sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kecil, peluang PDIP-Demokrat berkoalisi dalam Pilpres 2024

Belum tuntasnya konflik antara SBY dengan Megawati Soekarnoputri menjadi batu sandungan bagi PDIP dan Demokrat untuk berkoalisi.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Senin, 31 Mei 2021 10:39 WIB
Kecil, peluang PDIP-Demokrat berkoalisi dalam Pilpres 2024

Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Usni Hasanudin, menilai, peluang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrat berkoalisi dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Pangkalnya, masing-masing elitenya tidak harmonis akibat residu persaingan masa lalu.

"Apa saja bisa terjadi dalam politik, termasuk koalisi. Namun, persentase koalisi PDIP dengan Demokrat sangat kecil karena belum tuntasnya konflik Megawati dan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)," ujarnya saat dihubungi, Minggu (30/5) malam.

Perseteruan tersebut terjadi pada 2004 silam, menyusul majunya SBY dalam pilpres dan bersaing dengan Megawati Soekarnoputri. Padahal, Ketua Umum DPP PDIP menjadi petahana dan pendiri Demokrat itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan era Kabinet Gotong Royong.

Karenanya, Usni sependapat dengan pernyataan Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, tentang peluang partai banteng moncong putih bermitra dengan Demokrat dalam "kontestasi kotak suara". Namun, tidak dengan dalih memiliki platform berbeda.

"Keduanya, baik PDIP maupun Demokrat, sama-sama menjadi partai nasional. PDIP dan Demokrat bahkan memiliki karakter politik dan organisasi kepemimpinan serupa, personalisasi kekuasaan dalam partai yang sangat tinggi," jelasnya.

"Karena begitu mengagungkan elitenya, maka rekonsiliasi hubungan SBY dan Megawati menjadi kunci agar koalisi PDIP dan Demokrat berjalan mulus," sambungnya.

Dirinya mengingatkan, SBY dan Mega dapat kembali membangun kebersamaan apabila mengedepankan cara-cara berpolitik yang baik dan tekad memberikan pendidikan politik kepada publik.

"Dalam kondisi pandemi dan kemerosotan ekonomi seperti sekarang, dibutuhkan kedewasaan dalam berpolitik bukannya saling menyerang personal yang ujung-ujungnya hanya akan meningkatkan suhu politik," tandas Usni.

Sponsored
Ramai-ramai melepas jerat fast fashion

Ramai-ramai melepas jerat fast fashion

Sabtu, 12 Jun 2021 08:10 WIB
Pilu di balik pembatalan ibadah haji

Pilu di balik pembatalan ibadah haji

Jumat, 11 Jun 2021 07:19 WIB
Berita Lainnya