Pemulihan sawah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Barat, Aceh, mulai memberikan hasil nyata. Setelah sempat turun menjadi sekitar 4 ton per hektare, produktivitas di sejumlah lahan yang telah dipulihkan kini kembali mencapai 6,2 hingga 7 ton per hektare.
Peningkatan tersebut merupakan hasil program optimalisasi lahan sawah rusak ringan seluas 1.308,44 hektare dengan dukungan APBN sebesar Rp6,018 miliar. Program ini diarahkan untuk mengembalikan fungsi lahan sekaligus membantu petani memulihkan produksi dan pendapatan mereka.
Optimalisasi melibatkan 96 kelompok tani dengan rata-rata progres fisik sekitar 80 persen. Sebanyak 47 kelompok telah menyelesaikan pengolahan tanah 100 persen, sedangkan 37 kelompok mencatat progres antara 50–99 persen dan 12 kelompok masih berada di bawah 50 persen.
Pemulihan lahan diperkuat melalui penyaluran 45.000 kilogram benih padi Inpari 32 kepada seluruh kelompok tani penerima. Dukungan pengolahan tanah dan benih membantu petani mempercepat penanaman hingga sebagian lahan kini telah memasuki fase panen.
Salah satu hasilnya terlihat di Kampung Pasi Aceh Baroh, Kecamatan Meureubo. Pada lahan terdampak seluas 10,64 hektare, produktivitas panen kembali mencapai 6,2–7 ton per hektare setelah sebelumnya mengalami penurunan akibat bencana.
“Sekarang sudah mulai 6,2 sampai 7 ton per hektare lagi di Kampung Pasi Aceh Baroh. Jadi, sudah normal kembali,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Barat Mahyudanil saat meninjau lokasi, Kamis (1/10/2026).
Kembalinya produktivitas tersebut dirasakan langsung oleh anggota Kelompok Tani Makmue Beusare. Sekretaris kelompok tani, Syamsul Bahri, mengatakan hasil panen mereka pada Agustus 2026 telah kembali mencapai 6,2 ton per hektare.
“Saat bencana hasilnya agak menurun. Namun, alhamdulillah setelah ada bantuan ini, hasil panen sudah normal kembali,” ujar Syamsul.
Menurut Syamsul, peningkatan hasil panen turut menggerakkan kembali perekonomian keluarga petani. Kondisi lahan yang semakin pulih juga menumbuhkan optimisme bahwa produktivitas pada musim tanam berikutnya dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan.
Perkembangan tersebut turut ditinjau Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera. Wakil Kepala Perencanaan, Pengendalian, Analisis, dan Evaluasi Satgas PRR Imran menilai capaian panen tersebut menunjukkan pemulihan sawah rusak ringan dan sedang berjalan positif.
“Kalau bisa mencapai 7 ton per hektare, itu sangat bagus untuk ukuran lahan yang baru selesai dipulihkan,” kata Imran.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat selanjutnya didorong menuntaskan optimalisasi seluruh lahan sebelum musim tanam berikutnya.