sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bamsoet cs dinilai bakal kontrol Airlangga

Bamsoet dinilai mundur dari bursa caketum Golkar demi mencegah perpecahan.

Akbar Ridwan Marselinus Gual
Akbar Ridwan | Marselinus Gual Rabu, 04 Des 2019 19:29 WIB
Bamsoet cs dinilai bakal kontrol Airlangga

Peneliti Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menilai wajar Bambang Soesatyo (Bamsoet) mundur dari pencalonan sebagai ketua umum Partai Golkar. Menurut dia, jika diteruskan, persaingan antara Bamsoet dan calon petahana Airlangga Hartarto bisa berujung pada perpecahan. 

"Saya kira mereka (Bamsoet dan Airlangga Hartanto) belajar dari kasus sebelum-sebelumnya. Dalam munas sebelumnya muncul dua friksi itu yang secara lembaga merugikan buat Partai Golkar," ucap Saidiman di Jakarta, Rabu (4/12).

Golkar sempat terpecah pada 2016. Ketika itu, sejumlah kader di bawah pimpinan Agung Laksono menolak kepemimpinan Aburizal Bakrie di Golkar. Munas tandingan digelar. Dualisme kepengurusan tercipta. 

Sekalipun hampir dapat dipastikan kembali menjadi ujung tombak Golkar, menurut Saidiman, Airlangga tak bisa otoriter di partai berlambang pohon beringin itu. Kekuasaan Airlangga bakal dikontrol oleh kubu Bamsoet dan faksi-faksi di Golkar lainnya. 

"Kemungkinan besar dia terpilih kembali, tapi dia bukan penguasa partai secara utuh seperti di partai-partai lain. Dia bukan elite tunggal. Dia satu dari sekian banyak elite. Itu yang menarik. Jadi, ada elite-elite lain yang mengontrol dia," ujar Saidiman.

Dari total 9 bakal calon ketua umum Golkar, kini tinggal tersisa nama Airlangga Hartarto dan Ridwan Hisjam. Empat bakal caketum dinyatakan tidak lolos seleksi administrasi, yakni Derek Lopatty, Aris Mandji, Ali Yahya, serta Achmad Annama. Adapun tiga lainnya--Bamsoet, Agun Gunandjar Sudarsa, dan Indra Bambang Utoyo--mengundurkan diri dari pencalonan.

Saat memutuskan mundur, Bamsoet melempar syarat kepada Airlangga. Ia mengatakan, Airlangga harus mengakomodasi loyalisnya yang didepak dari kepengurusan Golkar dan tidak diberi jatah sebagai pimpinan alat kelengkapan dewan (AKD) di DPR.

Namun demikian, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto menepis syarat rekonsiliasi yang disampaikan Bamsoet. "Sekarang kan sama-sama pengurus. Kalau sama-sama pengurus kan tidak ada persoalan," kata Airlangga di sela-sela Munas X Golkar di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (4/12).

Sponsored

Bamsoet menyatakan mundur setelah bertemu Airlangga di kantor Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Pertemuan juga dihadiri sejumlah tokoh senior Golkar, seperti Abrurizal Bakrie, mantan Wapres Jusuf Kalla, Agung Laksono dan Menteri Luhut.

Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan, tidak ada kesepakatan yang tercipta dalam pertemuan. "Oh, tidak ada kesepakatan. Telah jelas bahwa Pak Airlangga telah serahkan Ketua MPR ke Pak Bambang. Soal lain-lain akan dibahas setelah munas," ujar dia.

Harus dirangkul 

Politikus senior Golkar Akbar Tanjung menyebut Airlangga perlu mengakomodir kubu Bamsoet di AKD. "Saya enggak tahu ada syarat-syarat itu. Tapi, sebaiknya dikasih tempat, dirangkul," kata Akbar di lokasi yang sama. 

Namun demikian, Akbar berpendapat, akomodasi bagi kubu Bamsoet harus mempertimbangkan sejumlah hal. "Tetapi, tetap saja ukurannya yang bersangkutan tepat atau tidak. Dalam konteks Golkar kan ada PDLT (prestasi, loyalitas, dedikasi, dan tak tercela)," ujar dia.