sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ancaman reshuffle, Gerindra: Pak Jokowi bersikap lebih tegas

Jokowi marah terhadap menteri-menterinya yang lamban bekerja saat pandemi.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Selasa, 30 Jun 2020 13:44 WIB
Ancaman <i>reshuffle</i>, Gerindra: Pak Jokowi bersikap lebih tegas
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, mengapresiasi rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencopot menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju yang kinerjanya lamban di tengah pandemi coronavirus baru (Covid-19). Bagi Sufmi Dasco langkah itu merupakan sikap tegas seorang pemimpin.

"Pak Jokowi ingin supaya seluruh kementerian itu memaksimalkan pengeluaran atau pendistribusian dana Covid-19 yang memang dianggarkan untuk masing-masing kementerian," ujar Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6).

Mengenai siapa saja yang masuk dalam catatan negatif Jokowi, Dasco tidak ingin ikut campur. Perombakan kabinet (reshuffle) menjadi sepenuhnya hak prerogatif presiden.

Dirinya juga tidak ingin berpendapat soal kemungkinan dua perwakilan Gerindra di kabinet, yakni Menteri Pertahanan Prabowo Subianto serta Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, akan dicopot. Dasco menyerahkan sepenuhnya kepada Jokowi untuk menilainya.

Sponsored

"Tapi komitmen Gerindra sendiri sebagai partai yang masuk dalam koalisi pemerintah sesuai arahan Pak Prabowo, kami bekerja maksimal dan mendukung pemerintah dan kerja-kerja taktis yang dilakukan di Kementerian Pertahanan maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)," tuturnya.

"Karena itu, sesuai hak prerogatif, biarlah Pak Presiden menilai apakah kementerian yang diberikan kepada Gerindra itu mempunyai nilai yang baik atau tidak," sambung Wakil Ketua DPR ini.

Saat Rapat Kabinet Paripurna pada 18 Juni 2020, Jokowi terlihat marah terhadap menteri-menterinya lantaran tidak maksimal bekerja di tengah pandemi. Dia pun mengancam akan mencopot pembantunya atau membubarkan lembaga negara jika tidak ada evaluasi dalam bekerja.

Berita Lainnya