sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bamsoet ungkap alasan tarik ulur pencalonan Ketum Golkar

Bamsoet mengaku sempat bersikap pasif terkait pencalonannya sebagai Ketum Golkar.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Selasa, 12 Nov 2019 15:27 WIB
Bamsoet ungkap alasan tarik ulur pencalonan Ketum Golkar

Wakil Koordinator Bidang Pratama Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengaku tak pernah menyatakan tidak akan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Golkar. Ia mengaku sempat bersikap pasif terkait pencalonan karena khawatir pendukungnya dizalimi. 

"Saya sudah mengatakan belum memutuskan maju atau tidak. Tapi, belum tentu tidak maju," kata Bamsoet dalam diskusi publik bertajuk "Golkar Mencari Nakhoda Baru" yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (12/11).

Bamsoet sempat menyebut bakal 'cooling down' terkait pencalonan sebagai Ketum Golkar. Hal itu ia ungkapkan sebelum pemilihan Ketua MPR. Sejumlah loyalis kandidat petahana Ketum Golkar Airlangga Hartarto menyebut Bamsoet sepakat tak lagi mencalonkan diri dengan syarat diberi jatah kursi Ketua MPR.

Namun demikian, Bamsoet membantahnya. Menurut dia, panasnya rivalitas menjelang Musyarawah Nasional Golkarlah yang membuat dia harus mendinginkan suasana politik di internal partai. Ia mengibaratkan kontestasi politik jelang Munas Golkar seperti era kejatuhan Orde Baru. 

"Saya mengingat menjelang masa Reformasi, banyak larangan, ancaman, pemecatan. Harusnya demokrasi menghadirkan suatu kegembiraan dan persaingan yang sehat di antara kita sesama kader. Itulah yang bisa mendorong (kemajuan) sebuah organisasi," ujarnya.

Lebih jauh, Bamsoet mengingatkan agar proses pemilihan ketua umum harus digelar secara adil dan transparan. "Saya sudah menyatakan bahwa aklamasi dalam sebuah proses demokrasi dimungkinkan tercapai apabila prosesnya benar (dan) didukung sepenuhnya oleh pemilik suara. Tanpa ada rekayasa dan tekan-menekan. Apalagi, mengancam," tuturnya. 

Bamsoet kemudian menyinggung perpecahan di internal Golkar karena pemilihan ketua umum yang terjadi pada 2014 lalu. Ketika itu, Golkar pecah dan menggelar dua kali munas, yakni Munas Bali dan Munas Ancol, Jakarta.

Menurut dia, jika pemilihan ketum secara aklamasi diwarnai ancaman dan dilakukan secara tidak sehat, bukan tidak mungkin Golkar akan kembali pecah. "Ini yang kita sadari harus kita hindari. Bahwa pengelolaan partai bukan mengelola sebuah perusahaan yang harus tunduk dan maju asal digaji," kata dia. 

Sponsored