sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gelar profesor Megawati: Tidak ada makan siang gratis

Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri, dijadwalkan dianugerahi profesor kehormatan oleh Universitas Pertahanan (Unhan), lusa (11/6).

Marselinus Gual
Marselinus Gual Rabu, 09 Jun 2021 10:01 WIB
Gelar profesor Megawati: Tidak ada makan siang gratis

Universitas Pertahanan (Unhan) akan menganugerahi gelar Profesor Kehormatan dengan status Guru Besar Tidak Tetap untuk Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, dalam sidang senat terbuka pada Jumat (11/6).

Gelar profesor ini diberikan di tengah pembicaraan tentang kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 yang mulai menghangat, terutama isu duet lawas Megawati dan Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komaruddin, menyebut terdapat motif politik di balik pemberian gelar profesor kehormatan tersebut. Dirinya sangsi pemberian gelar dilakukan karena tujuan akademis.

"'Tidak ada makan siang yang gratis' di politik itu. Semua itu ada kalkulasi dan hitung-hitungannya agar Prabowo punya jasa terhadap Megawati," katanya ketika dihubungi Alinea.id, Selasa (8/6) malam.

Ujang menilai, gelar profesor dipakai Prabowo untuk kepentingan kontestasi Pemilu 2024. Dia mengaku memahami keresahan sejumlah akademisi yang mempertanyakan alasan Megawati diberikan gelar kehormatan itu lantaran bukan perkara mudah untuk meraihnya.

"Ini yang membuat ketidakadilan di dunia ini, termasuk dunia akademis. Itu yang membuat warga dan para akademisi marah," jelas dia.

Di sisi lain, dirinya pesimistis dengan wacana duet Megawati-Prabowo. Pangkalnya, duet tersebut takkan dilirik pemilih muda di Indonesia, yang diprediksi mencapai 60%.

Mega-Prabowo pernah berduet dalam Pilpres 2009. Namun, keduanya dikalahkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK).

Sponsored

"Kalau pasangannya Mega-Prabowo, saya yakin, itu enggak laku. Lawan politiknya pun akan mudah mengalahkan," katanya.

Kendati nama Prabowo kerap masuk dalam daftar calon presiden (capres) dengan elektabilitas tinggi, Ujang menilai, itu semata-mata karena ketua umum Partai Gerindra tersebut sudah dikenal publik. Pilpres 2024 akan menjadi pertaruhan keempat bagi Prabowo jika kembali maju.

"Sebagai pengamat pun saya memprediksi mereka akan mudah dikalahkan. Jadi, nama mereka disebut bukan karena terkait kinerja, tapi karena masih diingat publik saja," tandasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR, Ledia Hanifa Amaliah, enggan berkomentar banyak tentang gelar profesor kehormatan yang bakal diterima Megawati dari Unhan. Dirinya juga enggan mengomentari apakah jabatan ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) karena motif politik.

"Mestinya ditanya sama yang ngasihlah," ujar Ledia kepada Alinea pada kesempatan terpisah.

Berita Lainnya