sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Cium sang Saka, putra pendiri DI/TII ikrarkan setia kepada NKRI

'Dulu berjuang itu pakai senjata, sekarang senjatanya enggak ada. Mau berjuang pakaia apa?'

Christian D Simbolon
Christian D Simbolon Selasa, 13 Agst 2019 16:19 WIB
Cium sang Saka, putra pendiri DI/TII ikrarkan setia kepada NKRI

Dipimpin putra Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, Sarjono Kartosuwiryo, sejumlah pentolan Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) mengikrarkan sumpah setia kepada NKRI. Pengucapan sumpah setia digelar di Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Jakarta, Selasa (13/8). 

Janji setia disimbolkan dengan gestur mencium bendera merah putih oleh Sarjono dan 14 rekannya. "Kami keluarga besar Harokah Islam beserta eks Darul Islam/Tentara Islam Indonesia dan eks Negara Islam Indonesia, bersama segenap pedukungnya, dengan ini berikar, satu, berpegang teguh kepada Pancasila dan UUD 1945," ucap Sarjono.

Sarjono mengatakan, niat mereka berikrar setia NKRI tulus. Ia menegaskan, tidak ada iming-iming dari pemerintah bagi mereka. "Enggak ada (yang dijanjikan pemerintah). Kita mah membela negara, mau janji enggak janji, enggak dibayar, enggak urusan. Tapi, saya perlu dengan negara ini," kata Sarjono usai pengucapan ikrar. 

Lebih jauh, ia mengatakan, ia dan rekan-rekannya bakal meyakinkan para pengikut gerakan DI/TII yang masih tersisa untuk kembali ke pangkuan NKRI.

"Ya, nanti kan kita ngobrol-ngobrol, Lebaran kita ketemu. Agustusan nanti kita ketemu ngobrol-ngobrol. Enak mana? Di hutan atau di sini (gedung)," katanya. 

Menurut Sarjono, para pengikut DI/TII yang masih tersisa sudah tidak lagi tinggal di hutan pasca-1962, tetapi sudah menyebar di berbagai daerah. "Mereka juga membayar pajak yang secara tidak langsung menunjukkan bukti kesetiaan terhadap NKRI," jelas dia. 

DI/TII didirikan Kartosuwiryo pada 1949. Gerakan itu lahir didasari keinginan Kartosuwiryo mendirikan negara berbasis Islam di Indonesia. Setelah mengobarkan pemberontakan di berbagai daerah, Kartosuwiryo ditangkap dan dieksekusi pada 1962. 

Sarjono mengatakan, ia tidak merasa mengkhianati perjuangan sang ayah karena berikrar setia tehadap Pancasila dan NKRI. "Setiap saat berubah-ubah perjuangan itu. Dulu berjuang itu pakai senjata, sekarang senjatanya enggak ada. Mau berjuang pakai apa?" katanya.

Sponsored

Di sisi lain, menurut dia, kontak senjata menyebabkan pertumpahan darah. "Justru menyisakan kesedihan atas nasib anak-anak yatim yang ditinggalkan," ujar dia. 

Selain di Jawa Barat sebagai basis perjuangan, pada 'masa jayanya', DI/TII menyebar hingga ke Jawa Tengah, Aceh, dan Kalimantan. Diperkirakan jumlah bekas anggota DI/TII mencapai 2 juta orang.

Meskipun organisasinya sudah habis dan tidak berfungsi, menurut Menko Polhukam Wiranto, ideologi DI/TII tetap menyebar di kalangan para pendukungnya.

Ideologi anti-Pancasila itu, lanjut Wiranto, menjadi embrio gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia. "Semua derivasi, turunan ideologi yang menentang Pancasila," katanya.

Karena itu, Wiranto mengaku, bangga Sarjono dan rekan-rekannya berinisiatif mengikrarkan diri setia pada NKRI. Ia berharap, langkah mereka diikuti para pengikut DI/TII lainnya. (Ant)