dialokasikan untuk pembangunan tunnel garam dan penyediaan peralatan produksi. Program tersebut menyasar 33 penerima manfaat yang tergabung dalam tiga kelompok di Kecamatan Dewantara, Lapang, dan Seunuddon.

Sementara itu, Kabupaten Aceh Timur memperoleh alokasi sekitar Rp1,29 miliar. Anggaran digunakan untuk membangun sarana perebusan, tunnel garam, dan peralatan pendukung bagi 45 penerima manfaat dalam empat kelompok di tiga gampong di Kecamatan Darul Aman.

Penyaluran anggaran secara terarah tersebut diharapkan tidak hanya mengganti sarana yang rusak, tetapi juga meningkatkan kemampuan produksi dan kualitas garam rakyat. Pemanfaatan rumah kaca dapat membantu proses pengeringan berlangsung lebih konsisten, sedangkan sarana perebusan dan peralatan pendukung memperkuat kesinambungan kegiatan produksi.

“Kami berharap program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam ini mampu menjaga kuantitas dan kualitas produksi secara berkelanjutan serta meningkatkan pendapatan petani garam,” ujar Safrizal.

Melalui pemulihan sarana produksi di tiga kabupaten, Pemerintah Aceh mendorong sentra garam rakyat kembali produktif dan lebih tangguh menghadapi perubahan cuaca.

img
Sahputra
Reporter
img
Sahputra
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan