sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kiprah NU di Pilpres 2019 potensial diganjar kursi menteri

Jumlah pemilih dari kalangan NU yang mencoblos Jokowi-Ma'ruf naik 12%.

Achmad Al Fiqri Fadli Mubarok
Achmad Al Fiqri | Fadli Mubarok Jumat, 19 Jul 2019 20:22 WIB
Kiprah NU di Pilpres 2019 potensial diganjar kursi menteri

Nahdatul Ulama (NU) dinilai menjadi salah satu organisasi masyarakat (ormas) yang paling berperan dalam memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019. Menurut Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden, Juri Ardianto, posisi NU krusial dalam menentukan hasil akhir pilpres.

"Jadi sesuatu yang wajar jika TKN (Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf) melihat NU menjadi faktor yang sangat krusial (dalam pemenangan)," ujar Juri dalam diskusi di Hours Cafe, Jakarta Utara, Jumat (19/7).

Karena kiprahnya di Pilpres 2019, Juri mengatakan, tidak heran jika NU menginginkan jatah kursi menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf. Apalagi, NU juga memiliki agenda-agenda kebangsaan yang ingin mereka capai. 

Di sisi lain, lanjut Juri, Jokowi pun tidak akan rugi memilih kader NU sebagai pembatu di pemerintahannya ke depan. Namun, harus dipastikan agenda NU tidak kontradiktif dengan agenda nasional pemerintah. 

"Misalnya begini, agenda melawan radikalisasi agama, ekonomi, sosial, dan lain-lain. Melawan radikalisasi agama itu tidak hanya menjadi tugas kelompok agamawan, kiai, santri atau masyarakat, tetapi juga harus didukung oleh pemerintahan," kata dia. 

Senada, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, NU berjasa besar dalam mengantarakan Jokowi kembali mendudukki kursi RI 1. "NU dari sisi statistik menjadi kekuatan utama bagi siapapun yang mengikuti kompetisi elektoral," kata dia. 

Data exit poll Indikator Indonesia menunjukkan sebanyak 56% pemegang hak suara yang terafiliasi dengan NU memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf pada pemungutan suara 17 April lalu. Menurut Burhanuddin, angka tersebut naik 12% jika dibandingkan dengan Pemilu 2014.

Selain itu, kunci kemenangan Jokowi-Ma'ruf ditentukan faktor suara dari kalangan non-Muslim. "Sebanyak 97% pemilih non-Muslim itu memilih Jokowi. Itu berdasarkan exit poll Indikator," ujar Burhanuddin.

Sponsored

Burhanuddin mengatakan, raupan suara yang besar dari kalangan Muslim dan non-Muslim menunjukkan bahwa perilaku pemilih masih dipengaruhi oleh faktor-faktor sosiologis, semisal kedekatan dengan daerah, agama, etnis, dan kelas sosial. "Politik identitas lebih mengemuka," katanya.

Berita Lainnya