Harap-harap cemas menanti pinangan Jokowi dan Prabowo

Sejumlah elit partai kian gencar melakukan lobby politik, agar dilirik capres Jokowi dan Prabowo.

Harap-harap cemas menanti pinangan Jokowi dan Prabowo Prabowo Subianto./ Antarafoto

Jelang pendaftaran calon presiden dan wakil presiden yang akan dimulai pada 4 Agustus nanti, sejumlah elit politik kian gencar bermanuver demi jagoan yang mereka usung. secara pribadi, beberapa tokoh bahkan terang-terangan menyatakan kesiapannya sebagai cawapres pendamping Jokowi atau Prabowo Subianto.

Meskipun sejumlah elit tebar pesona dan partai sibuk main mata, keduanya enggan memutuskan kandidat duet mereka lebih cepat.

Nir putusan ini membuat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus melakukan lobby politik agar kadernya segera dipinang Prabowo, capres yang mereka usung.

“Sampai saat ini posisi kita dengan Gerindra itu tahu sama tahu (TST), tapi Gerindra juga harus segera menetapkan siapa pendampingnya. Kita sudah menawarkan sembilan nama kepada Gerindra, di dalamnya ada banyak nama salah satunya ada Ahmad Heryawan yang punya segudang prestasi jadi Gubernur Jabar,” papar Ketua Departemen Politik PKS Pipin Sofyan, dalam diskusi bertajuk “Menanti Penantang Jokowi Sesungguhnya”, di Cikini, Jakarta, Jumat, (8/6).

Diskusi publik membahas kandidat pendamping Jokowi dan Prabowo, Jakarta, Jumat (8/6) (Kudus/ Alinea).

Tak hanya PKS, harap-harap cemas menunggu pinangan juga dirasakan pengurus Partai Bulan Bintang (PBB). Partai yang belakangan merapat pada Prabowo, pascarekomendasi Habib Rizieq ini juga berhasrat menjadikan ketua umumnya, Yusril Ihza Mahendra sebagai pendamping mantan suami Titik Soeharto tersebut.

“Melihat dinamika ini, pantas bagi PAN dan PKS untuk mencari calon yang layak adu dan layak menang. Itu memang tidak bergantung dari besar kecilnya partai, tapi yang memungkinkan menang karena didukung umat. Nah, jika mengacu pada hal itu, kita akan berpegang pada rekomendasi PA 212 yang mengusulkan Pak Yusril sebagai capres atau cawapres,” papar Politisi PBB Sukmo Harsono dalam diskusi yang dihelat asosiasi jurnalis UIN itu.

Lambatnya putusan siapa cawapres pendamping Prabowo, imbuhnya, disebabkan karena koalisi Gerindra masih menunggu dampak politis dari putusan Jokowi. Masalahnya, dari kubu Jokowi yang dikelilingi sejumlah nama beken, seperti Muhaimin Iskandar dan Airlangga, tetap belum menjatuhkan putusan.

Namun Sukmo menyarankan, sebaiknya PAN dan PKS bisa segera menentukan sikap, tanpa menunggu kubu Jokowi. Jika terus berlarat-larat, dikhawatirkan koalisi bisa terpecah sehingga berpotensi memunculkan poros ketiga.

"Katakanlah Pak Jokowi memilih Airlangga, sehingga bisa memicu PKB keluar dari koalisi. Andaikan Muhaimin yang dipilih Golkar pun bisa keluar, itu dapat membuka peluang lahinya poros ketiga,” papar Sukmo.

Menyikapi hal tersebut, juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dede Prayudi menyatakan, partainya tetap konsisten memenangkan Jokowi di pilpres mendatang, sekalipun Golkar dan PKB hengkang. Meskipun demikian, ia tetap berharap koalisi bisa solid hingga akhir nanti, dan Jokowi segera menjatuhkan putusan.

“Dari data rekomendasi kita, ya salah satunya itu Pak Airlangga, enggak ada Cak Imin, engak ada Romy,” pungkasnya.


Berita Terkait