close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
icon caption
Peristiwa
Selasa, 08 September 2026 15:24

Harga masker selalu melonjak saat krisis, ini penyebabnya

Lonjakan harga masker secara dramatis selalu berulang setiap kali bencana atau krisis kesehatan melanda.
swipe

Saat masuknya abu vulkanik tempo hari lalu ke dalam wilayah Jabodetabek, harga masker medis melambung hingga puluhan kali lipat secara mendadak. Pola ini sering kali terjadi ketika krisis kesehatan atau bencana lingkungan terjadi.

Tapi, apa faktor penyebab lonjakan yang terjadi secara tiba-tiba? Memahami akar penyebab kenaikan harga masker membantu masyarakat dan pemerintah mengambil langkah yang tepat dalam kombinasi regulasi pasar dan mitigasi rantai pasok untuk mencegah eksploitasi harga saat krisis berkembang. Simak penjelasan lebih lanjut, dilansir dari The World Economic Forum dan The Independent Panel (07/9).

Mengapa Harga Masker Meroket Saat Bencana?

Kebutuhan masker yang semula hanya menyasar fasilitas kesehatan mendadak menjadi kebutuhan primer bagi seluruh lapisan masyarakat. Produsen tidak mampu melipatgandakan kapasitas produksi pabrik secara instan untuk memenuhi lonjakan dalam waktu bersamaan.

Kepanikan massal mendorong konsumen membeli masker dalam jumlah yang melebihi kebutuhan wajar akibat rasa takut. Kondisi ini semakin memburuk ketika spekulan nakal secara sengaja menimbun stok demi memainkan harga dan meraup keuntungan sepihak.

Di samping itu, pabrik pembuatan masker sangat bergantung pada bahan baku khusus seperti kain nonwoven melt-blown. Ketika krisis global terjadi, harga bahan baku impor melonjak drastis dan biaya logistik pengiriman naik, sehingga produsen terpaksa menaikkan harga jual di tingkat konsumen.

Strategi Intervensi dan Solusi 

Berdasarkan World Economic Forum (2023), pemerintah wajib menetapkan HET atau Harga Eceran Tertinggi untuk alat kesehatan vital selama masa tanggap darurat serta menindak tegas oknum distributor atau pengecer yang terbukti menimbun barang dan mematok harga secara tidak wajar. 

Selain itu, kementerian terkait perlu mengandalkan produsen dalam negeri serta memberikan kemudahan izin produksi alat kesehatan saat krisis, sehingga cadangan logistik kesehatan dapat memadai untuk memastikan ketersediaan tanpa sepenuhnya bergantung pada rantai pasok impor.

Terlebih, otoritas kesehatan juga harus secara aktif memberikan panduan mengenai penggunaan jenis masker yang sesuai dengan tingkat risiko. Mengarahkan masyarakat umum untuk menggunakan masker kain yang dapat dicuci membantu menekan permintaan masker medis, sehingga stok tetap terjaga untuk tenaga medis. 

Membangun Resiliensi Pasar Alat Kesehatan

Menjaga keterjangkauan harga masker membutuhkan kerja sama yang erat antara pemerintah, produsen, dan distributor. Transparansi data pasokan menjadi fondasi utama untuk mencegah kepanikan dan spekulasi harga di pasar. 

Krisis memang memicu tekanan ekonomi yang berat, tetapi keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama melalui regulasi yang ketat dan kesadaran publik untuk tidak memberi secara berlebihan. Sehingga ketersediaan dengan harga wajar dapat terus terjaga. 

img
Shabrina Dwi Arsa
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan