sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Konsep pertahanan Prabowo dinilai ketinggalan zaman 

Menyiapkan pasukan 'rakyat' sebagai kekuatan tambahan sudah tak lagi relevan di era digital.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Senin, 11 Nov 2019 17:59 WIB
Konsep pertahanan Prabowo dinilai ketinggalan zaman 

Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi menilai konsep pertahanan semesta yang dikemukakan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto ketinggalan zaman. Menurut Muradi, menyiapkan pasukan 'rakyat' untuk menghadapi kemungkinan terjadinya perang sudah tak lagi relevan di era digital. 

"Pertahanan semesta itu idenya terlalu konservatif. Karena tantangannya udah jauh dari itu. Bagaimana cara melawan, misalnya, perang rakyat semesta dengan model perang digital hari ini, cyber war. Artinya enggak mungkin dilakukan secara simultan," kata Muradi saat dihubungi Alinea.id di Jakarta, Senin (11/11).

Sebelumnya, Prabowo menekankan konsep pertahanan semesta dengan pembentukan komponen cadangan militer untuk menghadapi serangan yang mungkin dilancarakan oleh negara lain. Menurut dia, Indonesia sulit untuk mengalahkan negara lain dari sisi teknologi pertahanan. 

"Terus terang saja, pertahanan kita selama ini, selama sejarah dan saya kira sampai sekarang berlaku, dan mungkin kita akan teruskan adalah bahwa pertahanan kita harus mendasarkan dan kita gunakan adalah pertahanan rakyat semesta," ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi I di DPR, hari ini. 

Jika mengacu pada konsep itu, menurut Prabowo, Indonesia tidak akan jatuh ke negara lain jika diserang meskipun infrastruktur dan fasilitas publik hancur. "Saya yakin Indonesia tidak mungkin diduduki oleh bangsa lain karena seluruh rakyat akan menjadi komponen pertahanan negara ini," ujar mantan Danjen Kopassus itu. 

Terkait anggota komponen cadangan, Prabowo mengatakan, bisa direkrut dari berbagai sektor, semisal kalangan petani, nelayan, swasta, akademisi, partai politik, dan organisasi masyarakat. "Kita harus membangun komponen cadangan yang nyata, yang real, yang rasional," imbuhnya. 

Muradi mengaku belum tahu apakah komponen cadangan militer yang dimaksud Prabowo itu terkait program Bela Negara yang selama ini digaungkan Kemhan. Namun, ia menegaskan, konsep pertahanan semesta dengan mobilisasi massa tak relevan diaplikasikan menghadapi ancaman keamanan zaman kiwari, semisal proxy war atau cyber war

"Saya enggak tahu yang di kepala Pak Prabowo. Tapi, konsep yang diungkap Pak Prabowo udah out of date, soal perang rakyat semesta. Harusnya dia punya konsep baru. Bela negara itu basic training bagi warga negara. Semua warga negara boleh, wajib bela negara," katanya.

Sponsored

Lebih jauh, Muradi mengatakan, Prabowo seharusnya tak hanya sekadar fokus membangun komponen cadangan. Pasalnya, perang saat ini sudah bersifat tertutup dan mengandalkan kekuatan teknologi, bukan mobilisasi massa.

"Konsep pertahanan semesta harus dibayangkan lebih jauh dari itu. Jangan dibayangkan, misalnya, komponen cadangan dengan mobilisasi massa begitu. Karena 99% perang terbuka model dulu kecil sekali peluangnya (terjadi)," jelas Muradi.