logo alinea.id logo alinea.id

Bamsoet: Golkar harus rebranding agar tak disebut partai jadul

Partai Golkar harus menyesuaikan diri terhadap tantangan jaman.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Senin, 05 Agst 2019 06:12 WIB
Bamsoet: Golkar harus rebranding agar tak disebut partai jadul

Wakil Koordinator bidang Pratama DPP Partai Golkar, Bambang Soesatyo, menilai sudah saatnya Golkar melakukan rebranding untuk menyesuaikan diri terhadap tantangan jaman. Ini perlu dilakukan agar Golkar dapat terus menerus melakukan akselerasi dan modernisasi.

“Dengan begitu, Partai Golkar bisa melepaskan diri dari stigma ‘Partai Jadul’ menjadi partai masa depan yang memberikan kebanggaan dan harapan bagi generasi milenial,” kata pria yang akrab disapa Bamsoet itu di Jakarta pada Minggu (5/8).

Bamsoet mengatakan, Partai Golkar harus merangkul semua golongan dan kelompok-kelompok kekuatan nasionalis yang saat ini ada di dalam generasi milenial. Karena itu, perlu cara baru untuk merancang pendekatan terhadap generasi milenial. 

"Karakter generasi milenial sudah banyak diulas. Jika Golkar ingin melakukan pendekatan kepada mereka, tentu saja pola pendekatannya berbeda dengan pola yang dulu digunakan oleh para perancang Sekber Golkar," kata Bamsoet. 

Dia menjelaskan, di masa lalu, Sekber Golkar berhasil mengakumulasi kekuatan yang bersumber dari ratusan organisasi yang kemudian dikelompokkan. Ada tujuh Kelompok Induk Organisasi (KINO), antara lain, Kosgoro, Soksi dan MKGR plus sejumlah organisasi kepemudaan dan keagamaan.

Bamsoet yang merupakan bakal calon Ketua Umum DPP Partai Golkar itu menilai peran strategis Golkar di masa lalu itu perlu dikedepankan lagi agar semua unsur keluarga besar Golkar paham, betapa bangsa dan negara sangat membutuhkan partai ini.

"Golkar adalah penjaga dan pengamal Pancasila serta UUD 1945. Golkar pun terbukti mampu menjalankan perannya sebagai perekat keberagaman bangsa," ujarnya.

Menurut dia, perkembangan zaman terus berubah, sehingga muncul pula tuntutan untuk mengubah pola pendekatan kepada komunitas untuk menjadi simpatisan partai politik.

Sponsored

Dia menilai, tantangan saat ini sama saja dengan masa lalu, yaitu menjaga dan mengamankan Pancasila serta UUD 1945, tetapi cara mengkomunikasikan serta merangkul milenial tentu harus disesuaikan dengan gaya kehidupan saat ini.

Menurut dia, tantangannya adalah kesungguhan untuk membangun komunikasi yang intens dengan milenial dan Golkar juga harus bisa beradaptasi dengan pola hidup generasi milenial.

"Pola lama dalam upaya merangkul konstituen atau simpatisan partai harus diubah, disesuaikan dengan perilaku dan budaya milenial," ujarnya.

Lebih lanjut, Bamsoet mengatakan Golkar menjadi kekuatan politik yang tidak terpisahkan dari eksistensi bangsa dan negara, sehingga karena panggilan sejarah, takdir itu harus diaktualisasikan lagi berdasarkan kehendak zaman.

Hal itu, menurut dia, termasuk menyatukan kembali berbagai kekuatan lama yang terserak menjadi satu kekuatan penuh, termasuk para purnawirawan dan keluarga TNI/Polri plus Satkar Ulama, MDI dan Al Hidayah yang selama ini jalan sendiri-sendiri. (Ant)