sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Anggota DPD maklumi Ganjar bila hengkang dari PDIP

Ganjar dianggap sebagai tokoh senior PDIP yang semakin menyelami denyut kehidupan warga Jawa Tengah.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Senin, 21 Jun 2021 13:30 WIB
Anggota DPD maklumi Ganjar bila hengkang dari PDIP

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Abdul Rachman Thaha mengaku memahami jika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengambil resiko keluar dari PDI Perjuangan apabila mencalonkan diri sebagai presiden pada 2024.

Keberadaan partai politik, ujar Abdul, memang mutlak dalam demokrasi. Namun, ia juga memaklumi jika banyak kalangan menilai parpol justru jauh dari representasi kepentingan masyarakat.

"Juga, saya bisa maklum manakala politisi parpol dipandang lebih mewakili tuntutan partainya ketimbang memperjuangkan kepentingan masyarakat yang memberikan suaranya langsung di kotak suara," kata Abdul kepada Alinea.id, Senin (21/6).

Abdul mengatakan, dalam konteks itulah, dirinya turut berempati pada Ganjar Pranowo. Baginya, Ganjar memang tokoh senior di PDIP yang semakin menyelami denyut kehidupan warga Jawa Tengah yang dipimpinnya. Konsekuensinya, kata Abdul Ganjar menjadi kian berjarak dari partai yang menaunginya.

"Tampaknya ada keinsafan bulat pada diri Ganjar bahwa, dalam situasi harus memilih, dia pilih untuk mendahulukan warganya betapa pun itu menepikan partainya. Dan ketika parpol menjadi berang akibat polah Ganjar itu, maka pada detik itu pula sah bagi Ganjar untuk menyandang status sebagai anggota parpol yang menolak menjadi petugas parpol," ujar Abdul.

Menurut Abdul, idealisme semacam itu sesungguhnya bukan barang baru. Justru, kata Abdul, Ganjar sedang memperagakan Soekarnoisme sejati. "Bahwa, meskipun Soekarno adalah pendiri dan tokoh sentral PNI (Partai Nasional Indonesia), namun sebagai pemimpin nasional Bung Karno justru tidak memosisikan PNI sebagai partainya. Bung Karno bahkan kemudian malah berjarak dari partai yang dibentuknya. Begitu pula relasi Ganjar terhadap partainya," jelas Abdul.

Bedanya, sambung Abdul, PNI tidak pernah merasa kehilangan Soekarno. Sementara, PDIP justru seolah memandang Ganjar sebagai 'anak durhaka.' Tepatnya, kata Abdul, sebagai petugas yang membangkang terhadap titah panglimanya.

Abdul menjelaskan, dalam konteks pewaris pemimpin di PNI, Soekarno justru berharap tidak ada keturunannya yang menjadi pemimpin politik apalagi pemimpin negara. Kontras dengan itu, menurut Abdul, Ganjar disebut-sebut menjadi penghalang bagi rencana regenerasi kepemimpinan yang diinginkan partainya.

Sponsored

"Ringkasnya, Ganjar memang tidak mewarisi DNA Soekarno. Tapi sangat mungkin idealisme Bung Karno menitis ke dalam dirinya," beber Abdul.

Menurut Abdul, dengan predikat selaku anggota parpol yang menolak menjadi petugas parpol, Ganjar patut dikedepankan sebagai salah satu nama di barisan depan pemimpin Indonesia masa depan. Kata Abdul, Ganjar dia berpotensi kuat menjadi figur pendobrak kejumudan parpol dan pemecah kepengapan iklim berpartai yang kian dahsyat belakangan ini.

Berita Lainnya