sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bahaya Prabowo jadi Menhan bagi insan pers

Prabowo sempat mengajak publik tidak mempercayai media massa.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Selasa, 22 Okt 2019 19:41 WIB
Bahaya Prabowo jadi Menhan bagi insan pers
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan menyebut dipilihnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) potensial membahayakan bagi dunia pers.  

Berkaca pada perhelatan Pilpres 2019, menurut Manan, Prabowo kerap melontarkan pernyataan-pernyataan yang tidak bersahabat kepada media. 

"Dia melarang beberapa media dan tidak mau diwawancarai beberapa media, (misalnya) Jakarta Post," kata Manan di Jakarta, Selasa, (22/10).

Tak hanya mendiskreditkan media, Prabowo bahkan sempat meminta publik untuk tidak mempercayai media massa. Hal itu, menurut Manan, terlihat pada peristiwa reuni Persaudaraan Alumni (PA) 212. 

Ketika itu, Prabowo menyebut peserta aksi mencapai tujuh juta orang. Namun, media menyebut jumlah peserta aksi hanya ribuan. Prabowo pun menyebut media membohongi rakyat dalam pemberitaan terkait reuni 212. 

Dia khawatir, Prabowo bakal mempertahankan sikap seperti itu saat menjadi Menhan. "Apalagi, jadi Menteri Pertahanan. Akan berbahaya kalau dia, misalnya, kemarahannya itu tidak hanya disampaikan dengan lisan. Tapi, disampaikan dengan kebijakan. Meminta aparat penegak hukum misalnya, bertindak secara represif terhadap media," kata dia.

Tak hanya itu, menurut Manan, dipilihnya Prabowo sebagai Menhan juga berimplikasi buruk terhadap upaya pemerintah dalam menuntaskan kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di masa lalu. 

Manan mengatakan, publik sulit berharap pemerintahan Jokowi bisa menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu jika Prabowo ada di lingkaran kekuasaan. 

Sponsored

Apalagi, lanjut Manan, Prabowo kerap dikaitkan dengan kasus penculikan aktivis menjelang jatuhnya Orde Baru. "Dengan sedih harus dikatakan seperti itu. Tidak menggembirakan," ujar Manan. 

Usai bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/10) lalu, Prabowo mengatakan Gerindra diminta Jokowi bergabung ke koalisi parpol pendukung pemerintah. Ia pun mengaku diminta Jokowi membantu di bidang pertahanan. 

Berita Lainnya