Politik / Koalisi Jokowi

Debat Capres-Cawapres pakai Bahasa Inggris melanggar UU?

Debat kandidat Capres-Cawapres pada Pilpres 2019 menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Arab, apakah melanggar Undang-undang?

Debat Capres-Cawapres pakai Bahasa Inggris melanggar UU? Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai ajakan debat Capres-Cawapres menggunakan Bahasa Inggris oleh tim kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno dinilai tersebut melanggar Undang-undang. / Antara Foto

Debat kandidat Capres-Cawapres pada Pilpres 2019 menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Arab, apakah melanggar Undang-undang?

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai ajakan debat Capres-Cawapres menggunakan Bahasa Inggris oleh tim kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno dinilai tersebut melanggar Undang-undang. 

Hasto beralasan, debat yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah bagian kegiatan kenegaraan. Sementara itu, kegiatan kenegaraan diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia. 

"Jadi usulan ini jelas melanggar Undang-undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Jadi kita mempertanyakan usul yang jelas jauh dari memperkuat semangat kebangsaan di tengah era globalisasi saat ini," sebut Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) tersebut melalui siaran pers, Jumat (14/9). 

Hasto menyatakan, PDI Perjuangan menanggapi serius terhadap usulan Tim Kampanye Prabowo-Sandi untuk mengadakan debat Capres dalam bahasa Inggris. Menurutnya, seluruh tim kampanye seharusnya menempatkan rasa cinta Tanah Air, kebanggaan terhadap jati diri dan kebudayaan bangsa, serta sejarah kemerdekaan bangsa sebagai hal prinsip yang tidak boleh dikalahkan hanya oleh ambisi kekuasaaan. 

Dia menjelaskan, sejarah mengajarkan bahwa bangsa Indonesia bersatu karena semangat kebangkitan nasional dan Sumpah Pemuda. "Kemudian, bagaimana mungkin semangat menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, kini direduksi sebagai sekedar ketrampilan berbahasa asing?" tanyanya.

PDI Perjuangan berpendapat bahwa usulan tim kampanye Prabowo-Sandi tersebut kontrapoduktif dengan semangat Sumpah Pemuda. "Apakah ini karena isu yang beredar bahwa Tim Kampanye Prabowo-Sandi di back-up oleh konsultan asing?," tanyanya. 

Untuk itu, pada era di mana kolaborasi dan persaingan antarbangsa terjadi sekaligus, setiap pemimpin negeri terlebih Capres dan Cawapres seharusnya kokoh dan bangga dengan identitas nasionalnya, bukannya menampilkan hal-hal yang justru menggerus nasionalisme kita.

Hasto pun mengajak, kepada seluruh elemen bangsa untuk memperkuat nasionalisme Indonesia, termasuk dalam era milenial saat ini. 

“Tim Kampanye Prabowo-Sandi belajarlah dengan Nadiem Makarim, Iman Usman, Belva Devara, Wishnutama, Erick Tohir dan tokoh-tokoh muda lainnya yang dengan caranya menunjukkan semangat bangga dengan Indonesia," ungkapnya. 


Berita Terkait