logo alinea.id logo alinea.id

Elite Golkar diminta dewasa hadapi dinamika jelang munas

Kompetisi memperebutkan kursi ketua umum dikhawatirkan memecah belah Golkar.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Jumat, 30 Agst 2019 20:00 WIB
Elite Golkar diminta dewasa hadapi dinamika jelang munas

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi berharap elite-elite Partai Golkar dewasa menyikapi panasnya suhu politik di internal Golkar jelang musyawarah nasional (munas). Menurut dia, kompetisi memperebutkan kursi ketua umum tidak seharusnya membuat Golkar terpecah. 

"Munas Golkar pada Desember 2019 nanti jangan sampai menimbulkan perpecahan yang justru malah semakin melemahkan partai Golkar. Kalau misalnya tidak dewasa dan (yang kalah) membawa pendukungnya untuk membentuk partai baru, justru itu awal dari kehancuran Partai Golkar," tutur Burhanuddin kepada Alinea.id di Jakarta, Kamis (29/8).

 

Saat ini, sejumlah kader Golkar sudah menyatakan kesiapannya maju menjadi calon ketua umum di Munas Golkar, Desember mendatang. Selain petahana Airlangga Hartarto, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) digadang-gadang sebagai kandidat terkuat peraih kursi ketum. 

Menurut Burhanuddin, dukungan dari Presiden Joko Widodo bakal jadi salah satu faktor penentu siapa pemenang munas. Tinggal dicek saja di antara kedua nama ini. Jangan-jangan di luar nama ini muncul calon, yang detik-detik menjelang pemilihan itu, mendapatkan lirikan mata dari Istana. Nah, biasanya itu yang menang," ujar dia. 

Direktur Eksekutif Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik (PSDPP) Dedi Kurnia Syah mengatakan sulit memprediksi siapa yang akan duduk menjadi kursi ketua umum. Menurut dia, Bamsoet dan Airlangga mempunyai basis dukungan yang sama kuat.

"Airlangga punya loyalitas di beberapa kepengurusan daerah. Terlebih, ia masih menjadi ketua umum sehingga punya wewenang melakukan kontrol. Bamsoet juga terlihat kuat dengan dukungan DPD yang cukup seimbang dengan Airlangga," kata Dedi. 

Menurut Dedi, jika berhasil menjadwalkan munas pada akhir Desember sesuai keinginannya, Airlangga berpeluang menang. Namun, jika munas terjadi karena desakan kader, Dedi mengatakan, Bamsoet yang berpeluang lebih besar untuk menang.

Sponsored

DPP diminta gelar pleno 

Suhu politik di Golkar terus memanas setelah Bamsoet menuduh kubu Airlangga menghalangi para pendukungnya masuk ke kantor DPP Golkar di kawasan Slipi. Menurut dia, kantor DPP dijaga anggota Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), salah satu sayap partai Golkar. 

Selain itu, Bamsoet juga menuding Airlangga membiarkan kantor DPP menjadi sarang preman dan lokasi perjudian. Mengklaim mengantongi bukti, ia pun menuntut DPP Golkar segera menggelar rapat pleno untuk membicarakan hal tersebut.  

"Jalan keluar yang terbaik adalah mekanisme yang sudah ada di aturan anggaran rumah tangga. Rapat pleno, (lalu) pleno memutuskan rapimnas. Rapimnas memutuskan munas. Selesai," kata dia. 

Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan, Golkar pasti menggelar rapat pleno sebelum munas untuk mengevaluasi capaian kursi Golkar di parlemen. Namun, pihaknya masih menunggu penetapan resmi anggota DPR RI terpilih dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
 
DPP Golkar, lanjut Ace, juga masih menunggu laporan dari Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) yang ada di daerah-daerah sebelum menggelar rapat pleno. "Jadi, enggak ujug-ujug kita rapat pleno. Ada mekanisme yang harus dilalui," kata dia.