sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bayang-bayang Mega-Prabowo pada periode kedua Jokowi

Kemesraan Prabowo Subianto dan Megawati diperkirakan bakal membayang-bayangi periode kedua Presiden Joko Widodo.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Jumat, 18 Okt 2019 21:24 WIB
Bayang-bayang Mega-Prabowo pada periode kedua Jokowi

Kemesraan Prabowo Subianto dan Megawati diperkirakan bakal membayang-bayangi periode kedua Presiden Joko Widodo.

Analis geopolitik Global Future insitute (GFI) Hendrajit membaca peluang besar Partai Gerindra masuk ke koalisi pemerintah lantaran politik balas budi Megawati Soekarnoputri atas Prabowo Subianto. Peluang tersebut dapat dipastikan lantaran Megawati dan Prabowo memiliki janji dalam perjanjian Batu Tulis saat mereka sepakat maju bersama pada Pilpres 2009.

Menurut Hendarjit, lantaran Megawati memiliki sifat yang terbilang konsisten, ia ingin menjadikan pemerintahan 2019-2024 momentum besar untuk merealisasikan perjanjian Batu Tulis tersebut. Alasannya, selain janji politik, Megawati ingin agar pemerintahan Jokowi dapat aman sentosa.

Apalagi melihat tensi politik yang sudah amat mencemaskan. Ditambah elektabilitas Partai Gerindra dan ketokohan Prabowo semakin tinggi. Mau tidak mau, Megawati memang harus menggandeng Prabowo untuk mengamankan posisi PDI Perjuangan pada Pemilu 2024.

"Ini seperti 'bulan madu' yang sempat tak terlaksana di 'perkawinan' Mega-Pro di Pilpres 2009," kata Hendarjit dalam sebuah diskusi di Kedai Tempo, Jakarta, Jumat (18/10).

Berdasarkan analisanya, mengapa hal ini baru direalisasikan oleh Megawati sekarang, karena dalam Pilpres 2014 Megawati ingin meraih kekuasaan terlebih dahulu. Saat itu, Megawati lebih melihat figur Jokowi tepat untuk meraih kekuasaan lantaran elektabilitasnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan Prabowo.

Imbasnya, apa yang dipikirkan Megawati dapat terlaksana. Namun di sisi lain, Prabowo terlanjur sakit hati dan lebih memilih menjadi lawan.

"Jadi sebenarnya, Megawati itu belum ingkar janji. Dia hanya ingin melihat di momen apa perjanjian Batu Tulis dapat dibayarkan. Megawati itu sosok yang konsisten kalau kita lihat dari sikapnya sejak dulu," urainya.

Sponsored

Kendati demikian, momen 'bulan madu' ini secara tidak langsung akan menjadikan Jokowi- Ma'ruf Amin sekadar presiden dan wakil presiden bayangan semata. Secara dejure, Hendarjit menegaskan, presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 adalah Megawati dan Prabowo.

Jokowi, dalam hal ini berpotensi hanya akan menjadi eksekutor untuk agenda Mega-Pro 2009. Tentu, jika Jokowi menerima hal ini, kendali sepenuhnya akan berada di kedua sosok tersebut.

Namun demikian, jika Jokowi punya keberanian menolak, akan ada risistensi yang cukup keras dan dilematis bagi pemerintahan Jokowi. Sikap Jokowi akan hal ini bisa dilihat setelah pelantikannya pada 20 Oktober 2019 mendatang.

"Tapi sampai sekarang kita lihat, Jokowi ngikut aja tuh," tegas dia.

Terkait baik atau tidaknya keadaan ini, Hendarjit menerangkan tergantung apakah agenda politik Mega-Pro 2009 pro-rakyat atau tidak. 

Untuk diketahui, Megawati dan Prabowo memiliki perjanjian Batu Tulis yang mereka (Megawati dan Prabowo) teken bersama guna kesepakatan maju dalam Pilpres 2009. Perjanjian tersebut dibuat pada 16 Mei 2009 dengan tujuh poin kesepakatan.

Pertama, PDI Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindera) sepakat mencalonkan Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.

Kedua, Prabowo Subianto sebagai wakil presiden, jika terpilih, mendapat penugasan untuk mengendalikan program dan kebijakan kebangkitan ekonomi Indonesia yang berdasarkan azas berdiri di kaki sendiri, berdaulat di bidang politik, dan kepribadian nasional di bidang kebudayaan dalam kerangka sistem presidensial. Esensi kesepakatan ini akan disampaikan oleh Megawati Soekarnoputri pada saat pengumuman pencalonan calon presiden dan calon wakil presiden serta akan dituangkan lebih lanjut dalam produk hukum yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Ketiga, Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet. Berkaitan dengan penugasan pada butir 2 di atas, Prabowo Subianto menentukan nama-nama menteri yang terkait. Menteri-menteri tersebut adalah Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.

Keempat, Pemerintah yang terbentuk akan mendukung program kerakyatan PDI Perjuangan dan 8 (delapan) program aksi Partai Gerindera untuk kemakmuran rakyat.

Kelima, Pendanaan pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 ditanggung secara bersama-sama dengan persentase 50% dari pihak Megawati Soekarnoputri dan 50% dari pihak Prabowo Subianto.

Keenam, Tim sukses pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 dibentuk bersama-sama melibatkan kader-kader PDI Perjuangan dan Partai Gerindra serta unsur-unsur masyarakat.

Ketujuh, Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.

"Tentu dengan diplomasi-diplomasi baru kalau memang dijalankan sekarang. Intinya akan berdampak pada setiap kebijakan," tegasnya.