sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

DPR nilai Luhut tak punya empati bandingkan korban Covid-19 RI dengan AS

Pernyataan Luhut tidak layak disampaikan ke publik. 

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Rabu, 15 Apr 2020 16:42 WIB
DPR nilai Luhut tak punya empati bandingkan korban Covid-19 RI dengan AS
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 70736
Dirawat 34668
Meninggal 3417
Sembuh 32651

Anggota Komisi IX DPR, Saleh Partaonan Daulay menyayangkan pernyataan Menteri Koordinator Kearitiman dan Investasi (Kemenko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan yang terkesan meremehkan pandemi Covid-19 di Tanah Air.

Diketahui, Luhut mengatakan bahwa  jumlah pasien Covid-19 meninggal di Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pasien meninggal di Amerika Serikat (AS). 

“Pernyataan itu seakan tidak menyisakan empati dan simpati kepada keluarga korban. Belum lagi, ada puluhan dokter dan tenaga medis yang juga meninggal. Kasihan keluarganya jika mendengar pernyataan seperti ini," ungkap Saleh, Rabu (15/4).

Bagi Politikus PAN ini, pernyataan Luhut telah menentang amanat konstitusi, yang mengamanatkan agar negara bisa melindungi segenap tumpah darah tanah air, salah satunya dari wabah global ini.

Menurut Saleh, ada beberapa alasan mengapa pernyataan Luhut itu tidak layak disampaikan: 

Pertama, pemerintah seharusnya lebih berfokus untuk bekerja dengan cepat dan tepat memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ketimbang memperbanyak narasi.

Apalagi, tambah dia, narasi yang dibangun justru dapat menghilangkan simpati publik, atau bahkan menyinggung dan melukai sebagian orang.

“Pejabat negara harusnya hemat bicara. Karena jika ada yang tidak tepat, sulit untuk meluruskannya," ujar Saleh.

Sponsored

Kedua, data yang disampaikan pemerintah kemarin terkait data orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan yang positif sudah menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Apalagi sampai saat ini, vaksin dan obat terhadap penyakit ini belum ditemukan.

Berikutnya, sejauh ini masyarakat mengetahui bahwa pemerintah belum sepenuhnya mampu memenuhi semua kebutuhan alat kesehatan (alkes), obat, dan alat pelindung diri (APD) bagi rumah sakit dan seluruh tenaga medis.

Kalau memang jumlah 500 korban jiwa itu sedikit, Saleh menagatakan, mestinya seluruh kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan mudah, tidak perlu menjadi polemik dan kontroversi di publik.

“Kan tidak sinkron antara pernyataan itu dengan kebijakan yang diambil pemerintah. Berani gak pemerintah mendiamkan saja masalah ini? Tentu saja tidak. Itu artinya, pemerintah secara institusional menganggap persoalan ini serius," tambahnya.

Sebelumnya, Luhut menerangkan, jumlah yang meninggal di Indonesia karena virus Covid-19 lebih kecil dibandingkan dengan kasus serupa di Amerika.

Hal tersebut disampaikan Luhut ketika merespons pertanyaan soal penutupan operasional kereta rel listrik (KRL) Commuterline Jabodetabek dalam video conference di Jakarta, Selasa (14/4) malam. 

Saat itu, Menteri Perhubungan Ad Internim ini menyatakan, tidak menutup kemungkinan pembatasan atau penyetopan operasional KRL akan dilakukan. Namun sebelum itu, dirinya akan meninjau terlebih dahulu perkembangan Covid-19 dan dampak yang dirasakan.

Menurut Luhut, jumlah data yang meninggal dan sembuh akan menentukan kebijakan pemerintah pekan depan. Luhut menilai jumlah kasus kematian akibat Covid-19 di Tanah Air sendiri saat ini masih terbilang kecil dibandingkan dengan Amerika.

“Maaf, jumlah yang meninggal enggak sampai 500, padahal penduduk 270 juta, dan yang terinfeksi 4.000 lebih. Di AS, yang meninggal 22.000. Okelah kita mungkin kurang testing kit-nya. Sekarang pengkajian ini banyak uncertainty di tiap negara pun enggak ngerti. Kita harus cermat dan tidak grusa-grusu,” kata Luhut.

Berita Lainnya