logo alinea.id logo alinea.id

Franz Magnis-Suseno: Masa depan bangsa ditentukan dari pemilu

“Kalau seseorang memang yakin bahwa kita perlu angin baru, atau tidak baik kalau Jokowi memimpin lagi, ya pilihlah Prabowo."

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Jumat, 22 Mar 2019 19:59 WIB
Franz Magnis-Suseno: Masa depan bangsa ditentukan dari pemilu

Ketika reporter Alinea.id menemuinya di ruang kerjanya di lantai 3 Gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta, Franz Magnis-Suseno masih disibukkan dengan catatan materi pengajaran filsafat. Selain mengajar, rohaniwan yang akrab disapa Romo Magnis ini juga sibuk memenuhi undangan sebagai pembicara membahas isu politik, pluralisme, toleransi, dan pemilu.

Anjuran memilih

Mengawali obrolan, ia meminta maaf atas tulisannya di rubrik opini surat kabar Kompas berjudul “Golput” yang terbit pada 12 Maret 2019. Tulisannya itu sudah terlanjur viral di media sosial, dan memicu kekesalan sejumlah pihak.

“Saya merasa salah. Saya kurang hati-hati. Saya terpesona dengan istilah-istilah itu,” kata pria kelahiran Polandia, yang sejak 1977 berkewarganegaraan Indonesia ini, saat berbincang dengan reporter Alinea.id, Senin (18/3).

Di dalam tulisannya itu, Romo Magnis memang terlampau keras. Ia menulis, mereka yang tak memberi suara dalam pemilu alias golongan putih (golput) sebagai orang bodoh, berwatak benalu, dan bermental tak stabil.

Romo Magnis menyadari, pemikiran sebagian masyarakat untuk golput didorong kekecewaan terhadap kinerja para wakil rakyat dan kepala negara. Kata dia, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) perlu mereformasi sistem kerja.

Segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan, seperti korupsi, menurut dia perlu diberantas. Romo Magnis lagi-lagi mengingatkan, hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 harus mendorong perbaikan kerja pemerintahan.

Sebagian rancangan undang-undang yang dihasilkan DPR, kata dia, bertentangan dengan semangat demokrasi dan hak menyatakan pendapat. Misalnya saja Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan, yang tak sejalan dengan kemauan para pelaku musik tanah air.

Selain itu, kasus-kasus hukum terkait pelanggaran atas Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), menurutnya, perlu ditinjau kembali.

“Kita memerlukan DPR yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Sesudah Pemilihan Umum 2019 ini, sudah sepatutnya diperjuangkan agar jangan kebebasan berdemokrasi itu dibatasi lagi,” ujar mantan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini.

Lebih lanjut, Romo Magnis mengatakan, keputusan politik di masa mendatang ditentukan dalam peristiwa pemilu. Maka, ia menyarankan agar setiap warga negara melakukan kewajiban etis untuk memberi suaranya pada Pemilu 2019, yang akan digelar pada 17 April nanti.

“Kalau seseorang mengatakan kedua pasangan itu sama buruk, dan dia tidak memilih, dia seperti masuk ke pojok dan menggerutu di situ,” tutur Romo Magnis.

Menurut hematnya, tak memberikan pilihan sangat tak relevan dan tak memberikan makna apapun bagi kemajuan bangsa. Ia menuturkan, keputusan memilih Joko Widodo atau Prabowo Subianto harus didasari rasa tanggung jawab.

Terlepas dari penilaian sebagian orang yang menganggap kedua calon presiden itu buruk, ia menyebut, setiap warga negara perlu memilih yang memiliki kekurangan paling sedikit.

“Kalau seseorang memang yakin bahwa kita perlu angin baru, atau tidak baik kalau Jokowi memimpin lagi, ya pilihlah Prabowo. Meskipun Prabowo tidak sepenuhnya memuaskan. Kita tidak memilih yang terbaik, tetapi sekurang-kurangnya mencegah yang terburuk,” ujarnya.

Romo Magnis menyarankan warga negara tetap menggunakan hak pilih dalam pemilu nanti. /Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Kembali ke Pancasila

Romo Magnis merasakan tak memperoleh manfaat dari acara debat pilpres yang sudah berlangsung sebanyak tiga kali. Menurutnya, mayoritas masyarakat yang menonton acara debat sekadar ingin melihat penampilan calon presiden dan calon wakil presiden.

Sebagai sumber informasi yang memandu pemikiran publik untuk menentukan pilihan, pengaruh debat menurut Romo Magnis sangat terbatas. Tak banyak mengubah pilihan publik.

“Saya merasa debat tidak terlalu informatif. Semua sangat beradab. Sangat tidak menarik,” kata dia.

Romo Magnis menyebut, calon pemimpin terbaik dan layak dipilih ialah yang bisa menjalankan tugas kepemimpinan sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Dalam konteks lebih luas, Romo Magnis menyatakan pentingnya mengingat konsesus Pancasila sebagai dasar negara.

Menurutnya, Pancasila menjamin setiap warga negara untuk saling menerima dan menghormati identitas kepercayaan masing-masing. Termasuk bahasa, suku, dan ras.

“Pancasila memungkinkan bahwa identitas Indonesia tidak menindas, tetapi melindungi dan mengangkat identitas masing-masing warga dari sedemikian banyak komunitas yang ada. Segala perbedaan etnik, budaya, dan agama dijamin kekhasannya,” tuturnya.

Hellboy: Film superhero dengan banyak lubang

Hellboy: Film superhero dengan banyak lubang

Sabtu, 20 Apr 2019 19:01 WIB
 Prabowo dan halusinasi kuasa

Prabowo dan halusinasi kuasa

Kamis, 18 Apr 2019 20:53 WIB