sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Demokrat pertanyakan konten 'marah-marah' Jokowi diumbar

Demokrat mengapresiasi sikap Jokowi meski dianggap banyak pihak terlambat.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Senin, 29 Jun 2020 17:22 WIB
Demokrat pertanyakan konten 'marah-marah' Jokowi diumbar
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengancam akan membubarkan lembaga negara atau bahkan melakukan reshuffle kabinet jika memang diperlukan untuk memulihkan ekonomi dan menangani Covid-19. Hal itu disampaikan Jokowi dalam pembukaan Sidang Kabinet Paripurna tanggal 18 Juni 2020.

Presiden pada kesempatan itu juga terlihat marah pada para pembantunya lantaran tidak maksimal bekerja di tengah pandemi Covid-19.

Merespons hal tersebut, Partai Demokrat mengapresiasi sikap mantan Wali Kota Solo itu. Meski dianggap banyak pihak terlambat menunjukkan ketegasannya, kemarahan Jokowi dirasa baik sebagai modal perbaikan ke depan.

"Itu tentunya baik untuk segera dilakukan perbaikan ke depan. Dari segi timing, banyak yang berpendapat terlambat. Namun, saya mengambil sisi positifnya, bahwa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," kata Kepala Badan Komunikasi Strategi (Bakomstra) DPP Partai Demokrat Ossy Dermawan lewat pesan tertulis, Senin (29/6).

Partai Demokrat juga tidak menyalahkan jika ada yang menilai bahwa kemarahan Jokowi merupakan pencitraan belaka. Pun dengan mereka yang menganggap sikap tersebut merupakan upaya Jokowi menimpakan kegagalan kepada bawahannya.

Ossy mengatakan, kecurigaan itu wajar muncul. Pasalnya, kemarahan Jokowi baru dikeluarkan ketika banyak kalangan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini.

"Namun, yang cukup menarik, mengapa konten 'marah-marah' kepada bawahan ini dikeluarkan kepada publik saat ini. Bagi saya, ini merupakan urusan dapur atau urusan internal Presiden beserta jajaran kabinetnya," ujar dia.

Sebelumnya, Presiden mengaku jengkel dan menyebut akan membubarkan lembaga atau bahkan melakukan reshuffle untuk memulihkan ekonomi dan menangani Covid-19.

Sponsored

"Bisa aja membubarkan lembaga, bisa aja reshuffle (merombak kabinet). Sudah kepikiran kemana-mana saya. Entah buat perppu yang lebih penting lagi, kalau memang diperlukan," kata Jokowi dalam video yang diunggah Biro Pers Setpres, Minggu (28/6).

Dia menegaskan akan mengambil langkah extraordinary untuk rakyat Indonesia dan untuk negara.

Jokowi mengingatkan kabinetnya bahwa mereka memiliki tanggung jawab terhadap 267 juta penduduk Indonesia. "Tolong digaris bawahi, dan perasaan itu tolong sama, kita sama. Ada perasaan sense of crisis yang sama," ujarnya.

Kepala Negara juga menekankan agar jangan mengganggap keadaan saat ini normal, termasuk bidang ekonomi. "Saya melihat masih banyak kita yang menganggap ini normal. Lha, kalau saya lihat bapak ibu dan saudara-saudara melihat ini sebagai sebuah masih normal, berbahaya sekali," ungkapnya dengan nada keras.

Dalam kondisi seperti saat ini, sambung dia, kinerja kabinet harus ekstra luar biasa. Termasuk tindakan dan kebijakan yang juga harus sesuai dengan suasana.

"Jangan kebijakan yang biasa-biasa saja, menganggap ini sebuah kenormalan, apa-apaan ini," ungkapnya.

Berita Lainnya